Sabtu, 22 Juni 2013

Tantangan Hari 2 : Temui anak jalanan dan ajak dia ngobrol minimal dalam waktu 30 menit

 

Ekspetasi :

Hari hujan. Ketemu tukang ojek payung. Gue panggil salah satu anak itu. Gue ajakin ngobrol. Makan eskrim sepertinya menyenangkan. Gue melihat dia makan. Makannya sangat lahap. Gue mengeluarkan buku gambar dan krayon, dia menggambar impian-impiannya. Gue baca buku cerita bareng. Dia cerita tentang kesehariannya, pekerjaannya, keluarganya. Gue tersentuh ngedenger kisahnya. Iya. Cuma gue dan dia.

 

Kenyataan:

Hari sudah sore. Jarum jam menunjuk ke sekitar angka empat dan lima. Beberapa menit sebelum itu, gue terus berpikir. Mencari cara dan alasan untuk izin tidak langsung pulang. Ya, gue yang saat itu sedang bersama sebagian anggota keluarga dan salah satu teman di perjalanan pulang. Kami baru pindahan. Ngangkut-ngangkut barang untuk kebutuhan di kosan saat PKL nanti. Tidak cukup keberanian untuk mengkomunikasikan apa yang sebenarnya ingin gue lakukan hari itu. Akhirnya gue bilang ke nyokap kalo gue mau ke Gramedia dulu nyari buku. Gue bilang nyokap pulang duluan aja.

Tidak ada tanda-tanda hari hujan. Gue khawatir. Tepatnya gue bingung harus mencari dimana. Gue memutuskan untuk masuk ke toko buku terlebih dahulu. Melihat nuku-buku. Tidak ada yang menarik minat gue buat membeli salah satu di antara banyak buku tersebut. Mungkin juga ditambah pengaruh otak gue yang masih belum bisa lepas untuk memikirkan cara menemukan satu anak yang akan memberi banyak pelajaran di satu hari tersebut.

Akhirnya gue bergerak ke arah deretan stationary. Melihat kalau-kalau ada seuatu yang bisa gue beli untuk diberikan ke anak itu nantinya. Benar saja, gue akhirnya keluar dari toko buku tersebut dengan plastik yang berisikan buku gambar, pensil, dan penggaris.

Masih belum hujan. Gue berpindah ke toko serba ada. Tujuannya ya tidak jauh juga dari semcam alat-alat tulis. Siapa tau juga gue menemukan buku catatan yang bisa dipake buat kuliah semester nanti. Tapi hasilnya nihil. Gue nggak menghasilkan apa-apa. Gue juga lagi nggak terlalu antusias untuk melihat barang-barang tersebut sepertinya. Pikiran gue masih sama.

Sudah setengah enam menjelang magrib. Berharap di luar ada pengamen kecil, penjual kue-kue, atau siapapun itu. Tapi tidak ada.

Berhubung waktu yang sebentar lagi maghrib dan gue belum memutuskan akan kemana lagi, gue pun menyebrangi jalan. Memasuki sebuah masjid. Pelan-pelan. Tidak langsung masuk. Mengamati sebentar suasana di depan gerbang. Mungkin saja ada si target haha. Memperhatikan anak-anak kecil yang berlari-lari di sekitar situ. Tidak. Tapi bukan mereka yang gue maksud.

Gue melewati pintu gerbang. Melihat-lihat keadaan di sekitar. Mengamati setiap sudut. Tapi masih tidak ada. Masih belum ketemu. Sebentar lagi maghrib. Nggak hujan. Gue pun melepas sepatu, berjalan menuju pelataran masjid. Duduk sebentar. Melepas label harga dari barang-barang yang tadi dibeli. Memasukkannya bersama dengan yang lainnya ke dalam satu plastik. Melihat kembali daftar tantangan untuk 10 hari terakhir di bulan ini.

Oke waktunya magrib. Entah kenapa rasanya agak sedikit berbeda. Mungkin karena gue udah jarang solat berjamaah di masjid tanpa orang-orang yang gue kenal dan ada satu misi yang sampai saat itu masih gue takutkan untuk bisa diwujudkan. Cuma berharap. Berdoa. Dia memberikan bantuan-Nya. Untuk mepertemukan gue dengan sosok yang tepat.

