Bincang Pendidikan Inonesia (BPI) 2014 ini acaranya @bincangedukasi yang diadain tanggal 18 Mei 2014 di Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI), Jakarta Selatan.

Temanya Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan. Kecenya ada 15 pembicara dalam 1 hari dan secara keseluruhan menurut gue topiknya menarik dan gue jadi tau banyak sesuatu yang baru.

Pertama Ibu Suharti (peneliti Bapenas) yang nunjukin hasil penelitiannya kalau sekolahan di Indonesia umumnya bisa disebut Silent Class. Kenapa? Karena guru-gurunya sedikit bicara, sekitar 2633 kata setiap pertemuan (Rata2 OECD: 5000 kata). Muridnya? Beuh lebih dikit lagi. Pasif.

Abis itu, Ibu Nenny Soemawinata dari Poetra Sampoerna Foundation menginfokan kalo 54% guru di Indonesia itu ga memenuhi standar kualifikasi seorang guru. 

Meneladani pemikiran Ki Hadjar Dewantara– Sistem pendidikan & pengajaran harus disesuaikan dengan kepentingan rakyat, Pak Harry Santosa dari Millenial Learning Center  ngebahas Pendidikan Berbasis Komunitas, yaitu berdasarkan keterampilan tertentu yang memang sesuai sama kearifan lokal di lingkungannya. Misalnya, anak nelayan kalau sekolah nggak melaut, kalau melaut nggak sekolah. Jadi kenapa ke laut itu nggak dimasukin ke pelajaran sekolah aja? 

Butet Manurung @manurungbutet juga dateng loooh, bukan sebagai pembicara sih, tapi beliau juga berbagi kisahnya di Sokola Rimba. Anak-anak Sokola Rimba menurut gue cukup kritis dan punya rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka mau belajar sesuatu kalo emang mereka tau apa manfaatnya dan dapat menjadi solusi permasalahan yang ada di lingkungan mereka. Ada juga Pengendum, siswa dari Sokola Rimba yang mendalami dunia perfilman sampai akhirnya film dia jadi pemenang di salah satu Festival Film di Melbourne.

Sesi berikutnya dari  Suara Anak, yaitu sebuah gerakan untuk mendukung anak-anak usia 7-12 tahun dalam menekuni kegemarannya. Di acara ini ada 4 anak yang presentasi tentang minat mereka dan bagaimana mereka mengembangkannya. Ada Luffy yang hobi main drum dan pernah bikin stik drum dia mental saat pentas karna grogi. Ada Satya yang tergila-gila sama Perang Dunia 2 yang awalnya karena ketertarikannya dengan film berjudul Band of Brothers. Ada ceca yang nggak sekolah dan mendalami bidang astronomi, aktif di HAAJ bahkan udah dipercaya buat jadi pembicara di acara-acara astronomi. Terakhir ada tata, anak home schooling yang hobi banget gambar.

Lalu ada Cozy Street Corner @cozystcorner yang tampil bersama mbak @anyi_karina dan @GerakanPMA yang ngajarin kalo musik itu bisa jadi media pembelajaran. Lagu-lagunya sederhana bangeet tapi asik dan liriknya lucu gitu haha. Ada juga lagu yang isinya alamat rumah seorang anak. Dibikin jadi lagu supaya anak itu hafal alamat rumahnya yang panjang :3

Terus ada Monica Irayati dari Erudio School of Art (ESOA), yaitu sekolah semacam SMK yang berbasis proyek dan pendidikan demokratis, sesuai ajarannya Ki Hadjar: Pendidikan Indonesia haruslah pendidikan yang memerdekaan siswa. Di sini siswa-siswinya bener-bener bebas berpendapat. Misal pas lagi jam pelajaran, ada siswa yang lagi bete, terus dia jadi nggak mood buat belajar. Dia boleh loh minta izin keluar kelas. Termasuk kalo dia nggak suka cara ngajar gurunya, dan ngerasa kalo itu ngebosenin. Dia berhak bilang terang-terangan dan nggak ngikutin kelas. Guru di situ harus nerima dan bahkan harus melakukan evaluasi dari caranya mengajar. Ada juga yang namanya Pertemuan Agung, dimana murid-murid, guru-guru, bahkan kepala sekolah berkumpul di satu tempat untuk mendiskusikan atau menyelesaikan suatu permasalahan. Untuk bikin suatu peraturan aja, murid harus dilibatkan. Ga boleh cuma sepihak.

