Aku menemukan tulisan lama, yang bahkan baru kuketahui tulisan ini pernah dirangkaikan oleh wanita paling hebat di dunia.

INDAHNYA UJIAN KEHIDUPAN
            Ujian, satu kata yang kalau kita mendengarnya tidak nyaman dan terasa berat. Terbayang hal-hal yang akan membuat kita pusing dan stres. Padahal sebenarnya ujiian adalah salah satu cara  untuk meningkatkan derajat, kedudukan dan kelas kita. Setiap orang pasti pernah mengalami ujian.  Entah itu ujian untuk naik kelas, naik jabatan atau ujian hidup yang mungkin tidak terduga datangnya.  Setiap orang pasti pernah menghadapi ujian seperti yang diterangkan pada Al Qur’an Surah Al Baqarah (2) : 155, yang artinya: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.  Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”.
            Kira-kira satu setengah tahun yang lalu aku dihadapkan pada ujian yang rasanya amat berat. Apalagi menyangkut orang-orang yang amat dekat denganku, orang-orang yang amat aku cintai.    Bulan Februari 2009, adikku mengabari bahwa ibuku (kami memanggil beliau Emak) yang merupakan satu-satunya orangtua kami sepeninggal Almarhum Ayah kami pada Tahun 2002 silam, masuk rumah sakit. Hasil diagnosis dokter menyebutkan bahwa Emak terserang hipertensi sehingga menyebabkan ada sedikit pembuluh darah di kepala yang bocor sekaligus terkena hedrosefalus (sejenis penyakit yang terjadi akibat gangguan aliran cairan di dalam otak atau disebut cairan cerebro spinal). Gangguan ini menyebabkan cairan cerebro spinal bertambah banyak yang selanjutnya akan menekan jaringan otak di sekitarnya, khususnya pusat-pusat syaraf yang vital. Menurut dokter, penyakit ini memerlukan diagnosis dini yang dilanjutkan dengan tindakan bedah secepatnya dengan cara membuat shunt atau pintasan untuk mengalirkan cairan otak di ruang tengkorak yang tersumbat ke tempat lain dengan menggunakan alat sejenis kateter berdiameter kecil.  Keterlambatan akan menyebabkan kecacatan atau kematian penderita.
            Emak bagiku merupakan seorang ibu yang penuh perhatian kepada anak, menantu dan cucu-cucunya dalam banyak hal, apalagi soal urusan kesehatan dan asupan gizi untuk para cucunya. Di usia beliau yang 74 tahun saat itu, Emak seorang  nenek yang tidak bisa duduk diam,  beliau masih cekatan.   Ada saja yang beliau kerjakan, dari mencabut rumput di halaman rumah, berkebun, memelihara ayam sampai terkadang memperbaiki perabotan yang sudah rusak, selain hobi utama beliau masak dan membaca atau mendengar berita/pengajian dari radio yang selalu menemaninya di dalam kamar.  Saat itu aku hanya bisa berdoa …  “Ya Allah… selamatkan ibuku, berilah Emak kekuatan dan kesabaran serta keikhlasan menjalani cobaan ini. Aku ingin ibuku selamat dan sembuh dari sakitnya, tapi aku juga ikhlas kalau Engkau berkehendak lain Ya.. Raab”.
            Dengan seidzin suamiku, aku berangkat ke Medan untuk menjenguk Emak. Dua hari di Medan kumanfaatkan waktuku hanya untuk merawat dan menemani Emak di rumah sakit. Esok harinya aku harus kembali ke Bogor, sedangkan Emak masih di rawat di Rumah Sakit.  Ingin aku lebih lama lagi menemani Emak, namun kewajibanku untuk mengurus anak-anak dan suami menyebabkan aku harus menahan keinginan tersebut.  Namun doaku tidak pernah putus menyertai Emak.
            Pada akhir Bulan April pada tahun yang sama, aku dihadapkan kepada cobaan yang tidak kalah beratnya. Suamiku harus menjalani penahanan di lembaga permasyarakatan (Lapas) karena kasus yang menyangkut pejabat pemda salah satu kota di Jawa Barat. Suamiku dituduh turut serta melakukan tindakan korupsi. Tindakan yang selama ini sangat dia benci dan selalu dia hindari. Benarkah suamiku korupsi? Ya Allah…, aku tidak percaya, aku thu betul siapa dia.  Bahkan aku banyak belajar tentang kejujuran, tanggung jawab serta bagaimana kita harus memikirkan dan memperhatikan orang lain dari dia.
            Pada hari yang sama dengan penahanan suamiku, putra ke empat kami harus mengikuti UAN, ujian kelulusan untuk tingkat SMP. Aku hanya bisa berdoa dan berusaha menguatkan dan meyakinkan diri dan anak-anakku. Bahwa kami harus kuat, bahwa suamiku, ayah mereka bukan koruptor seperti yang dituduhkan. Bahwa kami juga harus  sabar dan selalu saling meguatakan. Sekolah mereka harus berjalan normal. Aku bertekad dan memohon kepada Allah bagaimanapun kondisinya, pendidikan/sekolah anak-anakku tidak boleh terganggu apalagi terhenti.
