Seorang teman memperkenalkanku kepada seekor tokoh monyet yang ia beri nama Cah Monkey lewat dunia maya.

Tidak lama setelah itu, aku dan sekelompok teman sudah tiba di sebuah tempat semacam hutan tempat dimana Cah Monkey dan kawanannya berada.

Awalnya semua berjalan baik-baik saja. Sampai seketika, seekor monyet menghampiriku, menyerangku, dan berusaha menggigit tanganku. Aku tidak tahu apakah itu Cah Monkey atau temannya, atau musuhnya. Tapi aww! Rasanya sakit sekali. Aku tidak mengerti apa yang membuatnya marah sehingga kemudian menerkam. Aku bermaksud memberi sinyal bantuan kepada teman-temanku.

Kemudian, sebagai permintaan maaf dan bentuk ajakan damai, salah seorang temanku berinisiatif untuk mengumpulkan semua orang. Di sana ada sebuah rumah yang cukup besar dan berlantaikan kayu. Kami mencoba membuat sambaran api dari rumah tersebut, membakarnya dari dalam. Umpannya adalah sebuah benda yang merupakan rumah si monyet yang menyerangku tadi. Monyet itu dibiarkan berada di dalam rumah besar dan dipastikan aman di dalam sana, tidak akan terbakar atau terkena api sedikit pun.

Sembari si monyet menyaksikan dari dalam kejadian di luar, setiap orang akan memegang sebatang kayu dan berdiri, bersiap persis di depan rumah kayu itu. Ketika apinya sudah mulai merembet keluar, kami menyalakan batang kayu kami dengan percikan api tersebut. Kemudian kami akan lari sekencangnya sampai di sebuah tujuan, yaitu tempat dimana kami akan menaruh batang kayu berapi yang kami bawa dan menjadikannya satu. Tujuannya adalah agar si monyet tadi melihat kalau kami berani berjuang untuk selamat dari kobaran api demi berdamai dengan dia.

Aku sesungguhnya amat sangat deg-degan dan sama sekali gagal paham. Aku selalu berpikir, apakah rumahnya nanti jadi tidak hangus? Bagaimana caranya monyet tadi tidak akan terkena percikan api setitik pun? Apakah kita akan selamat? Bukankah ini sangat berbahaya karena api akan merambat cepat dan memakan semuanya? Aku tidak habis pikir. Apa hubungannya dengan semuanya? Tapi ini semua karena salahku, salah karena aku yang jadi korban si monyet. Aku tidak punya solusi. Jadi aku menurut saja.

Permainan pun dimulai. Aku takut! Aku takut api. Menyalakan korek api saja aku waswas. Aku berdiri agak jauh. Aku ingin memerhatikan orang-orang dulu, baru kemudian menirunya. Api pun mulai dinyalakan. Setelah ia merambat keluar, aku bingung harus berbuat apa. Aku melihat ada yang langsung lari saja padahal belum menyalakan batang kayu yang dibawanya. Ya sudah aku ikuti saja, aku juga langsung lari. Lari secepat-cepatnya. Sekitar dua meter sebelum tiba di titik akhir, aku lagi-lagi mengikut cara seseorang yang mentransfer api dari batang kayu orang lain sehingga punyanya kini menyala. Aku. Melakukan hal yang sama.

Ternyata seharusnya itu tidak diperbolehkan. Aku curang. Tapi aku diam saja. Aku pun menyebutkan namaku ketika sampai di titik tujuan. Dua orang di sana memegang sebuah kain panjang yang dan menuliskan nama-nama yang telah berhasil membawa batang kayu berapi ke sana.

Semuanya berakhir di sebuah gedung sekolah, sekolah menengah pertamaku. Aku dan teman-teman perempuanku  mencari tempat untuk sholat. Namun ternyata para laki-laki sedang sholat Jumat. Akhirnya kami memutuskan keluar, cari tempat lain. Lewat depan sebuah masjid, ada yang memanggil. Ternyata sekelompok teman laki-laki kami. Mereka sedang isitirahat makan siang.

A: Makan apa?
B: Ketan Bakar
A: Ih ketan bakar kayanya enak ya pul!
C: Yuk beli yuk!

Iya. Ini mimpiku. Amat. Sangat. Absurd.
Terlalu absurd tapi aku masih lumayan ingat ceritanya.
Terlalu absurd hingga aku tidak tahan untuk tidak menuliskannya.