Saat itu lagi ada bazaar buku-buku diskonan di sebuah toko buku. Gue adalah orang yang (biasanya) ngga bisa banget ngobrak-ngabrik lautan barang diskonan dan menemukan ‘mutiara’ di dalamnya.

evil plans

Gue suka gambar di sampul depannya. Sampul belakangnya bilang kalau buku ini membahas tentang pekerjaan, rutinitasnya, dan bagaimana diperlukan rencana-rencana gila untuk keluar dari pekerjaan sekarang (yang sebenarnya Anda benci). Rencana untuk menyatukan pekerjaan dengan apapun yang kita sukai.

Ekspektasi gue awalnya biasa aja. Cuma karena kepo dan (kebetulan) harganya hanya 7 ribu rupiah rasanya ngga dosa buat iseng beli buku (yang kurang meyakinkan).

Ternyata buku ini bagus,  menceritakan kisah Hugh MacLeod, seseorang yang berkarir di bidang periklanan dan pemasaran. Suatu waktu, karirnya berada dalam masa kehancuran, Hugh bangkrut, dan mulai menghidupi hari-harinya dengan menjadi pekerja lepas hingga terjadi suatu peristiwa, peristiwa legendaris yang biasa disebut dengan kejadian 11 September. Situasi bertambah rumit dan sejak itu pekerjaan menjadi semakin langka dan semakin sulit untuk diraih. Setelah didapatkan pun bukan berarti tidak bisa lepas dengan mudah.

Rencana gila Hugh terpikirkan ketika ia bertemu dengan temannya di sebuah bar dan berbagi cerita sedih masing-masing. Ia tidak mau lagi hidup untuk mengejar pekerjaan. Ia sudah muak. Ia mulai berpikir memanfaatkan jaringan internet untuk menjual gambar-gambar kartunnya. Ya, sudah sejak lama dibalik segala kesibukannya Hugh rutin membuat gambar-gambar kartun sederhana di balik kartu nama. Ia ingin ada sepuluh ribu orang yang memberinya uang setiap tahun.

IMG_20140929_002117

Dengan gaya cerita yang ringan dan gambar-gambar sederhana tapi sarat makna, Hugh menawarkan kepada kita untuk bergabung dengan kelas di luar batas. Suatu waktu, Hugh menulis daftar proyek yang sedang dikerjakannya hingga terurutlah sepuluh nomor. Sepuluh. Di waktu yang sama, teman Hugh mengeluh stres dan pusing dengan dua buah pekerjaan yang sedang mencekiknya.

“Jika memang ada saat yang tepat untuk berada di luar batas, sekaranglah saatnya.”
-Chris Anderson (Kepala Editor Wired 2009)

Poin dari buku ini adalah bagaimana menyatukan pekerjaan dengan cinta. Rencana gila bukan semata-mata untuk mendapatkan uang, tetapi bagaimana menjadi sosok yang kita inginkan. Ada yang salah ketika kita hanya excited di saat akhir bulan karena menerima gaji.  Apakah kita hidup hanya untuk menerima gaji? Bisa membeli makan minum, membayar tagihan listrik, membeli pulsa, dan seterusnya? Apakah setiap hari tidak terlalu berharga untuk tidak dilewati dengan kebahagiaan dan rasa syukur? Hidup bukan hanya sebatas untuk bertahan hidup, tetapi menciptakan dan menumbuhkan nilai-nilai kehidupan.

Ciptakan karya seni setiap hari. Karya seni tidak melulu harus berupa lagu, puisi, lukisan, atau ukiran. Setiap orang memiliki definisi ‘karya seni’-nya masing-masing. Sesuatu yang ketika melakukannya ia semangat, bergairah, menikmati setiap prosesnya. Siapapun pasti membutuhkan kebebasan untuk berekspresi. Mengapa harus bertahan jika bos Anda melarang Anda untuk mengekpresikan rencana gila selama jam kerja?

IMG_20140929_004248

Selain pekerjaan yang dicintai, Hugh juga menekankan pentingnya berbagi. Berbagi apa saja. Sesederhana menulis atau menggambar sesuatu dan membaginya melalui media sosial. Setiap hari, Hugh memberikan hadiah berupa kartun baru kepada anggota milisnya (gapingvoid.com).

Sebagian orang senang dengan apa yang kita lakukan, sebagian lainnya justru benci dengan apa yang kita lakukan. Itu wajar. Mendapatkan orang-orang yang membenci kita dengan segala kritikan dan ocehannya terhadap hasil karya kita justru menandakan bahwa kita berhasil. Kita berhasil menciptakan sesuatu yang mempengaruhi dan menjadi perhatian banyak orang, termasuk para pembenci itu.

Hugh menyampaikan sebuah metafora yang didapatkannya dari seorang biksu mengenai  tiga sosok yang ada pada diri kita. Sosok kita menurut pandangan kita sendiri, sosok kita berdasarkan pandangan orang lain, dan sosok kita di mata Sang Pencipta. Sosok ketiga adalah yang terpenting.

Kita tidak perlu membenci pekerjaan yang telah mengambil banyak dari kita. Semua pekerjaan pasti melakukannya, terutama pekerjaan terbaik. Pekerjaan layak dibenci jika pekerjaan tersebut tidak mengizinkan kita untuk cukup banyak menyumbangkan sesuatu kepada dunia. 

hidup ini singkatBuku ini cukup berhasil untuk mengembalikan motivasi gue yang belakangan ini hilang untuk melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati. Meyakinkan gue kembali terhadap pilihan dan keputusan-keputusan yang gue ambil, khususnya yang berkaitan dengan pekerjaan. Buku ini mengingatkan kembali bahwa setiap hari adalah peluang, peluang untuk mengubah dunia dan merealisasikan rencana-rencana gila kita.