Suaranya pelan malu-malu saat membaca sebuah puisi. Seringkali ia menggelengkan kepalanya ketika ditanya atau diminta menyanyi atau baca puisi sendiri bahkan saat sedang bermain.

“engga ah..”

Namanya Melan. Usianya tujuh tahun. Kelas dua SD.

Ketika gue mengajak mereka untuk membaca-baca dan memilah puisi-puisi yang dimuat di majalah BOBO –yang sudah bertahun-tahun umurnya– dia pun berceletuk,

“Kak, bikin puisi kak..”

Gue agak lama ngeh-nya kalau ternyata dia mau membuat, ya, menulis puisi sendiri.

Gue pun mencari kertas dan alat tulis.

Setelah mendapatkan pensil, satu-persatu, perlahan tapi pasti, kata-kata “ajaib” itu keluar dari mulut mungilnya.

Gue menulis semua yang dikatakannya. Tanpa ada bantuan satu kata pun dari gue. Tercipta satu puisi yang bikin gue tercengang dan sangat menyentuh hati :”)

 

Ayah Bunda

Bunda..

kau adalah rembulan yang menari

dalam dadaku

 

Ayah Bunda..

kucintai kau berdua

seperti aku mencintai surga

 

Semoga Allah

mencium ayah bunda

dalam taman-Nya yang terindah nanti

Melan

912192_10200172721133998_580261089_n

Namanya Melan. Usianya tujuh tahun. Dia penulis puisi cilik yang sangat hebat :)