Bagaimana ‘track-record’ kamu?


Bayangkan kamu ada di sebuah ruangan, di depanmu terpampang sebuah layar raksasa. Layar tersebut menampilkan semua hal yang kamu lakukan sejak awal kamu dilahirkan sampai saat ini.

Bagaimana kira-kira ekspresimu?
Bagaimana perasaanmu?
Didominasi tangis, bahagia, kekecewaan, tawa, atau justru penyesalan?

Tak usah kamu pedulikan berapa banyak dan siapa saja penontonnya.
Cukup dirimu sendiri.

Kalau itu aku. Untuk scenescene ‘antagonis’ yang aku perankan  kemaren, aku pasti menyesal. Aku pasti malu. Malu terhadap diriku sendiri. Karena aku yakin semua manusia pada dasarnya punya hati yang baik. Ketika mereka menyaksikan sendiri perbuatan mereka yang mereka paham bahwa itu salah, pasti hatinya gelisah bukan?

Apakah wajar kalau rasa takut sering menghampiriku belakangan ini? Kabar beruntun tentang kepulangan secara tidak langsung membuatku semakin takut. Siapkah aku? Bagaimana perkataan dan pebuatanku? Apa kabar amalku, ibadahku, akhlak-ku? Bisa kah dibilang cukup dan pantas untuk diterima?

Rekam jejak hidupku mungkin memang jauh dari baik dan sempurna. Tapi masih boleh kan, Ya Allah, aku memperbaikinya?

Aku mohon, tuntun aku Ya Allah..

Lupa


Kadang gue lupa kalau untuk mendapatkan sesuatu butuh perjuangan. Butuh pengorbanan. Butuh kesabaran. Butuh ketekunan. Kegigihan. Kedisiplinan.
Entah. Barangkali gue lupa kalau lagi memperjuangkan sesuatu. Gue lupa dengan doa-doa dan rengekan peemohonan gue kepada Sang Pencipta.
Bisa aja Dia langsung mengabulkan; Kun Fayakun!
Tapi sayangnya gue lupa. Dia nggak akan mengabulkan kalau nggak ada usaha.

Barangkali gue lupa kalo Dia juga menjamin ngga akan ada ujian di luar kesanggupan. Di tengah jalan gue menyerah. Pasrah. Melanggar aturan. Menyimpang. Lelah. Menuruti hawa nafsu. Menggerutu. Merasa semua nggak kunjung usai. Membuat sia-sia perjuangan yang udah dimulai (tapi belum selesai).
Kemudian seketika gue ingat, gue harus memulainya dari awal. Dari titik nol. Bahkan dari angka minus sekian. Kemudian di tengah jalan gue kembali lupa. Lupa. Lupa semuanya.

Lalu hari ini gue akan mulai lagi. Apakah harapan besar dan janji Allah Maha Besar masih kurang kuat untuk menjadi pengingat? :’)

Gallery

ingat tahajud


a: bang besok kita jalan jalan yuuuk

s: ke mana?

a: ke taman kencana pagi-pagi olahragaa

s: naa, naaik mobil apa jalan kaki?

a: jalan kaki laah kan olahraga

s: yah cape atuuh

a: gapapa kan olahraga nanti kita main-main

s: oh iya ya taman kencana kan luas ya nanti bisa main-main

a: iyaa

s: jam berapaa?

a: abis subuh pagi-pagi jam 6

………………………………………….

s: berarti abang harus bangun jam itu dong jam 3

a: mau ngapain?

s: kan mau solat tahajud. Abis itu jam 4 nonton tv nungguin subuh baru deh solat subuh.

a: *tertohok*

 

bahkan gue udah jarang tahajud sekarang.

makasih abang udah ngingetin :”)

Gallery

Kenapa Harus Mengeluh?


Kenapa harus mengeluh, di saat ada banyak hal untuk disyukuri?

 

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.  Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. ”

 

“Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat,

yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya,

dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu,

bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta),

dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan,

dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya.”

 

(Al-Ma’arij: 19-27)

Gallery

Tuhan itu adil


Setiap masalah yang Dia berikan, sejatinya bukan sebatas ditujukan kepada mereka yang mengalami kesedihan atas masalah tersebut. Itu semua untuk kita. Kita yang ada di sekitarnya. Justru ujian itu terasa lebih berat untuk kita. Kita yang seolah-olah tidak ada urusan dengan mereka. Kenapa?

