Sabtu-nya Bogor siang ini  adalah perpaduan antara trans pakuan, perempuan-perempuan baik, hujan, dan ojek payung.

Pagi tadi aku bertemu dengan seorang Ibu yang membawa plastik belanjaan dari pasar, berdiri di sebelahku yang sama-sama menunggu trans pakuan. Ibu ini bercerita tentang empat anaknya yang Alhamdulillah telah menjadi ‘orang’ semua dan keempatnya sudah menikah. Rasanya memang tak bisa dibantah ya, bagaimana kebahagiaan terpancar dari wajah seorang perempuan yang telah berhasil menuntun putra-putrinya sampai memiliki keluarga baru dan pekerjaan yang baik. Bagaimana seorang wanita tidak akan benar-benar bisa melepaskan anaknya sehingga berusaha untuk tetap bisa tinggal berdekatan. Pagi tadi, Ibu ini dengan baiknya membayarkan karcisku.

Siang harinya, aku kembali menunggu trans pakuan untuk pulang. Hujan mulai datang saat aku tiba di shelter. Tempat menunggu bis itu sedang direnovasi. Aku tidak membawa payung. Tapi itu sudah biasa.

Di sebelahku juga ada seorang perempuan berwajah Arab yang berdiri untuk tujuan yang sama denganku. Dia membuka payungnya dan mengajakku untuk bergabung. Kami memulai perbincangan sederhana. Ternyata dia masih kuliah. Bis yang ditunggu lama sekali datangnya. Perempuan tadi menggeluti bidang public relation. Darinya aku tahu bahwa untuk menguasai ilmu tersebut, ia juga harus belajar psikologi sehingga terkadang ia bisa menebak karakter orang dari caranya berbicara.

Bisnya datang. Sudah agak penuh. Aku mengeluarkan selembar dua puluh ribuan. Kebetulan perempuan tadi juga mengeluarkan pecahan yang sama dan dia memberikannya terlebih dahulu ke kondektur karena posisinya lebih dekat. Sang kondektur memberikan kode apakah itu pembayaran untuk dua orang (dengan aku maksudnya). Si perempuan tadi langsung mengiyakan.
Sayangnya aku tak punya uang pas dan dia juga tidak ada uang kembalian. Jadi dia membayarkan karcisku. Aku minta kontaknya saja, siapa tau aku bisa membayarnya atau mengirimkan sesuatu padanya. Tapi dengan entengnya dia berkata;
“Yaelah lima ribu doang gue hajar lu.”

Haha. Ya sudah. Aku akhirnya menunjukkan salah satu gambar produk GoodNote, menawarkannya agar aku bisa mengirim notebook atau kartu pos kepadanya. Tapi dia kekeuh. Nggak usah. Jadi dia hanya memintaku untuk mention saja akun instagramnya. Baiklah.

Ketika turun, aku bergerak secepatnya untuk sampai rumah. Yah kehujanan sih. Aku khawatir dengan isi tas. Setengah jalan, ada seorang anak yang menawarkan jasa ojek payung. Oke aku mau. Dia laki-laki, usianya tiga belas tahun. Kelas satu sekolah menengah pertama. Sekolahnya di SMP Negeri 3 Bogor. Katanya dia suka pelajaran IPA.
“Pengen jadi pengusaha sukses.”
“Hmm apa aja deh asal pengusaha sukses.”
“Atau ngga jadi pemain bola.”
Aku selalu suka dengan mereka, terutama orang-orang dengan kondisi latar belakang seperti bocah itu, yang berani bicara dengan lantang tentang impiannya.

Ohya, perempuan tadi namanya Sheima. Matanya bagus. Bocah laki-laki tadi namanya Reza. Bagi Reza, hujannya Bogor (terutama di tempat yang ramai) adalah sumber rezeki yang sangat disyukurinya.

Terimakasih, mereka adalah bukti bahwa orang-orang baik masih banyak bergelimpangan di dunia ini.