Selesai solat, gue keluar dan.. subhanallah :”)

Hujan. Walau cuma rintik-rintik. Tapi rasanya harapan itu semakin cerah. Gue kembali menyeberangi jalan. Menuju ke toko serba ada yang sebelumnya sudah gue kunjungi. Senyum gue pun mengembang. Mata gue berbinar. Ah! Maha Besar Allah. Gue melihat tiga anak yang sedang menawarkan jasa ojek payung. Tanpa pikir panjang gue memanggil salah satu di antara mereka, gue pilih yang baju kuning.

a: siapa namanya?

r: rifki

a: temenin aku kesitu yuk

r: *mengangguk*

a: kamu udah makan belum?

r: belum

a: makan siang belum?

r: belum (nyengir gitu memperlihatkan deretan giginya. bocah banget deh.)

a: pagi?

r: belum.

a: (whew..) yaudah temenin aku makan mau ngga?

r: mau

 

gue ajak dia ke salah satu restoran fast food.

a: kamu ko ngga pake sendal?

r: biarin

a: emang kamu ngga punya sendal?

r: punya. ada di rumah.

a: terus kenapa ngga dipake?

r: gapapa.

 

Sampe di depan pintu restoran..

Oh men. Ada anak-anak yang lain dan sepertinya temennya rifki. Rasanya gue salah strategi. Oke gue tetep masuk.

Gue minta rifki duduk dulu sebentar sementara gue mesen makanan. Dia nurut. Beberapa kali gue nengok ke arah dia pas lagi ngantri, memastikan dia masih di situ dan baik-baik saja. Dia mengangguk dan tersenyum polos.

 

Selesai gue pesen, gue menghampiri rifki dan meminta dia untuk cuci tangan dulu.

r: eh aku pulang aja ya

a: loh kenapaaaa?

r: ih ngga mau ah maluuu

a: ih kenapa malu? sebentar aja di sini temenin akuuu. Nih makan ini tapi cuci tangan dulu.

r: ngga mau ah. malu atuh..

a: ih jangan malu atuh. kenapa mesti malu?

 

Rifki keukeuh tetep gamau makan. Gue kebingungan.

a: yaudah dibungkus aja yah mau ngga?

r: iya *mengangguk setuju*

 

Gue pun ngeluarin buku gambar dan krayon. Berusaha membuat rifki merasa nyaman minimal dalam waktu tiga puluh menit ke depan. Saat itu sekitar jam setengah tujuh malam.

a: kamu suka ngegambar ga?

r: suka

a: ayo kita ngegambar yuk. kamu sukanya apa?

r: bimbim

a: he? bimbim? apa itu?

r: mobil

a: ooh mobil hahaha ayo kita gambar mobiiil :D coba kamu gambar mobil.

r: ih ngga bisaaa.

a: ya coba ajaa nggapapaa

r: ngga bisaa

a: yaudah aku yang gambar deh

 

Gue juga yang gambar haha. Dia yang ngewarnain tapi. Gue minta dia nulis namanya. Ternyata dia belum bisa. Gue contohin untuk dia tiru. Ngga lama setelah itu..

r: udah ya aku mau pulang

a: yaah kenapaaa? *panik*

r: malu atuh ih

a: jangan malu. kenapa malu? kita kan sama-sama oraang.

Ah. Malu. Nggak seharusnya mereka merasa malu bukan? Justru kita yang harusnya malu saat kita tengah bersantai berlindung dari guyuran air hujan sedangkan mereka sedang berjuang basah kuyup cuma untuk bisa makan minimalsekali sehari.

 

Berkali-kali gue harus meyakinkan dia, mencari cara, memutar otak supaya gue bisa bikin dia bertahan di sini. Berkali-kali gue nahan dia yang juga berkali-kali minta pulang. Teman-temannya sepertinya mengamati dia dari luar. Beberapa pasang mata di dalam restoran itu juga sepertinya sedikit-sedikit melirik ke arah kami. Tapi gue ngga peduli yang itu. Yang gue pikirkan cuma dia yang ada di depan gue. Gimana cara naklukinnya.

 

Kumohon.. sampai jam tujuh malam saja…

 

Tidak terlalu banyak cerita yang gue dapatkan dari dia. Yang gue tau, dia hanya tinggal dengan ayahnya. Ayahnya bekerja berjualan pulsa. Dia hari itu belum mendapat sepeser pun. Iya karena memang baru saja hujan dan langsung gue ajak ke sini.

a: eh eh *bisik-bisik* kamu sehari biasanya dapet berapa kalo ngojek payung?

r: hmm 50.000 bisaa

a: woow 50.000? (lumayan juga.. tapi kan hujan ga tiap hari)

 

Ternyata dia juga bisnis layangan loh. Dia bikin layangannya sendiri. Harganya 500 atau seribu per buah.

a: 500? murah bangeeet.

r: ada juga yang seribu

a: bedanya apa?

r: aku juga gatau bedanya apa haha

Ahahahaha. Konyol.

 

Dia sekolah. Kelas 2 sd.

