#BantuIbuEka


Ini cerita tentang Ibu Eka.

Ibu Eka, adalah seorang ibu 1 anak yang tinggal di daerah Ciawi, Kabupaten Bogor.
Sudah lama ditinggal suaminya dan anak satu-satunya mengadu nasib di Jakarta, Bu Eka menyibukkan hari-harinya dengan menjadi ibu asuh bagi anak-anak di sekitar rumahnya. Sebagian anak-anak ini merupakan anak yatim, ada juga yang masih memiliki orangtua namun hidup dalam kondisi penuh keterbatasan. 

Bu Eka selalu merangkul mereka semua yang datang ke rumahnya dengan menyediakan makanan, menyediakan alat-alat tulis, alat gambar untuk anak-anak bermain, dan juga mengajarkan mereka sholat dan mengaji. Sifat bu Eka yang penuh kasih membuat anak-anak terus berdatangan ke rumahnya selepas mereka sekolah atau membantu orangtuanya masing-masing bekerja.

Ibu Eka sendiri sudahlah tidak muda, dan tidak memiliki penghasilan tetap. Berbagai cara dilakukan Bu Eka untuk menyokong hidup, salah satunya dengan berjualan bunga yang dibuat dari kain-kain sisa.

22154638_10214192989889574_4459569210786961457_n
Saya, dan teman-teman alumni Ilmu Komputer 47 IPB, ingin bergerak membantu bu Eka. Untuk itu, kami menawarkan teman-teman yang ingin membeli bunga-bunga di atas, atau yang ingin memberikan sarannya dalam rangka membantu Bu Eka, agar jangan segan menghubungi kami 🙂

Klik di sini yuk buat bantu Ibu Eka! :)

You still have dreams. Do you?


Hai. Apa kabar? Sibuk apa sekarang? Hari-harimu padat kah?
Bagaimana dengan daftar panjang impianmu? Masih ingat kah?
Apakah kamu masih menyisihkan waktumu untuk berjalan menujunya? Ataukah kiranya sekarang butuh berlari?
Masih menyala kah tekadmu?
Masih antusias kah membicarakannya?
Atau sudah kau lupakan semuanya?
Apa kamu rasa hidupmu sudah cukup dengan begini?

Aku rasa ini cara-Nya. Semua yang terjadi di luar rencanaku. Terimakasih Tuhan, telah mengingatkanku akan tujuan-tujuan besar dalam hidupku. Bukan sekadar mengingatkan aku punya tujuan. Tapi menegaskan bahwa aku harus bergerak menujunya. Aku sempat lupa atau bahkan pura-pura tidak ingat kalau ‘simsalabimabrakadabra’ nggak akan terjadi kepadaku. Terimakasih telah membuatku (mau tak mau) menyempatkan beberapa hal (yang mungkin tidak urgent saat ini tapi akan sangat berpengaruh di masa yang akan datang) untuk (setidaknya) tidak berhenti.

Aku belajar tentang perjuangan lagi lewat orang-orang yang Engkau kirimkan belakangan hari ini. Ternyata peribahasa berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian nggak lekang oleh waktu ya :)

Pencapaian #1 – 21 Januari 2015


IMG_20150121_170949

Hey. Siapa yang nyangka gue dikasih nomor urut 001. IP gue very far from perfect. Tau apa rasanya ketika gue maju untuk berhadapan dengan Pak Rektor dan disebutkan sebagai lulusan terbaik Program Studi Ilmu Komputer? Ouch! I can’t believe it. Ini…. pencitraan gue bagus amat. But please don’t judge people based on their GPA yah guys. Temen-temen yang wisuda bareng gue adalah orang-orang yang pintar dan hebat dengan caranya masing-masing :)
family

