(tak perlu) pertemuan


mungkin ada baiknya tidak memulai suatu hubungan atau pertemuan
daripada berujung dengan permusuhan
atau menimbulkan prasangka-prasangka buruk

tapi selalu ada alasan Tuhan mempertemukan
tugas kita hanya menyikapinya dengan baik
sebaik-baiknya hingga hilang kesan buruknya
sebaik-baiknya hingga tak habis rasa syukur

Why should be me?


When you feel so sad like you are in a serious, unusual problem.
Have you ever feel, why should be me? 
God chooses you. 

Why He chose me?
Because you are different.
So that He said: you can face it.
Not like the others.

When you feel so happy like you’re the luckiest person in the world
Have you ever feel, why should be me?

Cerpen: Ibu, Andai Uangku Bisa Membeli Waktu


Nara bukan gadis yang selalu terlihat akrab dan dekat dengan keluarganya. Ia juga bukan seorang anak yang bisa secara terang-terangan menyatakan rasa sayangnya kepada orang-orang terdekat yang ia cintai.

Tradisi itu sudah ada sejak dahulu. Ya, tradisi merayakan ulang tahun kecil-kecilan bersama keluarga. Ketika Nara masih duduk di bangku sekolah dasar, ia hampir tidak pernah absen memberikan kado untuk ayah, ibu, atau saudara-saudaranya yang berulang tahun, meskipun tanpa kata-kata atau ucapan romantis yang keluar dari mulutnya. Namun, seiring berjalannya waktu, kebiasaannya itu secara perlahan terkikis. Nara sudah kuliah. Gengsinya semakin tinggi.

Hari itu ibunya berulang tahun. Sudah 5 kali ulang tahun ibunya terlewati tanpa kue ulang tahun. Padahal, tidak sekalipun Nara melewati hari ulang tahun tanpa kue ulang tahun hasil karya ibunya.

Jam 8 malam. Nara masih sibuk dengan kegiatannya di kampus. Sejak semalam Nara sudah berencana untuk menghadiahkan sesuatu untuk ibunya. Menyadari kalau sudah bertahun-tahun ibu tidak menerima kue ulang tahun, Nara berniat untuk membuat perbedaan pada ulang tahun ibu kali ini.

Jam 9 malam. Nara melangkahi gerbang kampus dan segera menaiki sebuah angkutan umum. Sadar kalau hari sudah malam, otak Nara berputar-putar mengingat nama-nama toko kue yang ia tahu. Ya, dan yang kemungkinan masih buka. Perkiraannya toko kue tersebut tutup jam 10 malam, yang artinya sebelum jam 10 ia harus sudah sampai. Nara memeriksa isi dompetnya. Dua lembar lima puluh ribu. Masih ada harapan.

Jam 9 lewat 40 menit. Nara khawatir. Khawatir toko kuenya tutup. Khawatir persediaan kuenya habis. Nara menyalahkan dirinya yang tidak bisa mengusahakan pulang lebih awal hari ini.

Jam 10 kurang 4 menit. Angkutan yang ditumpangi Nara sampai di depan sebuah toko kue. Nara segera menyerahkan dua lembar ribuan kepada pak supir. Senyumnya mengembang. Masih buka. Ia segera meluncur, membuka pintu toko kue. Menghampiri mbak-mbak penjaga toko.

Masih ada beberapa stok kue ulang tahun dengan 3 tipe. Tentu saja, tanpa berlama-lama, Nara menanyakan harganya. Ia mengambil kue dengan harga termurah, sembilan puluh lima ribu rupiah. Ia menghela nafas, bersyukur. Nara akhirnya pulang dengan membawa pulang kue ulang tahun bertuliskan “Happy Birthday, Mom“.

Nara tiba di rumah. Rumah sudah sepi. Hanya terlihat ayahnya yang sedang menonton TV. Mengetahui bahwa anak perempuannya membawa kue ulang tahun untuk ibunya, sang ayah heran. Tumben.

Ayah Nara pun memanggil ibu yang sedang berbaring di kamar. Ibu Nara tak menyangka. Ibu Nara pun meminta anggota keluarga berkumpul untuk sama-sama berdoa dan mencicipi kue ulang tahunnya. Namun apa daya, kakak dan adik Nara sudah tenggelam di dunia mimpi sejak 10 menit yang lalu. Ayah Nara pun mengatakan agar langsung saja potong kuenya. Akhirnya Ibu Nara pun memotong kuenya. Aku dan ayah ikut menikmatinya.

