“Sampe sini aja a..”

Dia tidak menghentikan kendaraannya, pun tidak mengurangi lajunya. Kemudian aku tiba persis di depan rumahku dan mengucapkan terimakasih.

Aku bukan anak yang manja, setidaknya menurutku. Aku dididik agar bisa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Bahkan ayahku tidak suka kalau aku menangis. Pergi-pulang sendiri kemana-mana tidak pernah menjadi masalah. Pulang malam sendirian dengan transportasi umum sudah menjadi hal yang biasa buatku. Meskipun beberapa kali ayahku protes juga kalau terlalu malam.

Sampai suatu hari, ayahku marah. Karena aku pulang sendiri sekitar jam 1 pagi. Sampai saat ini, bagiku itu adalah marah terbesar terkait masalah pulang malam sendiri.

Waktu itu aku baru saja pergi berwisata dengan teman-temanku ke Jakarta dan kami naik KRL. Sampai stasiun, kami berpisah sesuai arah jalan pulang masing-masing. Semua berjalan normal sampai aku menelepon orang rumah minta dijemput karena angkutan yang aku tunggu tak kunjung datang. Dari situ lah mulai terasa aura kurang baik dari suara orang tuaku di telepon.

Sampai rumah aku kena marah. Oke itu wajar, salahku karena terlalu malam. Tapi yang mengejutkanku adalah ketika ayahku bertanya apakah tidak ada laki-laki di antara teman-teman yang ikut pergi. Sayangnya ada, dan lebih sayangnya lagi ada beberapa. 

Sebelumnya aku tidak merasa ada yang salah dengan teman-temanku yang laki-laki. Toh rumah mereka juga kebanyakan beda arah denganku. Aku juga merasa tidak enak kalau ada yang harus mengantarku pulang baru kemudian putar arah untuk pulang ke rumahnya. Selain pasti melelahkan, waktunya juga akan banyak terbuang.

Namun ternyata itu menjadi penting di mata ayahku. Bagaimana pun kondisinya, jika ada kegiatan sampai malam yang melibatkan perempuan di dalamnya, (jika ada) laki-laki harus bertanggung jawab. Memastikan setiap perempuan yang tergabung di dalamnya telah sampai dengan aman di rumahnya.

Kejadian itu tidak lantas membuat aku jadi selalu meminta untuk diantar-jemput. Ya, aku cukup berusaha untuk tidak pulang terlalu larut lagi. Namun, sejak dini hari itu, aku punya pemahaman baru tentang bagaimana seorang laki-laki bersikap laki-laki.