[Repost dari sebuah blog]

Memasuki dunia orang dewasa, setiap hari akan selalu ada kejutan yang terjadi. Kadang yang udah punya rencana nikah muda malah melempem, yang punya niatan ga nikah malah nikah duluan, dan ada juga yang konsisten dengan prinsipnya sejak awal. Dunia orang dewasa memang bukan lagi dunia sederhana yang bisa kita lalui semaunya, tapi penuh dengan pertimbangan dan pemikiran.

Merelakan orang yang sangat dekat dengan kita untuk hidup bersama orang lain ternyata bukan perkara mudah. Apalagi kalau orang yang dia pilih penjadi pasangan hidupnya bukan orang dari lingkungan dekat kita. Beribu pertanyaan kita lontarkan, bukan karena sekedar kepo, tapi lebih kepada memastikan bahwa orang ini cukup dapat kita percaya untuk menjadi pemegang hati dan raga si orang terdekat.

Pertanyaannya kadang terkesan konyol, macam “orang ini bakal gimana ya reaksinya kalau ketemu kita? orang ini kalau marah ngapain? orang ini gimana ya reaksinya kalau denger kita ngomong gini? kemaren ketemu gimana? si dia ngomong apa? trus pas kamu ngomong gitu dia gimana? trus mamanya gimana? trus mamamu ngomong apa?” dan beribu pertanyaan lain yang tanpa lelah kita tanyakan.

melihat orang yang paling dekat dengan kita menikah adalah sesuatu yang sangat emosional. emosional itu bahkan sudah muncul sejak kita tahu tanggal berapa rencana pernihakannya. saat yang si empunya hajat bahkan belum mikir apa-apa, kita udah rempong ngasih ide ini itu, searching ini itu, memastikan bahwa si ratu sehari ini akan terlihat sempurna dan pernikahannya menjadi hal yang tak akan dia lupakan. Memastikan bahwa kita ga luput dari memori hari pentingnya .

To my soon to be bride…..

I’m happy for your choice…

I love you  :)