Komitmen


Beberapa waktu belakangan aku sering mengeluh karena pekerjaan. Pekerjaan yang tidak selesai-selesai namun terus bertambah. Sedangkan banyak hal lain (yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan) yang sangat ingin aku lakukan.
Aneh ya. Aku mengeluh atas apa yang telah menjadi keputusanku. Toh sebelumnya aku bisa memilih untuk tidak menerima pekerjaan atau permintaan yang ditawarkan. Oke, selain karena umumnya yang meminta bantuan adalah orang-orang yang kukenal, di sisi lain aku juga tetap ingin memiliki penghasilan. Aku tidak terlalu repot dengan berapa besar jumlahnya. Setidaknya, aku tidak harus selalu memanggil ayah Ibuku untuk pretelan-pretelan yang membutuhkan uang.
Aku berdoa untuk diberikan rezeki yang cukup. Ketika pintu itu dibukakan, aku mencoba masuk tapi bersungut-sungut di dalam.
Iya aku salah. Beberapa janji belum terlunasi. Aku sampai kena ‘sidang’ di meja makan mengenai hal ini.

Ayahku bilang aku tidak diberikan kewajiban untuk bekerja (dalam artian menghasilkan uang). Namun, ketika aku memutuskan untuk menerima sebuah pekerjaan, aku harus bisa menanamkan komitmen di dalamnya.

PS:
Tulisan ini dibuat sebagai tanda permintaan maaf untuk semua orang yang belakangan ini kena dampaknya. Terutama untuk orang-orang baik, yang telah memberikan kepercayaan kepadaku untuk membantu mereka menyelesaikan pekerjaannya. Maaf karena ketidaktepatan waktu. Maaf untuk (mungkin ada) hasil pekerjaan yang tidak sesuai harapan. Maaf untuk sebagian waktu dalam proses pengerjaan ketika aku sempat tidak melakukannya dengan hati.

Advertisements

Leave your comment ! :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s