Gallery

21shortfilm with @fildzanovaa


shortfilmfestivalTiket Film Dokumenter 1


proxyPara Sutradara Film Saat Sesi Tanya Jawab

ae4db83eabe011e3b149127a02d3ccc9_8Kursi yang sama  untuk 2 sesi berbeda di Studio 2

Hal-hal yang paling ngebekas di kepala gue:

  • anak laki-laki di waiting room yang duduk sendirian satu bangku sebelah gue ternyata sutradara film “mana janjimu”, eko, bocah 15 tahun yang polos-polos lugu itu adalah peserta termuda dalam kategori film dokumenter. You rock!
  • Cara memberikan pertolongan pertama pada ikan yang sekarat: taro di wadah (misalnya gayung) berisi air terus ikannya diguncang-guncang, digerak-gerakin.
  • Fatih Unru! Anak kecil lucu yang udah jadi standup comedian terkenal dan alergi coklat

Overall film-nya bagus-bagus, emang layak buat ditonton di layar gedenya epicenturm xxi :>

Advertisements

rumah kedua


Di tengah-tengah tumpukan deadline projek, gue dan temen-temen satu tim gue akhirnya bisa nyelesain satu film dokumenter yang niatnya diikutin untuk lomba film iac 2013. Kita ngangkat topik asrama TPB, salah satu ciri khas IPB yang nggak dimiliki kampus lain.

Ini tim supernya :D

pixels goes to iac 2013

Terimakasih sintya rosdwianty, aditya aufar, muhammad fithrotuddin, muhammad fachrul arli, dan abdurrasyid hasim. Terimakasih buat waktunya, tenaganya, energinya, kesediannya, dan semua saat-saat berharganya :3

Somethings dazzle


21

Gambar di atas adalah sedikit cuplikan film yang disutradarai oleh Rubert Lucetic. 21, judul film dengan aktor utama  Jim Sturgess, sebagai mahasiswa cerdas lulusan MIT. Ben Campbell, bermaksud melanjutkan studinya di Harvard Medical School. Sudah sewajarnya dan bukan hal yang aneh, dia diterima di universitas tersebut.

Tapi belum cukup sampai di situ, Ben sangat ingin mendapatkan beasiswa berhubung biaya hidup yang bisa dibilang sangat mahal harganya jika harus dibayar dengan kerja keras.

Ben, 21 years old brilliant boy. Had a 1590 on his SAT, got 44 on MCATs, 4.0 GPA from MIT. Got a lot of achievements, often won great science competitions, ya, more than fascinating I think!

But whats then?

Robinson Scholarship, beasiswa yang amat sangat diinginkannya nggak langsung jatuh ke tangan dia. Karena apa?

Ga ada sesuatu yang bener-bener spesial yang bisa dia katakan, yang menunjukkan bahwa ia pantas mendapatkan beasiswa itu. Entah mungkin dengan pertimbangan masih banyak orang yang sama pintar dengannya. But, what makes him different?

 

Life experience.

Ternyata di situ  pengalaman hidup sangat besar pengaruhnya. Pengalaman hidup yang mengagumkan, yang luar biasa, bisa menghipnotis dan menyilaukan banyak orang. Ternyata kerja keras dia untuk meraih segudang prestasi masih belum cukup untuk membuatnya spesial dan mendapatkan penghargaan beasiswa tersebut. Dia belum jadi yang terbaik, belum jadi yang paling pantas.

Well, intinya dalam banyak hal, sehebat apapun kita, orang lain nggak akan langsung memilih kita. Karena mereka tau banyak orang yang sama hebatnya atau lebih hebat dari kita, bahkan mungkin ada orang lain yang kemampuannya sedikit di bawah kita, tapi punya sesuatu yang nggak dimiliki orang lain. Mereka memilah lagi apa yang menjadi nilai lebih buat kita. Apa yang membuat kita beda, apa yang ada di diri kita dan nggak pernah ditemuin dari orang lain, apa yang membuat kita spesial. Somethings dazzle.