Family always be the number one for everyone. Makasih banyak ayah untuk “yah masa gitu doang ngga bisa” ; “yah masa cuma segitu sih, itu mah ngga ada apa-apanya” dan any other kind of that words yang bikin gue selalu percaya sama kemampuan gue dan selalu jadi pemacu untuk bisa dapetin yang lebih baik. Makasih untuk ibu buat semua perhatian dan kesabarannya atas tingkah-tingkah nggak jelas dan sering ngeluhnya gue kalo pas sampe rumah abis pulang kuliah. Sisa-sisa capek yang disambut dengan makanan dan kue-kue enak.
Makasih buat kakak dan adik perempuan gue untuk hari-harinya, sharing kamar, pinjem-pinjeman baju, berantem-berantemnya, saling bantunya, sampai persiapan hari H wisuda. Makasih Afina udah mau direpotin jadi penata rias berbekal tutorial mbah gugel. Makasih mbak aya udah nyetrikain kerudung dan bikinin domo bertoga. Makasih juga buat 3 laki-laki yang semuanya berhalangan hadir.
I’m so blessed to have you all!

IMG_20150121_1203537681421839410695

Halo teman-teman seper-wisudaan. Seneng deh ketemu kalian lagi setelah cukup lama kita nggak bareng-bareng. Terimakasih untuk 2 hari – gladi dan wisuda yang jadi seru & menyenangkan karena bersama kalian. Selamat selamat selamaaat! Kita sarjana :DD
1421839460222

IMG_20150121_124904622Udah gatau mau ngomong apalagi. Kalian terbaik! 3 tahun yang luar biasa yah. Makasih udah mau nerima gue jadi bagian dari kalian. Makasih buat seneng-sedih barengnya, stres bareng, mager bareng, ketawa bareng, main bareng, belajar bareng, liat nilai bareng, begadang bareng, telat bareng, ngehayal bareng, ngejar impian bareng, semuanyaa! Bareng kalian udah nggak bisa jaim, udah ketauan banget aslinya, jelek-jeleknya gue. Ah belajar banyak gue dari kalian :)kaka2Selamat juga buat kak ani, bang haikal, kakak2 ilkom 45 yang wisuda bareng dan teh puncul yang udah nyempetin dateng :)

bimibingan pa firman

Seminar, sidang, lulus, sampe wisuda bareng kalian! :)) Makasih ya buat saling ngingetin, nyemangatin, dan saling bantunya. Ohya kita harus ketemu Pak Firman kita heheheh.

bareng bocahSobat dari jaman TPB. Makasih ya boch buat jadi tempat gue nyampah, ngeluh, minta tolong tanpa malu-malu, nemenin ini-itu. Makasih buat tetep ada sejak 4 tahun yang lalu sampe sekarang. Gue tunggu lulusan S2 Ilkom IPB yang Cumlaude punya nama Fildza yah tahun ini :p
Satu (eh, tiga) lagi ini…….. kenapa-sih-yang-bareng-sama-gue-sampe-wisuda-elu-pol hahaha makasih yah pol 3 tahun di Ilkom stres berkurang karena kebahagiaan ngebuli elu. Anyway beneran makasih pul, lu salah satu yang paling gue andalkan buat beberapa hal, misalnya diskusi tentang desain. Makasih juga sempet jadi tempat sampah gue banget dalam waktu yang cukup lama hehe jangan kapok yah.
Makasih juga buat cims dan liatos yang sibuk banget (apa sombong banget) ga dateng ke wisudaan gue. Kalian kandidat kuat yang bikin gue bisa bertahan di Ilkom. Makasih ya girls! :3

rakit bambuPutih abu nggak ada matinya yah. Rakit Bambu! Makasih banget banget banget untuk waktunya, seneng banget ngeliat kalian nyamperin gue sambil nyodorin bunga-bunga. Anak smansa tuh kaya charger. Abis ketemu kalian energi gue jadi full lagi, siap lagi menghadapi semuanya, siap lagi buat perang! :)

asramaHalo anak-anak rimba. Selamat buat ijah yang wisuda juga dan anak SylvaSari lain yang sayangnya nggak sempet ketemu. Makasih buat temen sekamar dan temen sebelah kamar terbaik yang nyempetin ketemu saat gue udah mau jalan pulang. Gue doain kalian cepet dapet kerja yang menyenangkan :D

