Pagi itu sekitar jam 6 lewat 15 menit. Gue berangkat dari rumah ke kampus dan seperti biasa ngelewatin ruko-ruko, jalan yang emang harus gue tempuh buat nyampe di shelter trans pakuan.

Tapi pagi itu ada yang beda..
picture

Langkah gue mendadak semakin pelan, sejenak terpana sama pemandangan yang ada di depan mata gue. That two men, berbaring di atas selembar, entah tikar, kertas, atau apa itu sedikit kurang jelas.. Di tengah-tengah jalan besar, di depan pos penjaga keamanan, terlihat kerut perjuangan, keletihan yang sangat mendambakan mungkin sedikit waktu untuk beristirahat dengan tenang.

Setelah lewat beberapa langkah, gue kembali berbalik arah. Mengeluarkan ponsel, mengaktifkan kamera, mengambil gambar dari jarak yang agak jauh. Kurang berani untuk kembali kesana mendekat dan melihat lebih jelas pemandangan itu. Sekelebat pikiran gue muncul sopan ga ya apa-apa ga ya gue mengambil potret kejadian ini. Tapi pikiran gue yang lebih kuat saat itu adalah

Dunia perlu tahu, atau bahkan kalau emang udah tau, dunia perlu sadar.

Langkah kaki gue pun pergi semakin menjauh dari tempat itu. Tapi pikiran gue masih di situ. Dua orang itu, yang gue tau cuma satu orang mungkin petugas keamanan, terlihat dari seragam yang dikenakannya, satunya lagi tidak berseragam.

Hari itu UTS terakhir di semester ini. Satu-satunya dari enam mata kuliah di semester ini yang bikin gue nggak tidur sama sekali malam harinya.

Tapi setelah gue melihat kejadian tadi, gue rasa apa yang gue lakukan belum ada apa-apanya.

Gue yang, yaa mungkin sekali-kali harus begadang semaleman buat menyelesaikan berbagai macam hal, yang mungkin sebenarnya itu pilihan, masih bisa disiasati kalau aja gue bisa me-manage waktu dengan baik.

Tapi mereka?

Mungkin itu udah jadi kewajiban setiap harinya. Udah jadi bagian dari setiap harinya. Udah jadi sumber penghasilan  agar bisa menghidupi keluarganya..

Dimana saat kita terlelap saat hari gelap berkelana di alam mimpi, mereka masih terjaga untuk memastikan bahwa keadaan sekitar kita aman. Dimana mereka harus mengorbankan tubuh yang sebenarnya sangat punya hak bahkan sebenarnya harus diistirahatkan malam hari hanya untuk membuat orang-orang yang terlelap itu merasa barang-barangnya, hartanya, lingkungan tempat tinggalnya, aman dari penghuni-penghuni jahat di dunia ini.

Dengan imbalan yang gue yakin pasti nggak seberapa, apa mereka merasa dunia itu adil?

Minimal saat kita masih bisa menikmati tidur di atas kasur yang empuk di dalam rumah yang layak, apa saat tiba giliran mereka untuk beristirahat tidak bisa tersedia ruangan yang cukup layak?

 

Tapi yang gue perbuat sampe sekarang apa? No acts.

Masih belum tau mau mulai dari mana dan dengan siapa gue bisa ikut membantu memperbaiki –minimal– hal-hal seperti itu yang ada di sekitar gue . Mungkin doa dari banyak hamba-Mu, bisakah sedikit membantu?