Sudah bersyukur?


Kalau ada orang(-orang) yang tahu jelek-jeleknya kamu, kekurangan-kekuranganmu, keburukanmu, sisi-sisi negatifmu..

tapi masih tetap ada di lingkaranmu dan memperlakukanmu dengan sangat baik.

Berusahalah untuk setidaknya bersikap dua kali lebih baik darinya.

Itu salah satu rezeki yang perlu disyukuri bukan?

Advertisements

Recovery


Sudah hampir 2 minggu gue cuma di dalem rumah aja. Buat gue yang anaknya nggak bisa diem, sejujurnya, meskipun tidak terlihat, ini cukup berat, membuat gue mudah bosan, bad mood, dan kehilangan energi positif.

Ada kondisi dimana gue harus seperti ini, anteng ga kemana-mana.

Tau nggak apa yang beberapa bulan kemaren gue inginkan?

Kerja kantoran.

Apalagi setelah tahu bahwa gue gagal lolos seleksi beasiswa yang pernah gue ajukan untuk lanjut studi.

Kalau masalah tipe kaya itu sih, udah nggak begitu ‘lebay’ lagi but gue untuk bisa nerima.

Yang jadi pikiran adalah, selain sambil usaha cari jalan lain untuk lanjut kuliah, lalu gue mau ngapain?

Dan memang gue sangat ingin kerja kantoran.

Gue pun coba melamar kerja dan sampai akhirnya gue diterima! Gue adalah orang yang cukup selektif untuk memilih dimana gue mau bekerja dan akan jadi apa gue. Sebelumnya gue riset dulu tentang perusahaan tempat gue melamar kerja, kepoin foundernya, nonton talks dia di YouTube, dan sebagainya yang bikin gue ngerasa… Gila! Gue mau banget perusahaan ini tumbuh dan berkembang jadi makin bagus.

Makanya gue senang saat tahu gue diterima.

Namun, atas beberapa hal yang nggak bisa gue jabarkan disini, bokap gue nggak sepenuhnya setuju dan akhirnya gue cancel tawaran pekerjaan itu. Sesungguhnya amat sangat ngga enak ketika gue menolak padahal gue sendiri yang ngelamar.

Satu dua bulan kemudian, gue berpikir lagi untuk melamar kerja.

Kan ada GoodNote tan?

I know! Dan itu juga selalu jadi pertimbangan gue ketika ingin melamar kerja.

Tapi, selain untuk alasan dapet penghasilan tetap, gue sedang membutuhkan lingkungan yang mentrigger gue buat jadi versi terbaik gue. Belakangan gue merasa kekurangan hal-hal seperti itu, orang-orang yang bisa “memotivasi” gue dari apa yang mereka lakukan dan mereka dekat dengan gue. Semacam yaaa lo itu gambaran dari 5 orang yang paling sering bareng sama lo.

Dan gue merasa akan menemukan itu di tempat kerja “incaran” gue.

Tapi memang ya. Apa yang kita inginkan dan kita rasa kita butuhkan belum tentu apa yang memang sebenarnya kita butuhkan.

2 minggu ini kondisi gue mengharuskan gue untuk nggak keluar kemana-mana. Oke, ada masalah kesehatan. Dan… kalau aja gue sebulan 2 bulan lalu beneran ngantor. Mungkin kondisi ya sekarang akan lebih parah.

Dan masalah penghasilan, hey, rezeki itu emang ngga akan kurang atau lebih.

Kesimpulannya, sekarang gue seperti ditunjukkan oleh Allah alasan-alasan dibalik kenapa beberapa keinginan gue sangat sulit dijangkau atau tidak terjadi dengan cepat atau bukan saat ini. Contohnya, seperti keinginan gue untuk lanjut sekolah di luar negeri.

Hari ini diri gue, fisik gue, mental gue, seolah ngomong ke gue sendiri kalau lo tuh belum siap tan! Ada beberapa hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Sederhananya, kalau belum lulus SD, lo gabisa masuk SMP.

Namun di perjalanannya, ada banyak hal yang amat sangat gue syukuri. Gue banyak belajar. Tentang hubungan dengan keluarga, teman, dunia kerja, ambisi, tanggung jawab, sabar, rezeki, bersyukur, dan lain-lain sampai keikhlasan.

Pada akhirnya, gue sadar kalau selama ini gue kurang bersyukur. Dengan kondisi gue yang seperti ini, ternyata gue masih bisa beraktivitas dengan baik. Gue bisa tetap bekerja walaupun nggak ngantor, bisa tuh bolak-balik Bogor-Jakarta dan berkesempatan jadi peserta inkubasi 1000 startup digital. Gue mengerti kenapa Allah bantu gue untuk punya skill yang memungkinkan gue untuk bisa kerja dari rumah, bahkan menghasilkan uang dari situ.

Sabar. Sabar itu katanya nggak mudah tapi ya memang begitu. Sabar itu bukan diam saja tapi sambil berusaha sebisanya. Gue anaknya emang suka nggak sabar dan keras kepala, terutama kalau udah ada maunua dan keukeuh pengen ngewujudin apa yang gue mau.

