repost from : Pak Julio

Dalam Rabuan kemarin, terungkap banyak hal tentang sikap dan kebiasaan mahasiswa yang kurang baik. Diawali dengan cerita saya, mahasiswa yang masih semester ke-3 secara gamblang menandatangani absen rekannya yang tidak hadir. Selanjutnya cerita dosen lainnya tentang absensi kuliah yang tidak tersedia akibat kemalasan mahasiswa. Juga cerita dosen lain lagi, serta cerita dosen lainnya, yang semuanya menunjukkan terjadi penurunan kualitas mahasiswa kita. Pertanyaannya, mengapa itu semua terjadi, dan bagaimana mengatasinya.

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah, adakah kontribusi kita sehingga membuat mahasiswa seperti ini?

Saya lebih suka untuk melihat pada diri sendiri, sudahkah kita berusaha untuk memberi pendidikan yang baik kepada mahasiswa. Dalam suatu diskusi nasional, saya membaca tulisan terkait hal ini, yaitu bahwa pendidikan harus diarahkan untuk membangun karakter, bukan hanya meningkatkan pemahaman pada hal-hal teknis yang hanya menghasilkan mahasiswa berpikir pragmatis, dan ujung-ujungnya hanya bersikap konsumtif. Artinya, sangat penting untuk membangun karakter agar mahasiswa memiliki sikap untuk berpikir dan bekerja secara cerdas, serta memiliki keterampilan untuk berproduksi.

Banyak contoh terjadi dimana seorang dosen hanya mengajarkan melalui slide, yang tinggal diambil dari berbagai sumber, yang berisi konsep-konsep dan teknik-teknik, tanpa mendalami falsafah kelimuannya, serta tidak memberi wawasan pada realitas sosial yang ada di sekeliling kita. Semua diberikan tanpa dibarengi dengan pengalaman riset yang memadai, juga tidak didukung oleh semangat agar mahasiswa lebih tergerak untuk membaca lebih jauh dari sumber-sumber lainnya. Saya di kelas sering mengungkapkan, bahwa yang diajarkan di kelas melalui kurikulum yang ada hanyalah 20% dari pengetahuan yang harus didalami. Dalam 20% tersebut, jika dosen memiliki kelemahan dalam penyampaian, maka tinggal 10% nya. Belum lagi kalau mahasiswa dalam kondisi kurang baik, mengantuk, dan sebagainya, maka tinggal 5%.

Oleh karena itu, kita harus memberi banyak kondisi agar mahasiswa memiliki semangat belajar, semangat produksi, dan semangat menggali informasi dari berbagai sumber dan melalui berbagai cara serta media. Sering kita lebih percaya pada aturan administrasi untuk mengukur suatu keberhasilan, misalnya dari absensi, berita acara, akreditasi, dan sebagainya. Menurut saya itu baik, tetapi bukan itu tujuan penyelenggaraan pendidikan.Yang lebih penting adalah bahwa proses itu dapat memberi nilai tambah pada mahasiswa dan dosen.

Saya juga sering mengungkapkan bahwa kalau mahasiswa ikut kuliah, tetapi setelah keluar kelas tidak mengerti apa-apa, itu sangat merugi dan buang-buang waktu. Lebih baik tidur di rumah, dan urusan tanda tangan absen, nanti diselesaikan sistem rapel. Disamping itu, jika dosen memberi kuliah tetapi juga tidak mendapat apa-apa selain honor mengajar, itu juga sama ruginya dengan mahasiswa tadi.

Tulisan ini bukan untuk menggurui orang lain, tetapi lebih pada introspeksi pada diri saya sendiri, yang terus miris dengan sikap dan kebiasaan mahasiswa dalam menempuh pendidikan di IPB ini. Dan tak kalah pentingnya, juga miris dengan sikap dan pandangan dosen terhadap semua persoalan yang timbul dalam proses pendidikan yang ada. Umur tidak berkorelasi dengan sikap dan kebiasaan dosen dalam mengajar. Yang ada adalah bahwa kita harus berpikir sebebas-bebasnya dan mengungkapkan dan berkomentar segala hal dengan ringan dan bertanggung jawab untuk kebaikan bersama. Tidak diam, apatis, apalagi berhenti belajar.

Baca juga yang ini :

Memutar Balik Jarum Jam Tradisi Bohong (Oleh: Hamdan Juhannis)

(julio.staff.ipb.ac.id)