            Sejak suamiku tidak di rumah dan tidak bisa menjalankan fungsi dan kewajibannya sebagai seorang suami dan seorang Ayah, maka otomatis fungsi tersebut beralih kepadaku. Untuk kebutuhan hidup kami, Alhamdulillah masih ada pemasukan dari gaji suamiku sebagai PNS yang jujur kuakui tidak cukup untuk membiayai kehidupanku beserta enam orang anakku. Namun aku percaya Allah tidak akan membiarkan hambaNya menderita selama hambaNya tersebut masih bisa dan mau berusaha. Alhamdulillah untuk hal ini aku rasanya tidak pantas untuk mengeluh karena Allah selalu member rizki dan jalan keluar di saat-saat aku membutuhkannya.
            Peristiwa yang menimpa suamiku membuatku harus kuat dan bijak bersikap. Apalagi berhubungan dengan kata “korupsi”, wow…tindakan keji yang sangat memalukan. Apa kata tetangga, apa kata teman, saudara dan orang-orang di sekitar kami?  Wajar selalu ada pro dan kontra, selalu ada yang berpandangan negative.  Namun, Alhamdulillah aku banyak mendapat dukungan, baik dari saudara, sahabat, teman juga orang-orang yang mengenal kami. Lalu bagaimana dengan anak-anakku? Kuatkah mereka, mampukah mereka menghadapi situasi ini? Ternyata dua dari 6 orang anakku terpengaruh dengan peristiwa yang menimpa ayahnya, anak pertamaku terpaksa cuti kuliah selama 1 semester, sedangkan putraku yang keempat hampir kehilangan semangat dan motivasi untuk sekolah.  Hal ini benar-benar membuatku terpukul, sedih dan stres.  Aku tidak ingin satupun dari anakku terpuruk.  Di tengah pro dan kontra, aku berusaha keras menempatkan diriku di tempat yang netral. Aku mencoba melihat peristiwa yang sedang menimpa suamiku secara obyektif. Walau aku yakin seyakin-yakinnya suamiku tidak bersalah, tidak melakukan tindakan korupsi, namun aku terus berupaya untuk obyektif, jujur dan adil di hati dan sikapku.
            Waktu terus berjalan. Suamiku masih harus menjalani hari-harinya di Lapas sebagai tahanan kejaksaan, sementara Emak harus menjalani operasi ulang di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta setelah kondisi beliau semakin parah kemudian pra koma pasca operasi di Medan. Setelah hampir 3 bulan dirawat di RS di Jakarta,  Emak kami bawa ke Bogor dan dirawat di rumah. Dengan kondisi beliau yang masih perlu perawatan intensif dan teliti, kami harus menyediakan perawat khusus untuk Emak. Emaktidak tahu kalau suamiku sedang berada di lapas, bahkan sampai aku menulis tulisan inipun kami sepakat untuk tidaak memberi tahu Emak tentang hal ini. Kami tidak ingin emak sedih dan menjadi terpukul sehingga mempengaruhi kesehatan beliau. Kalauemak bertanya ke mana suamiku, terpaksa kami berbohong dengan mengatakan kalau suamiku sedang penelitian di luar kota. Terus terang aku sedih tidak bisa berterus terang pada beliau di saat sebenarnya aku benar-benar butuh nasehat dan doa emak.
            Keberadaan suamiku di Lapas membuatku sedikit banyak tahu tentang kehidupan di Lapas. Suamiku sendiri berada satu sel dengan tahanan dan narapidana lainnya, bercampur dengan tahanan atau narapidana dengan berbagai macam kasus dari mulai kasus narkoba, pembunuhan, penipuan, pencurian dan lain-lain yang bisa terdiri lebih dari sepuluh orang bahkan 30 orang dalam satu ruangan ukuran 7 x 7 m. Suamiku tidak ditempatkan di ruangan istimewa yang hanya ditempati seorang diri,  apalagi ruangan mewah yang nyaman seperti yang pernah kita lihat di media elektronik beberapa waktu yang lalu. Setelah hampir 4 bulan menjalani penahanan suamiku mengikuti persidangan yang berlangsung seminggu sekali selama lebih kurang 4 bulan. Akupun belajar banyak dari peristiwa-periatiwa yang terjadi di pengadilan dan kejaksaan, yaitu dari cerita para keluarga tahanan yang sedang dalam proses hukum.  Kenyataan-kenyataan ini tidak jarang membuatku muak, marah dan benci. Membuat jiwa berontakku muncul hampir tidak terkendali.  Hukum ternyata bisa dibeli.  Keadilan dan kebenaran hakiki tidak lagi berarti, kalah dengan kekuasaan dan materi. Ya Allah, mau jadi apa bangsa ini? Apa yang harus aku lakukan..? Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya perempuan biasa yang berusaha mencari keadilan untuk suamiku tercinta.  Apakah mereka lupa ada Allah Yang Maha Perkasa, Yang Maha Melihat dan Maha Mendengar, Yang Maha Adil? Padahal ada sajadah di ruangan para jaksa dan hakim tersebut? Apa arti sholat mereka? Apakah mereka lupa betapa dahsyatnya doa orang yang teraniaya?  Ya Allah…, betapa juga beratnya tanggung jawab pemimpin bangsa ini!
