Bayangkan kamu ada di sebuah ruangan, di depanmu terpampang sebuah layar raksasa. Layar tersebut menampilkan semua hal yang kamu lakukan sejak awal kamu dilahirkan sampai saat ini.

Bagaimana kira-kira ekspresimu?
Bagaimana perasaanmu?
Didominasi tangis, bahagia, kekecewaan, tawa, atau justru penyesalan?

Tak usah kamu pedulikan berapa banyak dan siapa saja penontonnya.
Cukup dirimu sendiri.

Kalau itu aku. Untuk scenescene ‘antagonis’ yang aku perankan  kemaren, aku pasti menyesal. Aku pasti malu. Malu terhadap diriku sendiri. Karena aku yakin semua manusia pada dasarnya punya hati yang baik. Ketika mereka menyaksikan sendiri perbuatan mereka yang mereka paham bahwa itu salah, pasti hatinya gelisah bukan?

Apakah wajar kalau rasa takut sering menghampiriku belakangan ini? Kabar beruntun tentang kepulangan secara tidak langsung membuatku semakin takut. Siapkah aku? Bagaimana perkataan dan pebuatanku? Apa kabar amalku, ibadahku, akhlak-ku? Bisa kah dibilang cukup dan pantas untuk diterima?

Rekam jejak hidupku mungkin memang jauh dari baik dan sempurna. Tapi masih boleh kan, Ya Allah, aku memperbaikinya?

Aku mohon, tuntun aku Ya Allah..