Lagi, dia meminta pulang. Gue hampir kehabisan akal. Katanya dia udah ditungguin sama ayahnya. Katanya uda mau tutup.

a: oh emang kamu kalo pulang barengan sama ayah kamu?

r: iya jam 7 lewat udah tutup biasanya

a: sekarang kan belum jam tujuh lewaaat :p

r: iya tapi udah mau tutup

a: yaah iya sebentar lagi tunggu ya sampe jam tujuuuuh aja *memohon* kamu pulangnya biasanya jalan kaki apa gimana?

r: ya jalan kaki

a: berapa lama?

r: yaaa sebentar paling dua jam lah

a: 2 jam? (apaa? itu sebentar?) aku aja yang pulangnya cuma setengah jam naik angkot. payah ya? ._.

r: ahaha iya

rifki yuda 2

 

Salah satu temannya masuk. Namanya yuda.

Situasinya makin nggak kekontrol. Okay. Let it flow. Taaaaan, lu pikir gampang? Rifki tuh punya temen. Emang lu doang yang punya temen? Ternyata bersikap adil itu emang sangat nggak gampang ya? 

 

Keliatannya yuda menginginkan makanan yang ada di meja. Yang sebelumnya gue bilang ke rifki itu bawa pulang aja buat makan malem bareng ayahnya. Ah.. kebetulan gue juga lagi nggak banyak uang. Maaf ya yuda :(

Akhirnya gue bilang ambil aja minumannya tapi bagi-bagi sama yang lain..

rifki yuda

Kami menggambar mobil. Juga ada nama-nama teman-teman rifki. Terus gue bikin cerita. Ceritanya yang berdiri di samping mobil itu rifki. Rifki udah gede dan punya mobil bagus. Gue bilang kali yang di bawah itu temen-temennya. Dan gue minta dia berjanji kalau misalnya itu bakal jadi kenyataan nanti, rifki harus ngajak temen-temennya jalan-jalan pake mobil dia. Yang duduk di depan itu dia sama ayahnya.

Di sebelah kanannya itu yuda, katanya dia suka baca buku cerita. Berhubung katanya rifki ngga suka baca buku cerita, jadi buku ceritanya gue kasih ke yuda. Rifki mau jadi ABRI tapi gatau alesannya apa. Yuda pengen jadi tentara karena katanya keren. Yuda juga suka bikin layang-layang, sama kaya rifki. Tapi dia dibantu ayahnya, katanya ayahnya jago. Kalo rifki katanya bikin sendiri, ngga dibantuin.

Ngga lama setelah itu muncul lagi satu temannya, namanya..

Aldi.

God. Gue terdiam sebentar. Inget sesuatu. Ngeliatin aldi lebih jelas. Oh, bukan. Anak itu belum bersekolah. Tapi katanya dia baru mau masuk sekolah. Gue bilang ke yuda sama rifki buat bantuin aldi belajar. Bilang ke aldi supaya dia rajin belajarnya. Mereka mengangguk dan mng-iya-iyakan.

Meski terhambat dengan lagi-lagi rifki meminta cepat pulang, akhirnya gue berhasil menahan dia sampe jam 7. Alhamdulillah..

rifki yuda aldi

Makasih banyak untuk waktunya yaaa rifki, yuda, dan aldi :)

 

Sudah jam 7, akhirnya rifki boleh pulang haha.

r: *tergesa-gesa tapi terlihat bahagia* udah ya kak pulang ya

a: iyaa eh pelan-pelan atuuuh aku kan juga mau pulaang bareng pulangnya.

 

Kami pun menuju ke arah pintu keluar.

y: kak nanti add facebook atuh

a: widiiiiih. emang kamu punya facebook? hahahahahaha

 

Aldi pun berkali-kali mengucapkan terimakasih haha :3

 

Hari itu, selain belajar bersyukur, gue sangat belajar tentang satu kata yang namanya berbagi. Menyadarkan gue kalau anak seperti itu nggak cuma satu. Rasanya seperti menusuk gue untuk memikirkan bagaimana cara berbagi yang adil. Maaf.. untuk belum bisa berlaku adil saat itu. Gue masih belum siap. Menunjukkan ke gue satu lagi kebahagiaan yang sederhana. Bagaimana bahagianya mereka saat melihat buku-buku dan alat tulis, melihat makanan, minuman dengan antusias dan kepolosan mereka. Bagaimana nggak pedenya mereka saat masuk ke tempat yang menurut mereka itu sangat wow dan malu untuk ada di situ. Menyadarkan gue kalau itu harusnya nggak boleh terjadi. Hari itu gue bisa dengan cueknya ngobrol, cerita-cerita dengan mereka di tengah-tengah orang (yang gue yakin jauh lebih mampu dari mereka). Saat itu gue merasa ada di dunia yang berbeda dengan orang-orang itu. Gue.. menikmati dunia gue saat itu n_n

Yang gue harapkan semoga barang-barang kecil itu bisa bermanfaat. Mereka bisa berbagi dengan baik dengan teman-temannya, orang-orang di sekitarnya. Semoga bukan malah jadi bahan berantem ya hehe.