Sabar, tan. Suatu saat akan datang waktu dimana lo bisa ada di titik yang selama ini lo bayangkan. Kalaupun tidak, lo bakal ada di posisi lain yang pasti lebih baik dari apa yang lo pikirkan. Akan datang kondisi dimana lo bisa bebas mau ngapain aja, mau kemana aja, dan mau makan apa aja. Tapi ya sabar. Kata ayah juga kan, sabar itu pasti ada hasilnya.

Ah ya! Gue juga hampir kehilangan rasa optimis dan percaya diri.

Untung cuma hampir.

#BantuIbuEka


Ini cerita tentang Ibu Eka.

Ibu Eka, adalah seorang ibu 1 anak yang tinggal di daerah Ciawi, Kabupaten Bogor.
Sudah lama ditinggal suaminya dan anak satu-satunya mengadu nasib di Jakarta, Bu Eka menyibukkan hari-harinya dengan menjadi ibu asuh bagi anak-anak di sekitar rumahnya. Sebagian anak-anak ini merupakan anak yatim, ada juga yang masih memiliki orangtua namun hidup dalam kondisi penuh keterbatasan. 

Bu Eka selalu merangkul mereka semua yang datang ke rumahnya dengan menyediakan makanan, menyediakan alat-alat tulis, alat gambar untuk anak-anak bermain, dan juga mengajarkan mereka sholat dan mengaji. Sifat bu Eka yang penuh kasih membuat anak-anak terus berdatangan ke rumahnya selepas mereka sekolah atau membantu orangtuanya masing-masing bekerja.

Ibu Eka sendiri sudahlah tidak muda, dan tidak memiliki penghasilan tetap. Berbagai cara dilakukan Bu Eka untuk menyokong hidup, salah satunya dengan berjualan bunga yang dibuat dari kain-kain sisa.

22154638_10214192989889574_4459569210786961457_n
Saya, dan teman-teman alumni Ilmu Komputer 47 IPB, ingin bergerak membantu bu Eka. Untuk itu, kami menawarkan teman-teman yang ingin membeli bunga-bunga di atas, atau yang ingin memberikan sarannya dalam rangka membantu Bu Eka, agar jangan segan menghubungi kami 🙂

Klik di sini yuk buat bantu Ibu Eka! :)

Rehat dari Media Sosial


Hari ini gue berniat untuk offline sejenak dari media sosial, khususnya Istagram, mulai besok. Ini sudah ketiga kalinya dalam tahun 2017. Pertama di awal tahun, bulan Januari. Kedua di sekitaran bulan April. Namun, di sela-sela itu masih sesekali ngintip Instagram karena megang akun GoodNote dan malah sekalian nge-scroll. Wk.

istirahat dari sosial media.png

Kenapa offline?

Gue termasuk orang yang cukup “keranjingan” instagram. Kalau sholat 5 kali sehari, kayanya ‘sekadar’ buka instagram lebih dari 5 kali deh. Alhasil  kalau ditotal habis lah beberapa jam hanya untuk itu. Kalau kata Nir Eyal lewat bukunya yang berjudul ‘Hooked’, media sosial itu buat orang kaya gue udah jadi kebutuhan, karena tanpa sadar gue mencarinya setiap hari, terutama saat ngga tau mau ngapain.

I need to see the world outside there.

Gue sedang merindukan dunia nyata, dimana komunikasi dilakukan secara face-to-face. Dimana momen saat ini bukan ditujukan untuk dipajang di media sosial lalu mendapatkan timbal balik lewat sebuah icon atau komentar melainkan untuk dinikmati. Dimana gue ngga perlu sibuk mastiin foto yang akan gue post terlihat bagus atau peduliin ada berapa orang yang nge-like. Dimana orang akan menghubungi gue lewat media perpesanan yang seharusnya, bukan lewat DM media sosial. Dimana gue ngga perlu nebak-nebak atau bikin asumsi sendiri tentang orang lain melalui apa yang mereka post. Dimana gue ga usah tau  berapa orang dan siapa aja yang liat stories gue. Dimana gue ga perlu jadi kesel kalo liat postingan-postingan negatif dan komentar-komentar provokatif lalu mereka gelut. Dimana gue bisa melakukan sesuatu sesuka hati tanpa perlu dilihat orang lain.

Oh God ..
segitunya yah tan lo mainan instagram?

HAHAHA. IYA!

Secara ngga sadar itu pun jadi nurunin produktivitas gue.

Makanya, gue memaksa diri gue lagi buat menurunkan intensitas terhadap interaksi dengan media sosial. Tapi kalau mengaksesnya masih sangat mudah, ngga akan ngaruh. Jadi sekalian aja uninstall :)

I don’t say social media is bad. Itu tergantung bagaimana kita menggunakannya. Di luar kebiasaan buruk gue, gue juga banyak dapet nilai positif kok dari media sosial.

Istirahat sejenak itu perlu. Menyegarkan pikiran dan mencoba melihat dunia dari sisi yang berbeda adalah kebutuhan gue saat ini.