Welcome 3ʳᵈ !


atanasworld 3rd

Welcome three years! Let us fly higher higher higher.

3 main key for every single day
Learn anything reading, watching, listening, surfing, discussing, increase your knowledge!
Do something good copy, edit, try, create, practice, innovate, power up your skill!
Share anything useful post, tweet, tell stories, let people know!

(tak perlu) pertemuan


mungkin ada baiknya tidak memulai suatu hubungan atau pertemuan
daripada berujung dengan permusuhan
atau menimbulkan prasangka-prasangka buruk

tapi selalu ada alasan Tuhan mempertemukan
tugas kita hanya menyikapinya dengan baik
sebaik-baiknya hingga hilang kesan buruknya
sebaik-baiknya hingga tak habis rasa syukur

Why should be me?


When you feel so sad like you are in a serious, unusual problem.
Have you ever feel, why should be me? 
God chooses you. 

Why He chose me?
Because you are different.
So that He said: you can face it.
Not like the others.

When you feel so happy like you’re the luckiest person in the world
Have you ever feel, why should be me?

Cerpen: Ibu, Andai Uangku Bisa Membeli Waktu


Nara bukan gadis yang selalu terlihat akrab dan dekat dengan keluarganya. Ia juga bukan seorang anak yang bisa secara terang-terangan menyatakan rasa sayangnya kepada orang-orang terdekat yang ia cintai.

Tradisi itu sudah ada sejak dahulu. Ya, tradisi merayakan ulang tahun kecil-kecilan bersama keluarga. Ketika Nara masih duduk di bangku sekolah dasar, ia hampir tidak pernah absen memberikan kado untuk ayah, ibu, atau saudara-saudaranya yang berulang tahun, meskipun tanpa kata-kata atau ucapan romantis yang keluar dari mulutnya. Namun, seiring berjalannya waktu, kebiasaannya itu secara perlahan terkikis. Nara sudah kuliah. Gengsinya semakin tinggi.

Hari itu ibunya berulang tahun. Sudah 5 kali ulang tahun ibunya terlewati tanpa kue ulang tahun. Padahal, tidak sekalipun Nara melewati hari ulang tahun tanpa kue ulang tahun hasil karya ibunya.

Jam 8 malam. Nara masih sibuk dengan kegiatannya di kampus. Sejak semalam Nara sudah berencana untuk menghadiahkan sesuatu untuk ibunya. Menyadari kalau sudah bertahun-tahun ibu tidak menerima kue ulang tahun, Nara berniat untuk membuat perbedaan pada ulang tahun ibu kali ini.

Jam 9 malam. Nara melangkahi gerbang kampus dan segera menaiki sebuah angkutan umum. Sadar kalau hari sudah malam, otak Nara berputar-putar mengingat nama-nama toko kue yang ia tahu. Ya, dan yang kemungkinan masih buka. Perkiraannya toko kue tersebut tutup jam 10 malam, yang artinya sebelum jam 10 ia harus sudah sampai. Nara memeriksa isi dompetnya. Dua lembar lima puluh ribu. Masih ada harapan.

Jam 9 lewat 40 menit. Nara khawatir. Khawatir toko kuenya tutup. Khawatir persediaan kuenya habis. Nara menyalahkan dirinya yang tidak bisa mengusahakan pulang lebih awal hari ini.

Jam 10 kurang 4 menit. Angkutan yang ditumpangi Nara sampai di depan sebuah toko kue. Nara segera menyerahkan dua lembar ribuan kepada pak supir. Senyumnya mengembang. Masih buka. Ia segera meluncur, membuka pintu toko kue. Menghampiri mbak-mbak penjaga toko.

Masih ada beberapa stok kue ulang tahun dengan 3 tipe. Tentu saja, tanpa berlama-lama, Nara menanyakan harganya. Ia mengambil kue dengan harga termurah, sembilan puluh lima ribu rupiah. Ia menghela nafas, bersyukur. Nara akhirnya pulang dengan membawa pulang kue ulang tahun bertuliskan “Happy Birthday, Mom“.

Nara tiba di rumah. Rumah sudah sepi. Hanya terlihat ayahnya yang sedang menonton TV. Mengetahui bahwa anak perempuannya membawa kue ulang tahun untuk ibunya, sang ayah heran. Tumben.

Ayah Nara pun memanggil ibu yang sedang berbaring di kamar. Ibu Nara tak menyangka. Ibu Nara pun meminta anggota keluarga berkumpul untuk sama-sama berdoa dan mencicipi kue ulang tahunnya. Namun apa daya, kakak dan adik Nara sudah tenggelam di dunia mimpi sejak 10 menit yang lalu. Ayah Nara pun mengatakan agar langsung saja potong kuenya. Akhirnya Ibu Nara pun memotong kuenya. Aku dan ayah ikut menikmatinya.

Sudah, malam itu berakhir. Nara tidak bahagia. Bukan. Bukan seperti itu yang diharapkan. Nara melihat kebahagiaan sekaligus kesedihan yang secara bersamaan terpancar dari raut wajah ibunya malam itu. Nara pun menyadari. Nara merasa bahwa ibunya bukan mengharapkan hadiah, kue, bahkan sesuatu yang mewah sebagai kado ulang tahunnya. Ibunya mungkin hanya menginginkan sebuah kebersamaan di hari spesialnya. Duduk bersama dengan anggota keluarga yang lengkap mengelilingi satu meja. Mencicipi kue bersama-sama, berdoa untuk kesehatan dan kebahagiaan Nara, ayah, ibu, kakak, dan adik.

Nara merebahkan diri di atas kasur. Ia menangis. Kembali menyalahkan dirinya yang tidak mengusahakan pulang cepat hari ini. Atau minimal mengabari anggota keluarga untuk menunggu kedatangannya, memberikan momen sederhana yang berarti untuk ibunya.

Tidak masalah berapa uang yang dikeluarkan. Nara tidak memikirkan dompetnya yang kini telah kosong karena membeli kue ulang tahun itu. Nara hanya menyadari satu hal. Kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang atau sesuatu yang mahal. Jika bukan saat ini, mungkin ia dapat membeli kue itu nanti. Tapi waktu. Waktu tidak bisa dibeli, tidak bisa dikembalikan. Hari ini Nara belajar bahwa ketika ia dapat memberikan sebagian waktu yang ia punya untuk orang lain, ia telah memberikan sesuatu yang tak ternilai harganya.

Andai saja waktu dapat dibeli dengan uang, Nara akan menukar 2 lembar lima puluh ribuannya tadi dengan waktu, agar bisa sampai rumah lebih cepat.

author: atanasarah