#BantuIbuEka


Ini cerita tentang Ibu Eka.

Ibu Eka, adalah seorang ibu 1 anak yang tinggal di daerah Ciawi, Kabupaten Bogor.
Sudah lama ditinggal suaminya dan anak satu-satunya mengadu nasib di Jakarta, Bu Eka menyibukkan hari-harinya dengan menjadi ibu asuh bagi anak-anak di sekitar rumahnya. Sebagian anak-anak ini merupakan anak yatim, ada juga yang masih memiliki orangtua namun hidup dalam kondisi penuh keterbatasan. 

Bu Eka selalu merangkul mereka semua yang datang ke rumahnya dengan menyediakan makanan, menyediakan alat-alat tulis, alat gambar untuk anak-anak bermain, dan juga mengajarkan mereka sholat dan mengaji. Sifat bu Eka yang penuh kasih membuat anak-anak terus berdatangan ke rumahnya selepas mereka sekolah atau membantu orangtuanya masing-masing bekerja.

Ibu Eka sendiri sudahlah tidak muda, dan tidak memiliki penghasilan tetap. Berbagai cara dilakukan Bu Eka untuk menyokong hidup, salah satunya dengan berjualan bunga yang dibuat dari kain-kain sisa.

22154638_10214192989889574_4459569210786961457_n
Saya, dan teman-teman alumni Ilmu Komputer 47 IPB, ingin bergerak membantu bu Eka. Untuk itu, kami menawarkan teman-teman yang ingin membeli bunga-bunga di atas, atau yang ingin memberikan sarannya dalam rangka membantu Bu Eka, agar jangan segan menghubungi kami¬†ūüôā

Klik di sini yuk buat bantu Ibu Eka! :)

1000 Startup Digital, Makna dari Gotong Royong


Di masa lalu, ga pernah kebayang kalo gue bakal ada di tempat dan lingkungan kaya gini.

Gue ketemu ratusan orang yang menghabiskan akhir pekannya untuk memikirkan solusi-solusi dari permasalahan negara dengan membuat startup.

Salut dengan inisiator serta para relawan yang menghabiskan banyak waktu dan energi untuk membuat ini terjadi.

Respect sekali dengan para mentor dan pembicara yang mau berbagi tanpa dibayar.

Merasa tersanjung bisa berdiskusi langsung dengan para founder/ceo/pm/dsb dari startup-startup keren di Indonesia. Orang-orang yang tadinya gue pikir sangat sulit dijangkau, ternyata humble dan mau mendengarkan ocehan anak ga penting kaya gue.

Pemerintah (khususnya Kominfo), berbagai media, startup, perusahaan, komunitas, dan universitas juga ikut memberi dukungan dengan menyumbangkan produk/jasa seperti tempat kegiatan, publikasi, dll.

Gue terkesima menyaksikan adanya gotong-royong, dua kata yang sudah jarang didengar semenjak nggak baca buku PPKN lagi.

Gue diingatkan kalau hidup bukan tentang uang, status, jabatan, atau penampilan. Tapi bagaimana kita bisa jadi orang yang kehadirannya bermanfaat untuk banyak orang lain.

Gerakan nasional 1000 startup ini jadi bukti kalau Indonesia punya banyak orang berhati baik yang bukan cuma bisa komentar atau mengkritik, tapi ikut peduli, mau mikir pake otak, mau bergerak, dan berkolaborasi untuk menciptakan perubahan baik bagi Indonesia.

Ignition 1000 Startup Digital, Encouraging The Startup Mindset


1000 Startup digital, sebuah gerakan teknologi digital yang diinisiasi oleh Kementerian Keminfo dan KIBAR, saat ini sedang berlangsung.

Ignition –¬†The action of setting something on fire or starting to burn.