Ada juga @IMRiqo dari @Kartunet yang ngebahas pendidikan inklusi dan hak-hak pendidikan kaum difabilitas. Mereka dengan keterbatasan penglihatannya udah jago loh mengerjakan segala sesuatu layaknya manusia normal. Mereka juga udah bisa ngoprasiin komputer dan malahan ngelola website sendiri. Salah satu aplikasi yang sangat membantu mereka adalah Sceen Reader. Ohya audio-book itu dibutuhin banget sama mereka buat bisa baca. Jadi, buat yangtertarik, bantu yuk ngirim rekaman suara kita yang ngebacain satu artikel atau buku supaya bisa dikonsumsi mereka. Buka web nya kalo mau tau lebih detil di sini :)

Kemudian ada Shefti Latiefah @sheilayla dari Save Street Child, sebuah gerakan untuk membantu pendidikan anak jalanan dan kaum marjinal melalui kelas-kelas belajar gratis dan tenaga pengajar sukarela. Saat ini SSC udah berkembang jadi yayasan dan udah punya banyak kelas di berbagai kota.

Setelah itu ada Pak Sigit Kurniawan @SadewaIND yang ngebahas pendidikan untuk outreach area dengan membuat program sekolah jauh (sekolah satelit). Bantuan yg diberikan melalui PSF-School Development Outreach berupa pelatihan untuk guru-guru dan perbaikan infrastruktur sekolah.

Lanjut ke Ibu Donna Kuswoyo dari Credo yang ngebahas literasi dengan 4 aspek utamanya yaitu mendengar, mengucap, membaca, dan menulis. Kita bisa dikatakan sudah membaca kalau kita tau dan paham apa sih yang kita baca.

Laluuu ada Prof. Daniel M. Rosyid dengan gebrakan Deschooling Indonesia, kembali ke rumah. Beliau berpandangan bahwa keluarga adalah tempat yang paling tepat untuk mendidik dan mendapat pendidikan. Mengirim anak ke sekolah artinya kita pasrah terhadap semua sistem dan kebijakan yang disalurkan sekolah kepada anak. 

Terus ada materi home schooling dan pendidikan berbasis keluarga dari Bapak Sumardiono (Pak Aar) dari Rumah Inspirasi yang mengutarakan pemikiran kalau anak itu bukan kertas kosong, karena mempunyai beragam potensi. Jadi, setiap anak itu harus tau apa yang menjadi minatnya. Anak itu bukan kertas kosong, yang kemudian orang lain atau sekolah yang mengisi kertas tersebut. Minatnya tidak boleh ditentukan secara baku oleh sekolah harus mengerjakan ini-itu dan menjadi ini-itu. Seorang anak harus menemukan passion nya sendiri dan keluarga berkewajiban membantu mengasah bakatnya.

Terakhiiiir ada mas @pandji dengan standup-nya tentang pendidikan yang tetep bikin ngakak. Kalo udah pernah nonton Mesakke Bangsaku, isi standup-nya sebagian besar ada di situ hehe.

bareng pandji

Overall, event ini ngebuka pikiran gue banget. Udah banyak loh gerakan-gerakan, individu, ataupun kelompok yang berusaha, bahkan udah memberikan bukti berupa hasil sebagai solusi dari keluhan-keluhan masyarakat selama ini mengenai pendidikan di Indonesia. Jadi, mulai sekarang ngga usah ngeluh, ngga usah banyak komen, nggak usah sering-sering masang status negatif tentang pendidikan di Indonesia. Cari tau deh tentang perkembangan dan perubahan positif yang udah dimulai oleh banyak orang. Kalo bisa, harus bisa lah yaaa tiru mereka! Buat sesuatu. Sekarang udah nggak jaman komentar, ayo kita sama-sama mulai gerak buat ngerealisasiin apa sih yang kita butuh, kita mau, dan kita impikan. Nggak lama lagi sistem pendidikan di Indonesia bakal kece kok :D

additional resources: @bincangedukasi #BPI2014 dan tumblr bibah