Karena toh kita diciptakan untuk saling berbagi. Bermanfaat bagi sesama.

Dia tidak membiarkan kita hidup sendirian di bumi.

Dia mengirimkan banyak manusia dengan beragam sifat dan pola pikir. Dia tidak membiarkan kita untuk menyelesaikan sendiri masalah yang kita hadapi. Dia ingin melihat hamba-hamba-Nya bersatu di atas semua perbedaan.

 

Lalu kenapa kita harus peduli dengan orang lain?

Pernahkah kita merasa bahwa memang ada yang harus peduli dengan kita?

 

Apakah itu semacam, kenapa selalu ada kebalikan?

 

Karena Tuhan itu adil.

10 Last Days of June’s Challenge : Day 1


Jumat, 21 Juni 2013

Tantangan Hari 1 : Hafalkan 10 Ayat Alquran dan Pahami Maknanya

Beres uas terakhir di semester ini, jam 10.00 WIB. Masih belum gerak untuk memenuhi tantangan hari ini. Tantangannya makin terasa mengingat hari itu gue udah ada jadwal dan kayanya sampe malem. Oke. Liat aplikasi Al-Quran di hp, cukup membantu hehe. Karena subtitle-nya bahasa Inggris dan gue pasti nggak terlalu ngerti artinya (bahasa Indonesia aja belum tentu ngerti), akhirnya gue memutuskan beli pulsa buat mengaktifkan paket internet dan berniat buat donlot aplikasi mobile-nya juzz amma.

Ada beberapa pilihan. Pilihan pertama gue, agak dibikin amaze juga sama app-size-nya yang cuma sekitar 400an kb dan donlotnya cepet. Tapi ternyata hasilnya emang sangat nyonyo. Ngga ada isi surat-suratnya masa. Oke gue pilih yang emang ketauan bikinan indo. Pilihan kedua gue cukup meyakinkan melihat size-nya yang cukup besar (sekitar 27 mb). Butuh waktu yang lumayan lama juga buat donlotnya. Di saat dia udah nyampe 79% proses donlot, dia nge-stuck. Oke gue tunggu. Udah lumayan lama dan masih ngga lanjut jalan. Sampe akhirnya intinya dia bilang kalo dia crash. Failed. Lagi.

Finally gue tetep make aplikasi awal gue (yang terjemahannya pake bahasa inggris itu) yang emang udah gue punya. Oke, minimal gue ngafalin ayatnya dulu. Random, terpilihlah surat At-Thariq. Ngambil 10 ayat dulu dari keseluruhan 17 ayatnya.

Gue emang bukan pengingat yang baik. Sampe sekitar jam 6 sore gue baru dapet 4 ayat. Stuck di ayat 4. Itupun ayat 4-nya masih suka lupa-lupa. Mungkin karena biasanya gue lebih bisa menghafal dengan tenang di tempat yang kalem kaya gue, dan saat itu kondisinya gue mondar-mandir jalan kesana-sini di tempat yang rame dan bareng sama banyak orang.

Setelah magrib, gue mesti siap-siap, packing buat pindahan ke tempat kos pkl nanti. Beres itu sekitar jam 8 lewat, gue ke rumah nisop. Nyiapin surprise buat ulang tahun aii. Ke rumah aii sekitar jam 9 lewat. Kumpul sama sahabat-sahabat gue itu, emang selalu nggak cukup kalo cuma sebentar.

Alhasil gue baru balik ke rumah jam 11 kurang sedikit. Waktu gue satu jaaaaaaaam! Kepikiran. Ga tenang. Mandi. Solat. 45 menit tersisa. Yasudah lah semampunya. Lama bangeeet deh gue ngafalin itu doang. Belum maknanya. Googling nyari tafsirannya. Sampe pake sistem ngerekam suara sendiri ngedengerin sendiri diulang-ulang.

 

23.59

Udah (hampir) lancar. mata gue terus tertuju ke jam hp sambil ngafal. ternyata itu mengurangi konsentrasi haha. Akhirnya, keberhasilan pertama 10 ayat tanpa salah jatuh di jam 00:10. 10 minutes bad luck.

