Akhir-akhir ini suka kepikiran. Tujuan dan rencana hidup yang kesannya bersifat duniawi. Bagaimana kalau waktu di dunia tinggal sebentar lagi?

Apakah mesti menunggu jadi miliyarder, atau jutawan, atau sangat ‘sukses’ dulu baru bisa bermanfaat buat banyak orang?

Apakah harus menunggu setahun dua tahun nabung dulu untuk memberi sesuatu yang ‘wow’ buat ayah ibu?

Bagaimana kalau ternyata usia tak sampai disitu?

Lalu gue jadi belajar lagi kalau..
memberi itu menjadi berarti bukan ketika yang diberi itu ‘banyak’ atau ‘besar’
tapi ketika tepat pada waktunya dan tempatnya

Sederhananya,

Ketika gue lupa bawa dompet dan nggak nyisain uang di kantong
Pemberian tiga ribu lima ratus rupiah di dalam angkutan umum sebelum gue turun akan amat sangat jauh lebih berarti dibandingkan empat juta rupiah yang ditransfer ke rekening gue esok harinya

Ketika ada seseorang yang sekarat karena kelaparan
Sebungkus nasi atau sepotong roti akan amat sangat jauh lebih berarti daripada undangan makan all you can eat di restoran mewah esok harinya.

Bukankah hidup sesederhana itu?
Sesederhana itu untuk bisa memberi berdasarkan apa yang dibutuhkan.
Sesederhana itu untuk bisa dikatakan bermanfaat (minimal untuk satu nyawa).

Hiduplah untuk hari ini, terlebih dahulu.
Hari ini. Apa yang memang pasti sedang ada di hadapanmu.
Hari ini. Apa yang Tuhan hadapkan kepadamu.

Karena hari esok ngga ada yang tau.
Nggak ada yang tau,
apakah masih ada kesempatan untuk bisa setidaknya
tersenyum kepada sesama.

Atana
09-05-2015
21:54