Sesuai namanya, tahap paling pertama dalam rangkaian gerakan  ini berguna untuk membakar motivasi para pesertanya lewat suguhan materi yang dapat meluruskan niat, pola pikir, dan tujuan agar sesuai dengan apa yang memang harus dimiliki oleh seorang founder startup. Sesi seminar yang berdurasi 4 jam ini berisi berbagai pengalaman, cerita, ilmu, serta sudut pandang baru dari tokoh-tokoh startup Indonesia.

Ignition Jakarta 1000 Startup Digital

Ada lima poin besar yang menjadi penting untuk  dipahami oleh kami yang ingin membangun startup:

¬†1 – Don’t Start a Business, Solve a Problem
Sebagian orang berkeinginan membangun startup agar dapat menjadi bisnis yang menjanjikan. Padahal, sebaiknya startup dibangun atas dasar masalah yang kita hadapi lalu menciptakan sesuatu yang dapat menjadi solusinya. Apabila berfokus untuk bisnis, kita akan mudah khawatir memikirkan apakah bisnis ini menguntungkan. Sedangkan, jika bertumpu pada solusi, yang ada di kepala terus-menerus adalah apakah pekerjaan kita telah telah mampu menjadi solusi dari masalah yang memang ingin kita pecahkan. Jadi, pastikan niat kita benar dan apa yang dikerjakan tidak sia-sia.

2 – Building The Startup Mindset
Perjalanan dari mencetuskan ide, mendirikan, mengembangkan, mempertahankan, sampai dapat dibilang sukses sangat panjang dan tidak mudah. Sejalan dengan poin nomor satu, materi bukan tujuan utama. Berorientasi pada uang akan menjadikan kita mudah gelisah dan kehilangan semangat apabila tidak cepat menghasilkan atau tidak sesuai harapan. Kegagalan juga menjadi satu hal yang sangat biasa dalam ekosistem startup. Namun, kegagalan tidak diartikan sebagai sebagai sesuatu yang negatif karena dari sana, banyak pelajaran atau inspirasi yang bermanfaat. Mengutamakan kepuasan dan kebahagiaan pengguna produk/jasa kita juga menjadi prinsip yang harus ditanamkan.

3 – Collaborate to Create Innovation
Teman satu visi. Seperti menemukan jarum di tumpukan jerami, menemukannya sulit sehingga ia sangat berharga. Teman dengan pola pikir dan tujuan yang sejalan, saling terbuka, dan bukan yang mau menjatuhkan atau berlomba jago-jagoan. Pastikan tim kita terdiri dari orang-orang dengan berbagai keahlian yang diperlukan dalam pengembangan startup. Selain rekan satu tim, bekerja samalah dengan pihak luar yang berkaitan dengan produk kita. Misalnya seperti Jakarta Smart City yang bekerja sama dengan pemerintah Jakarta.

4 – Coworking Space and The Future of Working
Mempertimbangakan dana yang pasti masih minim saat awal merintis, coworking space bisa menjadi salah satu alternatif. Selain fasilitas cukup lengkap yang dirancang untuk orang bekerja, bertemu orang-orang baru dengan berbagai latar belakang dapat menambah wawasan kita. Kita juga dapat berbagi ide, pengalaman, bahkan mungkin suntikan motivasi atau inspirasi yang dapat menjadi inovasi.

5 – Flourishing The Next Generation of Global Startup Founder
Meski fokus untuk solusi dari masalah yang kita temui di negara sendiri, kita juga harus aware dan update mengenai isu-isu kelas dunia dan mampu bersaing di tingkat global. Belajarlah sebanyak-banyaknya.

IMG_20160730_225438

Kesimpulannya, tahap ignition dirancang agar kami, yang katanya ingin membangun startup, tahu benar apa alasannya, mengerti tentang bagaimana cara mencapainya, dan mau gerak untuk merealisasikannya.