Entah hitungannya harusnya jadi fail karena ngga selesai dalam hari itu juga, gue tetep seneng karena udah lama banget nggak ngafalin yang kaya gini. Ternyata sesibuk apapun kita, kalau kita bener-bener niat buat ngerjain sesuatu, kita bakal ngeluarin usaha maksimal kita dan segala kemampuan kita, otak kita akan terus berpikir, cuma untuk satu tujuan, yaitu target kita terpenuhi :)

Surat At-Thariq(86) : 1-10 dari 17 

وَالسَّمَآءِ وَالطَّارِقِ {1} وَمَآأَدْرَاكَ مَاالطَّارِقُ {2} النَّجْمُ الثَّاقِبُ {3} إِن كُلُّ نَفْسٍ لَّمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ {4} فَلْيَنظُرِ اْلإِنسَانُ مِمَّ خُلِقَ {5} خُلِقَ مِن مَّآءٍ دَافِقٍ {6} يَخْرُجُ مِن بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَآئِبِ {7} إِنَّهُ عَلَى رَجْعِهِ لَقَادِرُُ{8} يَوْمَ تُبْلَى السَّرَآئِرُ {9} فَمَالَهُ مِن قُوَّةٍ وَلاَنَاصِرٍ {10}

Demi langit dan sesuatu yang datang pada waktu malam

Tahukah kamu, apakah sesuatu yang datang pada waktu malam itu?

(yaitu) bintang yang sinarnya menembus (kegelapan malam)

setiap jiwa pastilah ada penjaganya (malaikat yang menjaganya).

Maka hendaknya manusia itu memikirkan dari apa ia diciptakan

Ia diciptakan dari air yang memancar (mani)

yang keluar dari tulang-belulang (laki-laki) dan tulang rusuk (perempuan).

Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa mengembalikannya (hidup kembali)

Pada hari ditampakannya seluruh rahasia

Maka ia (manusia) tidak mempunyai suatu kekuatan pun dan tidak pula orang yang menolong.

 

Mungkin belum ada yang 100% benar dalam menafsirkan artinya, apalagi gue. Tapi dari sumber yang gue baca, hmm ada dua sudut pandang sih. Yang satu sifatnya lebih ke ilmiah gitu. Dari mulai pembahasan mengenai benda langit yang sangat langka kehadirannya (komet). Satu-satunya benda langit yang dijelaskan dengan wa maa adraaka hanyalah thaariq. Hal ini memperkuat penalaran kita bahwa thaariq adalah benda langit yang “tidak biasa” atau “jarang datang”, yaitu komet yang muncul sekali dalam puluhan atau ratusan tahun.

Pada proses pembentukan tatasurya (solar system), komet-komet membombardir atau melubangi permukaan planet-planet bertanah (terrestrial planets) yang dekat dengan matahari, termasuk bumi, menyumbangkan air yang merupakan syarat mutlak adanya kehidupan. Dari situ mulailah dibahas hal-hal ilmiah tentang air yang sangat penting dan jadi sumber kehidupan umat manusia. Juga dikatakan bahwa ayat 5—7 Surat at-Thaariq bukanlah bercerita tentang sperma, tulang punggung dan tulang dada seperti penafsiran ulama-ulama zaman pra-modern, melainkan bercerita tentang air yang memancar dari antara bebatuan keras (shulb) dan tanah lembut (taraa’ib) pada kulit bumi.

Jika ayat 8—10 ini kita hubungkan dengan ayat-ayat sebelumnya, maka hanya orang-orang tidak berilmu yang meragukan kekuasaan Allah untuk menghidupkan kembali manusia. Orang-orang berilmu akan menjadi saksi bahwa bumi ini asalnya memang tidak mempunyai kehidupan, lalu Allah mengirimkan air melalui komet-komet ke Bumi untuk memungkinkan terciptanya makhluk-makhluk hidup termasuk manusia. Bagi Allah yang memiliki sifatyubdi’u wa yu`iid (Maha Memulai dan Maha Mengembalikan) seperti tercantum dalam Surat al-Buruuj ayat 13, mengembalikan manusia kepada kehidupan di Akhirat nanti sama mudahnya dengan mengembalikan komet-komet mengunjungi Bumi.

Sumber satunya lagi menekankan pada ketukan-ketukan yang berturut-turut untuk mengetuk perasaan manusia. Meminta kita untuk bangun, sadar, lihat, perhatikan, pikirkan, dan renungkan bahwa di sana ada Tuhan, rancangan, dan pengaturan. Tetapi di sana juga ada ujian, tanggung jawab, hisab atau pemeriksaan dan pembalasan, serta azab yang pedih dan nikmat yang besar. Bahwa di sana ada malaikat yang selalu menjaga kita.

source[1] [2]