Dari TK SD SMP SMA sampe kuliah gue hidup di Bogor. Kurang aman apa lingkungan gue selama ini. Sekolah dan dan kampus pun lingkungannya masih aman kalo menurut gue. Apalagi gue pulang-pergi. Sempet sih ngekos. Tapi itu pun tiap weekend atau hari apapun kalo lagi butuh gue bisa pulang. Pulang semalem apa pun juga akses kendaraan umum ke rumah gue ada dan alhamdulillah selama ini sih relatif aman.

Sekarang gue pkl di Jakarta.

Beberapa waktu lalu sebelum gue mulai pkl bokap nasehatin gue ini-itu dengan nada serius dan agak tinggi.

Beliau menunjukkan kekhawatirannya. Intinya: “Ini Jakarta loh.”

Sempat terlintas kekesalan di benak gue setelah mendengar kalimat-kalimat dan nasehatnya.

Please, dad, I’m not a little kid anymore. Gue bukan anak kecil yang kemana-mana mesti dijagain ditemenin. Toh selama ini juga gue diajarin hidup mandiri dan nggak manja. Lagipula Jakarta kan nggak jauh. Gue jadi kaya orang desa yang belum pernah ke kota sampe mesti dibilangin ini itu biar ngerti kehidupan di sana kaya gimana.”

 

Banyak yang bilang hidup yang sebenernya baru bener-bener dimulai saat kita keluar dari zona nyaman

 

Well gue udah sekitar satu bulan tinggal di Jakarta (walaupun tetep tiap weekend pulang). Setidaknya gue udah merasakan perbedaan antara tinggal di Bogor dan di Jakarta. Pada akhirnya hal tersebut makin bikin gue jadi makin cinta kota Bogor yang kadang suka gue keluhin karena macet banyak banget angkot banyak pengamen dan udah mulai sering panas itu. Alhasil gue selalu menanti-nanti weekend dan menikmati suasana kota Bogor setelah balik dari Jakarta.

Kalo ada yang bilang Jakarta itu keras, gue nggak bisa bilang ngga setuju. Tapi kalo dibilang Jakarta itu kota yang maju sukses tempat bernaung gedung-gedung pencakar langit  dan banyak lapangan pekerjaan yang menjanjikan juga nggak bisa dibilang salah.

Tempat PKL gue nyaman, ruangan berpendingin dan selalu tersedia koneksi wifi gratis. Kosan gue juga nggak kalah nyamannya. Terus kenapa gue bisa setuju kalo Jakarta itu keras?

Selain biaya hidup di sini emang lebih di atas biaya hidup di Bogor, hal lain yang gue nggak suka adalah betapa padatnya kota ini. Gue naik metromini ke tempat pkl. Metromini termasuk sering penuh, busway juga biasanya penuh. Setiap transit di shelter busway  juga gue liat yang nunggu bis banyak. Kendaraan pribadi juga nggak kalah banyaknya. Parkiran tempat gue pkl juga biasanya rame. Nyebrang jalan harus super hati-hati. Parah lah crowded-nya

Itu belum ditambah penjual kaki lima pengemis dan pengamen. Sementara ini metromini emang paling wow kalo menurut gue. Beberapa kali gue naik metromini yang supirnya nggak mikir-mikir lagi buat ngelewatin batas jalan nerobos lampu merah bahkan sampe pernah marahin kendaraan di depannya yang berhenti karena lampu merah. Gerombolan metromini kadang keliatan kaya lagi di arena balap mengejar garis finish dengan kecepatan super cepat secepat mereka bisa.

Penjual tisu, aksesoris, dan sebagainya lalu lalang masuk-keluar metromini. Pengamen dalam satu kali perjalan gue pulang dari tempat pkl ke kosan bisa sampe lima kali ganti. Itu juga macem-mecem. Dari anak kecil remaja dewasa sampe kakek-kakek. Ada yang ngamennya sekeluarga (ayah-ibu-anak). Ada juga yang baca puisi tapi baca puisinya kaya ngajak tauran. Gayanya macam preman yang bikin orang-orang takut dan yang paling pasti makin males buat ngasih uang. Pernah juga ada yang aneh-aneh sampe bawa-bawa silet nyilet tangannya sampe berdarah. Terus? Ga ada yang peduli.

Sikap dan tingkah individualis yang gue liat di kota ini lebih tinggi dari di Bogor. Emang sih kita mesti banget hati-hati jaga diri juga barang bawaan. Harus banget satset deh pokonya. Gerak cepet. Semua orang terlihat sibuk. Kota ini sibuk. Pemandangan orang-orang bermasker pun nggak jarang gue liat. Polusi.