            Kejadian-kejadian yang aku alami, mungkin membuatku semakin bijak menyikapi hidup ini. Aku mulai belajar bagaimana memandang orang lain, bahwa kita tidak bisa hanya melihat orang dari luarnya saja. Bahwa ternyata orang yang rajin beribadahpun tidak semua mampu jika dihadapkan dengan godaan kekuasaan, jabatan dan materi. Aku semakin sering meluruskan niatku, berupaya membersihkan hatiku. Ternyata orang bodoh, miskin dan jelek belum tentu lebih hina dari orang pintar, kaya dan rupawan.  Kita tidak tahu hati seseorang.  Aku mulai benar-benar merasakan bahwa kebersihan dan keikhlasan hatilah yang menjadi kuncinya
            Tidak bisa kupungkiri bahwa berbagai ujian dan cobaan yang menerpa hidupku membuatku kadang terpuruk. Aku sedih, dan tidak jarang menyalahkan diri sendiri, namun ternyata Allah sangat sayang padaku. Aku dikelililngi orang-orang super hebat yang selalu memberiku semangat dan dukungan. Terutama suamiku…, dia selalu mengingatkan, menguatkan dan meyakinkan aku. Bahwa kami harus kuat, harus sabar, harus bisa mengambil hikmah dari semua peristiwa pahit yang kami alami. Harus diingat dan terpenting jangan pernah ada dendam serta melakukan hal jahat terhadap orang lain. Ya…, kami harus saling menguatkan dan mengingatkan. Yang membuatku bertambah kuat dan lega adalah bahwa saksi-saksi di persidangan membuktikan  keyakinanku bahwa suamiku tidak melakukan korupsi terbukti benar.   Walau pada akhirnya suamiku harus menerima kenyataan pahit hakim tetap mmemutusnya bersalah “membantu tindak pidana korupsi” sehingga divonis dengan 1 tahun kurungan dan subsider Rp 50 juta atau diganti 4 bulan kurungan..
            Waktu berlalu begitu cepat, saat ini suamiku sudah berada kembali di tengah-tengah kami, isteri dan keenam anaknya. Emak juga sudah sehat dan kembali ke Medan. Anak-anakku yang sempat terganggu kuliah dan sekolahnya sudah kembali normal. Satu nikmat yang tak terhingga untukku.   Walau aku akui masih ada luka di hati ini terutama mengingat kejadian yang menimpa suamiku.  Tapi aku berusaha dan berlatih untuk ikhlas dan membuang rasa sakit hatiku.
            Pelajaran yang bisa aku dapatkan dari peristiwa dan kejadian pahit yang aku alami adalah bahwa: (1)  manusia tidak bisa berbuat apa-apa kalau Allah sudah berkehendak, (2) kita membutuhkan orang-orang yang bisa menguatkan dan memberi dukungan dengan ikhlas dan tulus di saat dalam keadaan terpuruk, (3) ada kemudahan di dalam kesulitan  asal mau berupaya dan tetap berprasangka baik kepada Allah, (4)  ada kenikmatan dan keindahan yang dirasakan pada saat kita diuji dan dicoba bila kita menyandarkan semua kesulitan, kepedihan, ujian dan cobaan kepada Sang Khaliq, (5) kita tidak boleh menilai seseorang dalam waktu singkat sebelum benar-benar mengenalnya dengan baik, itupun kita tidak bisa menebak apa isi hatinya, karena hanya Allah Yang Maha Tahu, (6) ternyata orang yang kita anggap baik dan ibadahnya baik pun, maka belum tentu kuat jika dihadapkan dengan godaan jabatan, kekuasaan dan materi, serta (7)  kita harus terus menerus berusaha, berlatih untuk memaafkan dan membersihkan hati untuk tidak demdam, sakit hati kepada orang yang kita anggap memfitnah/mendzolimi kita.  Selanjutnya aku senantiasa bermohon kepada Allah, semoga kiranya yang kualami dapat menjadikanku  sebagai manusia yang lebih baik,  Aamiin!
***

Bogor, 18 November 2010
Chairu Fariandini
Tahun yang sangat berat bagi keluarga kami. Namun, dalam kondisi seperti itu pun, Ayah selalu bisa bercerita tentang hal-hal ajaib dan mengajarkan kami banyak hal. Ibadahnya pun semakin giat. Ibuku juga terlihat sangat kuat. Aku yakin, suatu saat, setiap kebenaran pasti akan terungkap dan keadilan akan berpihak kepada mereka yang benar. Di luar dari itu semua, selalu ada kebaikan yang dapat diambil dibalik setiap peristiwa.
Allah mencintai orang-orang yang beriman dan sabar bukan? :)