***

 

Bandung Innovation Jam 2016


Beberapa waktu lalu, iuran.id bekerja sama dengan Hyve, PulseLab, dan Australian Aid mengadakan sebuah kontes berjudul Andai Aku Walikota. Untuk lebih jelasnya, bisa tonton video ini atau kujungi website iuran.id

Dari ribuan ide yang terkumpul, dipilih 16 ide untuk kemudian dikembangkan dan harapannya benar-benar dapat terealisasi.

finalis_poster_desain

Pada 27-29 Mei 2016, diadakan serangkaian kegiatan untuk menindaklanjuti 16 ide tersebut. Sekitar 50 peserta dari berbagai usia dan latar belakang berkumpul di Balai Kota dan bekerja bersama-sama dalam 8 kelompok yang masing-masingnya bertanggungjawab untuk mengembangkan satu atau dua dari 16 ide yang ada.

Hari Pertama |  Jumat, 27 Mei 2016
16 finalis mempresentasikan gagasan-gagasan mereka langsung di depan para juri, termasuk Pak Ridwan Kamil.
IMG_20160527_165743 - Copy

Setelah sesi presentasi selesai, kami semua (finalis dan peserta) pindah dari auditorium ke ruang serbaguna Balaikota Bandung dan membentuk 8 kelompok (A-G). Si finalis pun juga ikut masuk ke dalam kegiatan kelompok namun sengaja didesain setiap finalis tidak akan membahas idenya sendiri. Sebagai contoh, Kang Dani kan punya ide “Motor Layanan Kesehatan Darurat”, tapi beliau malah dimasukin ke kelompok lain yang tidak membahas ide itu. Tujuannya agar idenya berkembang lewat sudut pandang orang lain dan tidak tersetir dengan yang punya ide awalnya.

Saya sendiri kebagian masuk di kelompok G, yang membahas ide tentang Bandung Historical Wall dan Information Public Center. Satu kelompok terdiri dari 5 orang dan dibantu oleh seorang fasilitator dari PulseLab. Sebagai permulaan, kami mempelajari ide yang diberikan kemudian membuat asumsi-asumsi mengenai ide tersebut. Misalnya;

  • Apa itu Information Public Center?
  • Apa itu Historical Wall?
  • Siapa yang membutuhkan?
  • Kenapa dibutuhkan?
  • Dimana nanti lokasinya?
  • Bagaimana cara mengaksesnya?
    dan lain-lain..
1464393712959 - Copy

Diskusi awal

 

Hari Kedua | Sabtu, 28 Mei 2016
Dari asumsi-asumsi tersebut, kami membuat sebuah protoype sederhana (low fidelity) dalam bentuk fisik.  Prototype tersebut akan diujikan kepada orang-orang yang kiranya menjadi sasaran pengguna. Berikut prototype versi pertama dan sangat sederhana yang dibuat kelompok kami:

IMG_20160528_185745 - Copy

LOST IN BANDUNG (Pusat Informasi Umum untuk Wisatawan) dan Historical Wall yang memuat sejarah-sejarah Bandung

Setelah itu, kami keluar gedung untuk mencari target pengguna. Berhubung sasaran kami adalah wisatawan (terutama yang dari luar Bandung), kami berkeliling Jalan Braga.

 

1464526312657 - Copy

Wawancara dengan 2 wisatawan dari Jakarta

1464526317566 - Copy

Wawancara dengan wisatawan blasteran Korea-Palembang

1464526309181 - Copy

Bertemu dengan wisatawan asing yang ternyata tidak bisa mendengar

1464526277768 - Copy

Wawancara dengan wisatawan dari Cimahi

Setiap wisatawan memiliki cerita yang berbeda dan keunikan masing-masing. Ada yang benar-benar mengandalkan internet dan sosmed, ada yang sangat meminati sejarah dan budaya, terutama tentang kisah-kisah mitologi Bandung seperti Prabu Siliwangi, ada yang sudah sangat kenal Bandung tapi kekurangan info tentang event-event yang diadakan di Bandung. Namun, ada beberapa kesamaan juga dari mereka, yaitu membutuhkan pusat informasi di lokasi yang strategis dan menurut mereka yang strategis itu di pusat kota. Kemudian, secanggih apa pun teknologi, mereka masih merasa membutuhkan adanya kehadiran manusia yang bisa diajak berkomunikasi secara face to face untuk bertanya berbagai hal tentang Bandung. Mereka semua juga menganggap sejarah itu penting.

