29 Ramadhan


Allah baik ya. Gue semakin sadar betapa banyak kekurangan yang gue miliki. Tapi gue masih punya orang-orang yang (insya Allah) tulus temenan sama gue. Gue masih punya mereka yang peduli. Masih ada mereka yang tanpa pamrih membantu dan memudahkan segala urusan gue. Masih ada keramahan wajah yang menyambut kehadiran gue. Masih ada kepercayaan yang mereka berikan. Masih ada hubungan-hubungan baik yang ingin selalu dijaga.

Karena salah satu ketakutan terbesar adalah tidak ada lagi orang yang mau menerima kita
sebagaimana kita adanya

28 Ramadhan


Sejak lahir sampai kelas 3 di sekolah menengah atas, nggak pernah terpikirkan kalau gue akan jadi mahasiswi Ilmu Komputer. Apa itu ilkom dan apa saja yang dipelajari pun gue nggak paham. Pernah waktu SMA kami dikenalkan dengan proses pembuatan flowchart dan pemrograman Visual Basic untuk membangun program-program sederhana seperti kalkulator. Pelajaran yang satu itu menurut gue susah. Memang gue nggak pernah nyoba latihan sendiri juga sih di rumah. Pernah juga kami mendapatkan tugas akhir mata pelajaran TIK untuk membuat website dengan Dreamweaver dan mempublikasikannya menggunakan hosting gratisan. Kemudian, kami juga ditugasi untuk membuat website menggunakan Joomla.  Gue cukup mendapat ketertarikan di sana. Tapi, ketertarikan gue adalah ketika membuat desain web, layouting, dan memadukan warna. Iya, gue punya minat di dunia desain.

Sampai akhirnya gue resmi jadi anak Ilkom. Belajar mengenai algoritma, basis data, berbagai macam bahasa pemrograman. Kami dikenalkan dengan software, gimana cara kerjanya, apa yang ada di baliknya, gimana proses merancang sebuah software, hingga implementasinya. Kami juga diberikan mata kuliah yang berhubungan dengan hardware dan jaringan. Membuat grafis lewat kodingan pun kami diajari. Selain itu, kami juga harus melahap ilmu-ilmu statistika untuk mendukung logika, perhitungan, dan cara berpikir kami dalam membangun sistem. Lingkupnya sangat luas, sangat banyak yang dipelajari hingga akhirnya gue pusing sendiri.

Memainkan kode-kode kolaborasi antara huruf angka dan simbol dengan menatap layar hitam dengan tulisan putih (atau sebaliknya) itu sejujurnya ngga baik buat kesehatan mata. Memang ada kepuasan tersendiri saat berhasil menjalankan (minimal) satu buah fungsi pada sebuah sistem yang dirancang. Stres sampai nangis mungkin biasa bagi para programmer saat deadline semakin mendekat tapi masih banyak bug atau fungsi-fungsi yang belum bisa berjalan sebagaimana mestinya. Kadang air mata kami esoknya dibalas dengan cacian dan hujatan pada saat presentasi. Tapi selalu ada apresiasi atas jerih payah kami, lewat sebuah nilai (kalo yang ngasih nilai baik :”) yang akan jadi penyumbang IP dan lewat tepukan tangan atau pukpuk gratis yang diberikan teman-teman.

Karena gue orang yang cepat bosen, ga suka dengan sesuatu yang monoton, gue lebih memilih untuk memainkan kodingan untuk mengatur tampilan sistem daripada mengatur fungsi-fungsi di dalamnya agar dapat berjalan. Setidaknya di balik kode-kode hitam-putih yang gue mainkan, gue bisa melihat keluaran yang warna-warni. Ya, karena (misalnya) untuk menentukan warna tulisan atau kolom yang akan tampil di website kita pun menggunakan barisan-barisan kodingan.

