Selesai solat ashar tadi, tetiba gue merasa bahagia. Gue lagi ada di rumah. Artinya gue bisa ikut solat magrib berjamaah bareng bokap :””)

Ngga sadar kalo entah udah berapa lama gue nggak melakukan itu. Terasa makin bahagia kalo gue inget baru semalem kemaren gue nyampe rumah jam setengah satu  dini hari.

Ngga lama setelah solat magrib, rasa sesak itu muncul.

Keinget gue yang belakangan hari kemaren lengah dalam melakukan kewajiban paling utama buat (minimal) inget sama pencipta-Nya. Astagfirullah. Bukan satu. Tapi. Tiga. Astagfirullahaladzim…

Sebegitu ‘gila’-nya kah kehidupan dunia?

Allah.. Maafkan hamba.

Merasa tertampar.

Dia yang selama ini tetap menjaga ketahanan tubuh gue -minimal untuk tidak harus sampai benar-benar jatuh- di saat gue nggak bisa ngatur pola makan dan istirahat.

Dia yang mengirimkan begitu banyak dan bermacam-macam orang baik di sekitar gue.

untuk mengingatkan kewajiban-kewajiban gue di kampus

untuk sekadar menjarkom atau menginfokan hal-hal kecil namun penting

untuk bekerjasama menuntaskan projek-projek mata kuliah

untuk menjadi tim yang hebat dan selalu bisa diandalkan

untuk berbagi ilmu

untuk mengkoordinir kelompok projek di saat gue lepas kendali

untuk memberikan kertas dan meminjamkan alat tulis

untuk mengingatkan makan

untuk memberikan semangat

untuk ajakan makan eskrim

untuk pengertiannya di saat gue lagi nggak bisa (bukan nggak mau) benar-benar diandalkan

untuk terlibat kegiatan-kegiatan lain di luar kuliah yang bisa jadi tempat pelarian ketika gue jenuh dengan satu dunia

untuk ketawanya mereka ketika ditanya perkembangan projek

untuk tetap menunjukkan keceriaan

untuk membuka mata gue kalo gue nggak sendiri

Dia yang tetap menjaga mental dan pikiran gue agar selalu berpikir positif

Dia yang selalu berhasil bikin gue merasa aman pulang di malam hari

Dia yang selalu memberikan keajaiban-keajaiban kecil di balik setiap masalah gue

 

Lupa, tan? L-U-P-A?

Cape?

GA BOLEH TAN.

Sedetik pun lu nggak punya hak.