Ohya satu lagi, karena wisatawan asing yang kami temui ternyata kesulitan untuk mendengar dan alat bantu dengarnya tertinggal di penginapan, kami mendapatkan insight bahwa fasilitas-fasilitas umum yang ada di Bandung harus ramah dan mendukung kaum difabel.

Setelah melakukan wawancara dan uji prototype, kami kembali melakukan brainstorming untuk menggali insight-insight berdasarkan uji lapang. Banyak kebutuhan dan pengalaman pengguna yang baru kami tahu atau sadari sehingga muncul lah ide-ide baru lainnya yang mungkin bisa menjadi solusi.

IMG_20160528_184911 - Copy

Hasil brainstorming kelompok G

Hari Ketiga | Minggu, 29 Mei 2016

Sebelum hari ketiga dimulai, ada sedikit kegiatan dari Pertamina mengenai campaign #GoGreen #Pertamaxbersihbersih #RecycleYuk
Jadi, kita bisa menukar kertas-kertas bekas dengan pertamax. Bawa saja ke pom bensin milik Pertamina (dengan kode 31), kemudian kertasnya ditimbang dan akan ditukar dengan pertamax sesuai dengan nilai harga timbangan kertas. Kita juga bisa menyumbang botol plastik bekas dan mengunduhnya di media sosial sebagai kampanye yang kemudian akan diundi untuk mendapatkan voucher dari Pertamina.

IMG_20160531_235321

1464520439954 - Copy

Peserta Bandung Innovation Jam saat acara campaign Pertamina

Lanjut ke kegiatan utama!

IMG_20160528_184920 - Copy
Hasil dari proses brainstorming di hari kedua dilanjutkan dengan pembuatan prototype kedua dan mengujinya lagi. Dari uji pengguna yang kedua, tentunya bermunculan hal-hal baru lainnya yang menarik seperti pada pengujian sebelumnya. Contohnya, karena wisatawan ternyata membuthkan interaksi langsung secara tatap muka, muncul ide untuk mengadakan program volunteering untuk menjadi tour guide. Intinya, hari ketiga adalah iterasi dari hari kedua namun kali ini kami lebih spesifik, fokus kepada beberapa fungsi dan insight-insight yang menurut kami paling tinggi prioritasnya.

IMG_20160529_195705 - Copy

Ini kelompok super aku! (kiri ke kanan: Billy, Atana, Deden, Isman, Izan)

Ohya, sebagai informasi, anggota kelompok saya yang kedua dari kanan itu adalah M. Isman Junian Rahman, seorang mahasiswa S2 Teknik Elektro ITB yang punya ide membuat wisata virtual kota Bandung dengan memanfaatkan teknologi virtual reality.¬†Dia itu satu dari (hanya) 10 orang di Indonesia yang punya lisensi ke Google Street View.¬†¬†Dia adalah pemenang juara 1 dalam kontes “Andai Aku Walikota”.

IMG_20160531_211731

Teman SMA yang nampung aku selama di Bandung :p

Kegiatan diakhiri dengan presentasi dari setiap kelompok dan ulasan dari perwakilan pemerintah Bandung. Semua ide menarik dan beberapa bisa berkolaborasi satu sama lain. Selanjutnya, pekerjaan ini akan diteruskan oleh pihak penyelenggara dan Pak Walikota. Secara keseluruhan acara ini sangat menarik, bermanfaat, dan menginspirasi. Bersyukur dan bahagia banget bisa ikutan berpartisipasi di acara yang keren ini. Semoga ide-idenya bisa cepat terealisasi yah, Bandung! Semoga juga kegiatan baik dan bermanfaat seperti ini bisa menginspirasi kota-kota lain di Indonesia :)