Kita selalu tau apa konsekuensi dari setiap pilihan yang kita ambil bukan?

Keputusan gue ngambil 18 sks semester 6 kemaren–dengan niat awal fokus kuliah, kemudian fokusnya terpecah dengan beberapa kegiatan (yang cukup memakan waktu). Dari mulai (yang tidak bisa dihindari) 5 projek kuliah, pelatihan microsoft yang menghasilkan game perdana dari tim amatiran, menjadi bagian dari tim game developer (yang intinya gue cuma bermodal corel photoshop dan google) lain untuk sebuah kontes, menjadi anggota keluarga baru di salah satu kepanitiaan besar di kampus, menghasilkan 1 film dokumenter (yang setidaknya better than last year) bersama tim yang luar biasa, memutuskan untuk ikut memainkan warna-warni cat pada sebuah kanvas dalam sebuah kontes (yang rutin ada tiap tahun), menyanggupi permintaan bantuan sebuah grup untuk merancang sesuatu (yang -gue gatau diri banget- sampe sekarang belum 100% beres).
Tertinggal banyak materi kuliah, menghabiskan jatah absen, kadang hilang konsentrasi hilang fokus, pola istirahat kembali kacau, sering pulang larut, membuat yang di rumah khawatir, mungkin sesekali takut, nggak yakin bisa mengejar semua ketertinggalan. Meskipun kadar takut untuk gagal (lagi) sekadar memberi sedikit ketenangan kebanggaan atau kabar baik kepada mereka yang amat sangat berjasa itu jauh lebih besar.

Hasilnya?
Nggak semuanya berhasil. Nggak semua sesuai prediksi. Nggak semua sesuai harapan.

Tapi yang jelas, gue nggak pernah menyesal memilih semua keputusan itu. Ga ada yang memaksa, meskipun itu berawal dari sebuah ajakan. Gue yang memilih. Gue tau manfaatnya dan resikonya.

Gue menikmati semuanya. Alhamdulillah gue juga merasa banyak mendapat manfaat, pelajaran, dan pengalaman berharga. Gue belajar banyak.

Dan di saat gue masih ngga becus ngurus diri sendiri, lalai menunaikan kewajiban paling fatal, tidak banyak membantu di rumah, tidak selalu bisa memastikan kabar para sahabat (sekadar memastikan mereka baik-baik saja). Beberapa kali mungkin tidak bisa jadi orang yang benar-benar diandalkan dalam kelompok. Sempat membuat mereka kesal atau bahkan malas mungkin. Ya, banyak kekacauan.

Tapi tau kah?

Dia tetep baik.
Iya. Dia.
Selalu. Baik…

Baru saja beberapa waktu lalu ayah bilang terus terang bahwa beliau kecewa dengan cara gue mengambil keputusan untuk suatu hal. Iya. Amat sangat. Benar-benar kecewa. Menusuk sekali rasanya. Gue udah dua puluh tahun menjejakkan kaki di dunia dan masih ngga becus mengmbil keputusan untuk urusan sepele seperti itu. Kalau masalah beliau berhasil bikin gue nangis jangan ditanya. Doi ahlinya.

Untuk hal lain, sebagai penutup perjalanan gue di semester ini. Semua karena Dia. Iya, karunia-Nya yang pada satu sisi bisa jadi nikmat tiada tara namun di sisi lain bisa jadi ujian ganas. Apapun itu, gue nggak bakal bisa berhenti berterimakasih.

More than enough, God :”)
..untuk effort gue yang nggak seberapa.

Tapi setidaknya gue rasa itu bisa cukup membuktikan ke musuh terbaik gue kalau selama enam bulan kemaren gue nggak salah mengambil keputusan.

Rasanya senang bukan main saat musuh terbaik gue itu menelfon balik langsung setelah menerima pesan singkat gue –meski ekspresi itu nggak (pernah) gue tunjukkan padanya.