Sudah, malam itu berakhir. Nara tidak bahagia. Bukan. Bukan seperti itu yang diharapkan. Nara melihat kebahagiaan sekaligus kesedihan yang secara bersamaan terpancar dari raut wajah ibunya malam itu. Nara pun menyadari. Nara merasa bahwa ibunya bukan mengharapkan hadiah, kue, bahkan sesuatu yang mewah sebagai kado ulang tahunnya. Ibunya mungkin hanya menginginkan sebuah kebersamaan di hari spesialnya. Duduk bersama dengan anggota keluarga yang lengkap mengelilingi satu meja. Mencicipi kue bersama-sama, berdoa untuk kesehatan dan kebahagiaan Nara, ayah, ibu, kakak, dan adik.

Nara merebahkan diri di atas kasur. Ia menangis. Kembali menyalahkan dirinya yang tidak mengusahakan pulang cepat hari ini. Atau minimal mengabari anggota keluarga untuk menunggu kedatangannya, memberikan momen sederhana yang berarti untuk ibunya.

Tidak masalah berapa uang yang dikeluarkan. Nara tidak memikirkan dompetnya yang kini telah kosong karena membeli kue ulang tahun itu. Nara hanya menyadari satu hal. Kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang atau sesuatu yang mahal. Jika bukan saat ini, mungkin ia dapat membeli kue itu nanti. Tapi waktu. Waktu tidak bisa dibeli, tidak bisa dikembalikan. Hari ini Nara belajar bahwa ketika ia dapat memberikan sebagian waktu yang ia punya untuk orang lain, ia telah memberikan sesuatu yang tak ternilai harganya.

Andai saja waktu dapat dibeli dengan uang, Nara akan menukar 2 lembar lima puluh ribuannya tadi dengan waktu, agar bisa sampai rumah lebih cepat.

author: atanasarah

29 Ramadhan


Allah baik ya. Gue semakin sadar betapa banyak kekurangan yang gue miliki. Tapi gue masih punya orang-orang yang (insya Allah) tulus temenan sama gue. Gue masih punya mereka yang peduli. Masih ada mereka yang tanpa pamrih membantu dan memudahkan segala urusan gue. Masih ada keramahan wajah yang menyambut kehadiran gue. Masih ada kepercayaan yang mereka berikan. Masih ada hubungan-hubungan baik yang ingin selalu dijaga.

Karena salah satu ketakutan terbesar adalah tidak ada lagi orang yang mau menerima kita sebagaimana kita adanya

28 Ramadhan


Sejak lahir sampai kelas 3 di sekolah menengah atas, nggak pernah terpikirkan kalau gue akan jadi mahasiswi Ilmu Komputer. Apa itu ilkom dan apa saja yang dipelajari pun gue nggak paham. Pernah waktu SMA kami dikenalkan dengan proses pembuatan flowchart dan pemrograman Visual Basic untuk membangun program-program sederhana seperti kalkulator. Pelajaran yang satu itu menurut gue susah. Memang gue nggak pernah nyoba latihan sendiri juga sih di rumah. Pernah juga kami mendapatkan tugas akhir mata pelajaran TIK untuk membuat website dengan Dreamweaver dan mempublikasikannya menggunakan hosting gratisan. Kemudian, kami juga ditugasi untuk membuat website menggunakan Joomla.  Gue cukup mendapat ketertarikan di sana. Tapi, ketertarikan gue adalah ketika membuat desain web, layouting, dan memadukan warna. Iya, gue punya minat di dunia desain.

Sampai akhirnya gue resmi jadi anak Ilkom. Belajar mengenai algoritma, basis data, berbagai macam bahasa pemrograman. Kami dikenalkan dengan software, gimana cara kerjanya, apa yang ada di baliknya, gimana proses merancang sebuah software, hingga implementasinya. Kami juga diberikan mata kuliah yang berhubungan dengan hardware dan jaringan. Membuat grafis lewat kodingan pun kami diajari. Selain itu, kami juga harus melahap ilmu-ilmu statistika untuk mendukung logika, perhitungan, dan cara berpikir kami dalam membangun sistem. Lingkupnya sangat luas, sangat banyak yang dipelajari hingga akhirnya gue pusing sendiri.

Memainkan kode-kode kolaborasi antara huruf angka dan simbol dengan menatap layar hitam dengan tulisan putih (atau sebaliknya) itu sejujurnya ngga baik buat kesehatan mata. Memang ada kepuasan tersendiri saat berhasil menjalankan (minimal) satu buah fungsi pada sebuah sistem yang dirancang. Stres sampai nangis mungkin biasa bagi para programmer saat deadline semakin mendekat tapi masih banyak bug atau fungsi-fungsi yang belum bisa berjalan sebagaimana mestinya. Kadang air mata kami esoknya dibalas dengan cacian dan hujatan pada saat presentasi. Tapi selalu ada apresiasi atas jerih payah kami, lewat sebuah nilai (kalo yang ngasih nilai baik :”) yang akan jadi penyumbang IP dan lewat tepukan tangan atau pukpuk gratis yang diberikan teman-teman.

