image

Hampir seluruh hidup saya, saya habiskan di sini. Saya tidak lahir di kota ini. Namun, hanya selang beberapa hari saya lahir, saya sudah berada di sini. Saya tidak pernah keluar dari sini untuk jangka waktu yang lama.

Saya merasakan perubahan yang perlahan namun terus menerus di sini. Saya merasakan nikmatnya semangkuk bakso dengan harga tiga ribu lima ratus rupiah yang menjadi empat ribu rupiah, kemudian empat ribu lima ratus rupiah, sampai tiga belas ribu rupiah dari warung makan bakso yang sama di tempat yang sama. Saat masih sekolah dasar, saya pernah bayar dua ratus rupiah untuk angkot yang saya tumpangi dan saat ini saya harus merogoh kocek sebesar tiga ribu lima ratus rupiah untuk jarak tempuh yang sama.

Lingkungan rumah saya yang dulu sepi dan tenang saat ini dipenuhi bangunan, kios-kios, dan terutama warung kuliner di sepanjang jalan. Bisnis disini merambat cepat. Lahannya sudah hampir habis. Saya selalu merasa paling aman menyeberang jalan di jalan keluar rumah saya karena sangat mudah, karena (dahulu) sepi. Saat ini, meskipun bagi saya masih tergolong aman, saya harus lebih sabar dan berhati-hati karena jumlah kendaraan yang melaju mulai ramai.

Saya sempat trauma masuk ke dalam sebuah mini market dekat rumah saya karena pernah dituduh mencuri sebatang cokelat padahal saya tidak melakukannya, berpikir untuk mencuri pun tidak. Saat itu saya sangat kecewa dan tidak mau belanja ke sana lagi. Sekarang saya hampir setiap hari ke mini market tersebut. Pegawai yang waktu itu mencurigai saya pun sepertinya juga sudah lama tidak bekerja di sana.

Semakin tinggi jenjang pendidikan saya, perjalanan yang saya tempuh untuk ke sekolah semakin jauh. Namun semuanya masih belum keluar dari sini. Perkembangannya hanya dari jalan kaki, naik angkutan umum sekali, dan naik angkutan umum dua kali.
Saya sempat merasakan “ini seperti bukan rumah saya” ketika jalan rumah saya yang sangat khas dengan batu-batu berbentuk persegi kemudian berubah jadi aspal semua.
Saya pelanggan setia abang tukang kue ape, cakue, permen gulali, bakso tusuk, dan mainan bp-bpan yang sekarang tidak pernah lewat lagi depan rumah.

Itu hanya sebagian kecil. Banyak sekali perubahan.

Tapi ada beberapa hal yang tidak pernah berubah sampai saat ini. Salah satunya adalah hujan. Satu lagi adalah semuanya. Semuanya yang membuat saya merasa ada di rumah, tempat paling nyaman sedunia.

Pernah beberapa kali terlintas keinginan untuk pergi jauh, merasakan lingkungan baru, suasana baru, bertemu orang-orang baru. Untuk sekolah atau bekerja misalnya. Tidak hanya sekali saya merasa bosan dengan kota ini. Ide untuk mencoba tinggal di kota lain sudah cukup sering singgah di dalam kepala. Kenyataannya, sampai saat ini, saya selalu ditakdirkan untuk bersahabat dengan si kota hujan ini.

Pada akhirnya, saya merasa bahwa sudah seharusnya saya bersyukur. Bisa (hampir) setiap hari pulang ke rumah, tempat paling nyaman di dunia adalah suatu anugerah.
Jika pada suatu hari saya diberi kesempatan dan ditakdirkan untuk tinggal dalam waktu yang cukup lama di tempat lain.. saya pasti senang dan bersyukur. Tapi saya juga sangat yakin kalau pada saat itu saya akan merindukan Bogor.