Satu-satunya mata kuliah yang bikin gue super excited adalah Interaksi Manusia dan Komputer (IMK). Percaya atau nggak, buat gue yang satu ini beda banget sama mata kuliah lain. Hidup gue lebih berwarna. Kuliah ketawa-ketawa seperti menonton sebuah standup comedy show dan nggak perlu mencatat. Tapi kami mengerti apa yang disampaikan. Kami diajari bagaimana merancang interaksi antara manusia (sebagai pengguna) dan sistem yang akan digunakannya. Bagaimana agar sistem mudah digunakan dan mudah dipahami. Dibalik itu pun ternyata tata letak dan warna-warna yang digunakan memiliki pengaruhnya masing-masing. Sayangnya, mata kuliah seperti ini hanya ada satu dan satu-satunya di Ilkom IPB.

Overall meski gue nggak cukup semangat untuk mendalami sebagian besar topik yang dipelajari, gue nggak bisa nggak berterimakasih karena sudah dikenalkan dengan ilmu-ilmu tersebut. Dengan menjadi bagian dari keluarga Illkomers gue jadi lebih terpacu untuk update teknologi yang menurut gue penting banget mengingat perkembangannya amat sangat pesat dan cepat. Setidaknya gue cukup punya pengetahuan untuk memutuskan gadget mana yang baiknya gue beli dengan budget yang ada. Itu bisa memeperkecil kemungkinan juga kan kalo-kalo kita (terutama para wanita) ditipu sama penjualnya. Gue jadi cukup paham bagaimana aplikasi-aplikasi yang sering gue gunakan dapat berjalan. Gue sedikit-sedikit jadi tahu kenapa Google bisa sangat pintar, bisa mencarikan apa yang kita butuhkan, menebak apa yang sebenarnya ingin kita cari ketika salah mengetikkan sebuah keyword pada mesin pencarian.

Dengan label anak ilkom, gue jadi bisa melakukan hal-hal yang dituntut bisa oleh kebanyakan orang di luar Ilkom. Seperti install ulang, masang WiFi, ngatasin virus shortcut, benerin koneksi internet yang bermasalah, dan hal-hal teknis lainnya yang sebenernya gue cari caranya dengan bantuan mbah gugel–dan nggak selalu 100% berhasil.

Tiba di tingkat akhir, gue harus menyusun skripsi. Seorang dosen pun memberikan beberapa pilihan topik penelitian. Dari sana lah gue berkenalan dengan yang namanya User Experience (UX). Bidang kajian sebenarnya ada kaitannya dengan IMK, namun tidak dipelajari saat di perkuliahan. Gue pun mengambil topik tersebut untuk tugas akhir. Setelah membaca beberapa referensi, gue ga bisa berhenti. Kayanya gue udah disihir buat masuk ke dunia UX. UX itu intinya bagaimana kita dapat merancang sebuah sistem/produk yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan penggunanya, kemudian bagaimana caranya agar pengguna mendapatkan pengalaman terbaik ketika berinteraksi dengan sistem. Ketika skripsi berakhir, gue nggak ikutan selesai kok buat mendalami bidang ini. Sepertinya gue menemukan bagian dari passion gue di sini.
Sialnya, gue baru mempelajari ini justru ketika dunia perkuliahan gue di Ilkom IPB akan berakhir. But they said it’s never too late.

Kalau gue nggak masuk Ilkom, mungkin gue nggak bakal kenal sama UX.

Allah emang udah nyediain jalan ya buat masing-masing dari kita. Seperti sekarang ini di saat gue dan sebagian temen udah lulus, sebagian sedang menuju kelulusan, bahkan sebagian lainnya udah dapet kerja. Alhamdulillah :)

Nggak bisa bohong kalau gue bangga sama kalian yang akhirnya bisa ngelewatin perjuangan 3 tahun buat bisa bertahan di Ilkom. Mungkin sebagian kita iri dengan keberhasilan teman-teman yang selangkah dua langkah lebih maju, seperti misalnya udah dapet kerja duluan. Keep calm hey, guys. Rencana-Nya mengatakan kalau memang itu sudah jalannya dan waktunya mereka. Kita juga pasti punya gilirannya kok. Santai saja tapi jangan berhenti berikhtiar. Pada akhirnya gue yakin kalo kita akan sukses dengan cara masing-masing.
So, keep stand on your passions, hold on your dreams, and go through this big big world to make them true! :)

One who proud of being a pixel,

Atana