Jika menulis impian bisa membuat saya untuk terus ingat, untuk selalu berusaha menggapainya, untuk selalu berdoa agar dikabulkan, maka saya akan menulisnya. Jika menuliskannya secara detail juga mampu membuat orang-orang yang membaca atau mengetahuinya ikut mendoakan, ikut mendukung, atau bahkan ikut membantu menyampaikan informasi yang saya butuhkan, maka saya tidak akan menjadi ragu untuk menulisnya.

Pencapaian yang (Insya Allah) akan dicapai oleh Atana Sarah Dinda Nadhirah di tahun 2016 Masehi

  1. Memperoleh skor IELTS resmi dengan angka minimal 7.0 dan nilai untuk masing-masing (Listening, Reading, Writing, Speaking) minimal 6.5
  2. Mendapatkan beasiswa penuh (mencakup biaya sekolah, fasilitas tempat tinggal, dan biaya hidup) untuk melanjutkan studi S2 di Australia atau London untuk jurusan studi Interaction Design atau User Experience Design
  3. Mendapatkan Letter of Acceptance dari University of Queensland (untuk studi Master Interaction of Design), University of New South Wales (untuk studi Master of Design), atau dari Kingston University London (untuk studi Master of User Experience Design)
  4. Bisa nyetir mobil
  5. Membaca minimal 24 buku
  6. Mengeksplor minimal satu kota atau negara yang belum pernah dikunjungi
  7. Berhasil menjual buku produksi GoodNote lebih dari 300 buah
  8. Olahraga rutin minimal 15 menit dalam sehari (mulai 16 Januari 2016)
  9. Hunting foto di taman-tamannya Bandung
  10. Menghabiskan minimal satu buku catatan untuk belajar tentang Interaction Design dan User Experience
  11. Menyelesaikan desain untuk GNID Planner 2017 paling lambat 1 Oktober 2016, membuat sample-nya sampai fix paling lambat 15 Oktober 2016, dan mulai membuka pre-order paling lambat 22 Oktober 2016, kemudian sampai 31 November 2016 jumlah pemesan sudah mencapai minimal 100 orang
  12.  Sembuh total dari dermatitis atopik.

 

Kalau membacanya kembali satu per satu, saya masih sulit percaya kalau masing-masing impian itu akan bisa saya capai. Saya masih meragukan kemampuan saya, pun saya masih merasa intensitas berdoa saya masih sangat minim. Tapi selama 22 tahun ke belakang, saya selalu dibuat percaya bahwa Tuhan saya selalu mendengar doa saya. Dia memberikan apa yang saya butuhkan, sebagian adalah yang saya inginkan, namun sebagian lainnya adalah yang saya tidak merasa pernah atau bahkan terpikir sedikit pun untuk menginginkannya. Tapi pada akhirnya saya selalu setuju bahwa hal-hal tersebut memang baik buat saya. Dan hampir selalu, iya, hampir selalu, usaha dan doa saya sebanding dengan hasilnya. Tuhan saya memang yang terbaik. Tuhan saya tidak pernah ingkar.