Banyak pusat perbelanjaan dari mall minimarket sampai warung. Bagus juga sih jadi kalo butuh apa-apa gampang. Banyak banget deh tempat ini-itu yang kadang bikin gue fudul pengen ngunjungin beberapa tempat tapi nggak selera begitu inget padetnya jalanan. Nggak ada space yang cukup lengang dan asik buat jalan dan bener-bener nikmatin waktunya berjalan. Selama ini sih di daerah gue ngekos dan pkl gue belum pernah nemuin. Yang gue pengen begitu beres jam kantor adalah gue pengen cepet-cepet nyampe kosan.

Sebenernya kehidupannya nggak buruk. Semuanya yang serba praktis ada. Sinyal oke. Listrik air nggak masalah. Jauh banget kan bedanya kalo dibandingin sama temen-temen gue dari departemen lain yang harus kkp ke desa-desa terpencil dimana air listrik dan sinyal adalah sesuatu yang ajaib dan harus bekerja keras dulu untuk bisa makan.

Hal paling gue idam-idamkan selama tinggal di sini adalah ketenangan, udara yang bersih, wajah-wajah ramah dan menyenangkan.

Satu hal yang bisa gue simpulkan, orang-orang  Jakarta (apalagi yang hidupnya bergantung sama kendaraan umum) itu tangguh.

 

Ya itu lah hidup. Kita nggak bisa terus-terusan mendekap di lingkaran nyaman kita. Kita harus melihat keluar. Banyak yang terjadi di sana. Singkatnya kita nggak bisa terus-terusan main game di dalam kamar sepanjang hari sementara di rumah kita lagi ada acara ngundang banyak orang dan butuh banyak tenaga buat sekadar bantu-bantu. Atau kita tidur seharian sementara di luar sana banyak manusia yang sudah terjaga dari sebelum subuh untuk menyiapkan dagangannya dan kemudian langsung pergi ke pasar untuk berjualan. Kalo nggak gitu, mereka nggak makan.

Keluar dari zona nyaman juga bisa berarti melawan ketakutan kita terhadap sesuatu. Memberontak. Mendobrak tembok pembatas antara ketakutan dan kesuksesan.

Kamu bisa saja tidak keluar lingkaranmu. Hanya saja kamu tidak akan berkembang. Bukannya nggak boleh selalu ada di zona nyaman. Itu pilihan. Tapi saat kita mencoba beranjak dari kasur empuk kita, membuka pintu keluar rumah dengan kunci pembunuh rasa takut, kita akan melihat sesuatu yang ajaib.

engga ah takut

Coba tengok bahkan kalo bisa kunjungi dan taklukkann dunia luar yang jauh dari nyaman. Kamu akan menemukan banyak hal baru, menarik, dan menantang. Penuh resiko. Menegangkan. Kamu akan belajar banyak hal. Kamu akan bergumam oh ternyata begini ya, begitu ya, oh ternyata ada ini, ada ya yang kaya gitu, kamu akan bertemu dengan perasaan yang campur aduk, sedih, senang, khawatir, ragu-ragu, sedih tetapi sedetik kemudian senang, panik, kecewa, marah, bangga, seterusnya sampai kamu menyadari bahwa banyak hal yang belum kamu tahu di dunia ini. Sampai kamu tahu banyak cara untuk menyelesaikan sesuatu untuk menghadapi berbagai macam hal. Selalu ada cara. Seminimal apapun kondisinya selalu ada jalan keluar. Sampai kamu tahu begitu pentingnya setiap keputusan yang kamu ambil. Setiap langkah. Setiap sikap yang kamu pilih. Begitu berharganya setiap detik, bahkan setiap milidetik. Sampai kamu sadar bahwa banyak orang di sekelilingmu yang satu waktu bisa jadi penolong tapi di kesempatan lain bisa jadi penghambat. Namun semuanya (baik penolong ataupun penghambat) ternyata punya makna dan pelajaran tersendiri yang bermanfaat untuk kamu. Pengalaman. Wawasan. Kemampuan. Semuanya bertambah. Bukan perjalanan yang mudah. Sulit. Sangat sulit. Tapi saat semuanya berhasil kamu taklukkan..

out of comfort zone

Kamu akan mendapatkan harta karun pada akhirnya. Sesuatu yang nggak bisa dibeli cuma-cuma. Harganya adalah keringat perjuangan, pengorbanan, dan pemikiran yang hebat. Kamu akan merasa sangat puas. Letihmu terbayar, lega dan senang bukan main rasanya. Kamu menambah segalanya. Segalanya untuk bisa naik ke level yang lebih tinggi menuju zona tidak nyaman berikutnya dan mendapatkan harta karun yang lebih besar :)