Setahun belakangan ini, gue sering menemukan akun-akun media sosial yang bergerak untuk charity, khususnya di bidang pendidikan. Kebanyakan dari mereka adalah mencoba menjangkau daerah-daerah terpencil, terjun kesana, mengajar di sana, berbagi di sana. Salut.

Pernah gue tertarik untuk bergabung. Seperti mereka, bersama mereka. Tapi sampai sekarang belum pernah terealisasi, kecuali sekali dua kali ikut ke LPK Tepi Sawah yang berlokasi di Kecamatan Cibungbulang, Bogor.

Gue selalu tertarik dengan kegiatan-kegiatan dan komunitas-komunitas seperti itu. Menyaksikan dan merasakan semangat (terutama) anak-anak muda Indonesia untuk memajukan bangsanya dan membantu sesamanya.

Ada satu hal yang membuat gue tertahan setiap kali memutuskan untuk bergabung atau terikat dengan salah satu komunitas tersebut. Gue seringkali dihampiri pertanyaan (dari diri sendiri)
“Hey, tan, bagaimana dengan sekelilingmu?”
Sudahkah mereka terjangkau?”
Ada rasa bersalah yang muncul. Selain itu, komunitas-komunitas di luar sana, yang dengan gencar mengajak kami untuk bergabung, gue rasa sudah banyak peminatnya. Jadi, untuk apa gue ikut berebut untuk masuk ke dalam sebuah kotak sedangkan di luar sana masih banyak kotak lain?

Saat ini belum banyak waktu, materi, tenaga, atau ilmu yang bisa gue sumbangkan. Gue pikir untuk saat ini mungkin gue jalani saja dulu usaha yang sedang gue rintis, pekerjaan-pekerjaan lain yang (seringkali) datang tak disangka. Setiap orang memiliki cara ‘berbagi’-nya masing-masing. Sambil terus melakukan cara berbagi sederhana ala gue, gue berusaha meraih kotak terdekat. Karena memulai dari awal butuh modal yang besar. Gue masih berusaha mengumpulkannya sedikit demi sedikit.