Karena gue orang yang cepat bosen, ga suka dengan sesuatu yang monoton, gue lebih memilih untuk memainkan kodingan untuk mengatur tampilan sistem daripada mengatur fungsi-fungsi di dalamnya agar dapat berjalan. Setidaknya di balik kode-kode hitam-putih yang gue mainkan, gue bisa melihat keluaran yang warna-warni. Ya, karena (misalnya) untuk menentukan warna tulisan atau kolom yang akan tampil di website kita pun menggunakan barisan-barisan kodingan.

Satu-satunya mata kuliah yang bikin gue super excited adalah Interaksi Manusia dan Komputer (IMK). Percaya atau nggak, buat gue yang satu ini beda banget sama mata kuliah lain. Hidup gue lebih berwarna. Kuliah ketawa-ketawa seperti menonton sebuah standup comedy show dan nggak perlu mencatat. Tapi kami mengerti apa yang disampaikan. Kami diajari bagaimana merancang interaksi antara manusia (sebagai pengguna) dan sistem yang akan digunakannya. Bagaimana agar sistem mudah digunakan dan mudah dipahami. Dibalik itu pun ternyata tata letak dan warna-warna yang digunakan memiliki pengaruhnya masing-masing. Sayangnya, mata kuliah seperti ini hanya ada satu dan satu-satunya di Ilkom IPB.

Overall meski gue nggak cukup semangat untuk mendalami sebagian besar topik yang dipelajari, gue nggak bisa nggak berterimakasih karena sudah dikenalkan dengan ilmu-ilmu tersebut. Dengan menjadi bagian dari keluarga Illkomers gue jadi lebih terpacu untuk update teknologi yang menurut gue penting banget mengingat perkembangannya amat sangat pesat dan cepat. Setidaknya gue cukup punya pengetahuan untuk memutuskan gadget mana yang baiknya gue beli dengan budget yang ada. Itu bisa memeperkecil kemungkinan juga kan kalo-kalo kita (terutama para wanita) ditipu sama penjualnya. Gue jadi cukup paham bagaimana aplikasi-aplikasi yang sering gue gunakan dapat berjalan. Gue sedikit-sedikit jadi tahu kenapa Google bisa sangat pintar, bisa mencarikan apa yang kita butuhkan, menebak apa yang sebenarnya ingin kita cari ketika salah mengetikkan sebuah keyword pada mesin pencarian.

Dengan label anak ilkom, gue jadi bisa melakukan hal-hal yang dituntut bisa oleh kebanyakan orang di luar Ilkom. Seperti install ulang, masang WiFi, ngatasin virus shortcut, benerin koneksi internet yang bermasalah, dan hal-hal teknis lainnya yang sebenernya gue cari caranya dengan bantuan mbah gugel–dan nggak selalu 100% berhasil.

Tiba di tingkat akhir, gue harus menyusun skripsi. Seorang dosen pun memberikan beberapa pilihan topik penelitian. Dari sana lah gue berkenalan dengan yang namanya User Experience (UX). Bidang kajian sebenarnya ada kaitannya dengan IMK, namun tidak dipelajari saat di perkuliahan. Gue pun mengambil topik tersebut untuk tugas akhir. Setelah membaca beberapa referensi, gue ga bisa berhenti. Kayanya gue udah disihir buat masuk ke dunia UX. UX itu intinya bagaimana kita dapat merancang sebuah sistem/produk yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan penggunanya, kemudian bagaimana caranya agar pengguna mendapatkan pengalaman terbaik ketika berinteraksi dengan sistem. Ketika skripsi berakhir, gue nggak ikutan selesai kok buat mendalami bidang ini. Sepertinya gue menemukan bagian dari passion gue di sini.
Sialnya, gue baru mempelajari ini justru ketika dunia perkuliahan gue di Ilkom IPB akan berakhir. But they said it’s never too late.

Kalau gue nggak masuk Ilkom, mungkin gue nggak bakal kenal sama UX.

Allah emang udah nyediain jalan ya buat masing-masing dari kita. Seperti sekarang ini di saat gue dan sebagian temen udah lulus, sebagian sedang menuju kelulusan, bahkan sebagian lainnya udah dapet kerja. Alhamdulillah :)

Nggak bisa bohong kalau gue bangga sama kalian yang akhirnya bisa ngelewatin perjuangan 3 tahun buat bisa bertahan di Ilkom. Mungkin sebagian kita iri dengan keberhasilan teman-teman yang selangkah dua langkah lebih maju, seperti misalnya udah dapet kerja duluan. Keep calm hey, guys. Rencana-Nya mengatakan kalau memang itu sudah jalannya dan waktunya mereka. Kita juga pasti punya gilirannya kok. Santai saja tapi jangan berhenti berikhtiar. Pada akhirnya gue yakin kalo kita akan sukses dengan cara masing-masing.
So, keep stand on your passions, hold on your dreams, and go through this big big world to make them true! :)

One who proud of being a pixel,

Atana