happy graduation from domoThankyouu sistah akhirnya domo ikut berbahagia :[]

kadoTerimakasih buat semua pemberian – apapun bentuknya, means so much for me <3

domo - flowerTerimakasih buat semuanya yang nggak sempet ketemu atau foto bareng. Terimakasih buat semua orang yang pernah ada. Nggak peduli cuma pernah ketemu di angkot, di berlin, di bara, di rektorat, di trans pakuan. Nggak peduli kenal atau engga. Terimakasih, setiap pertemuan pasti sengaja dikasih Allah karena ada sesuatu yang bisa kita ambil.

atana wisudaa

Alhamdulillahirabbilalamin.. Allah. Wisuda ini memang cuma simbolisasi. But it means too much for me. Momen dimana aku ketemu banyak orang yang aku cintai, aku sayangi. Orang-orang terbaik dalam hidupku. Momen dimana aku kembali diingatkan untuk banyak-banyak bersyukur. Diingatkan kepada-Mu.
Terimakasih Allah. Terimakasih sudah sampai sejauh ini. Karena mengingat-Mu, banyak, sangat banyak hal yang menenangkan, membahagiakan. Mulai dari rasa aman ketika pulang larut malam, membangunkanku ketika nangis-nangis karena merasa nyerah, membuatku tenang ketika ketakutan dan kekhawatiran menghampiri lewat berbagai macam bentuk masalah, sampai membuatku yakin untuk hal-hal besar yang aku rasa sangat sulit untuk digapai.
Maaf karena belum bisa menjadi hamba-Mu yang benar-benar seperti seharusnya. Izinkan aku untuk terus belajar. Belajar melakukan semuanya untuk-Mu. Belajar menjadi manusia yang bermanfaat. Sampai akhirnya diizinkan untuk bertemu dengan-Mu.
Terimakasih Allah :’)

Lupa


Kadang gue lupa kalau untuk mendapatkan sesuatu butuh perjuangan. Butuh pengorbanan. Butuh kesabaran. Butuh ketekunan. Kegigihan. Kedisiplinan.
Entah. Barangkali gue lupa kalau lagi memperjuangkan sesuatu. Gue lupa dengan doa-doa dan rengekan peemohonan gue kepada Sang Pencipta.
Bisa aja Dia langsung mengabulkan; Kun Fayakun!
Tapi sayangnya gue lupa. Dia nggak akan mengabulkan kalau nggak ada usaha.

Barangkali gue lupa kalo Dia juga menjamin ngga akan ada ujian di luar kesanggupan. Di tengah jalan gue menyerah. Pasrah. Melanggar aturan. Menyimpang. Lelah. Menuruti hawa nafsu. Menggerutu. Merasa semua nggak kunjung usai. Membuat sia-sia perjuangan yang udah dimulai (tapi belum selesai).
Kemudian seketika gue ingat, gue harus memulainya dari awal. Dari titik nol. Bahkan dari angka minus sekian. Kemudian di tengah jalan gue kembali lupa. Lupa. Lupa semuanya.

Lalu hari ini gue akan mulai lagi. Apakah harapan besar dan janji Allah Maha Besar masih kurang kuat untuk menjadi pengingat? :’)

ketika yang dekat tak terjangkau


Setahun belakangan ini, gue sering menemukan akun-akun media sosial yang bergerak untuk charity, khususnya di bidang pendidikan. Kebanyakan dari mereka adalah mencoba menjangkau daerah-daerah terpencil, terjun kesana, mengajar di sana, berbagi di sana. Salut.

Pernah gue tertarik untuk bergabung. Seperti mereka, bersama mereka. Tapi sampai sekarang belum pernah terealisasi, kecuali sekali dua kali ikut ke LPK Tepi Sawah yang berlokasi di Kecamatan Cibungbulang, Bogor.

Gue selalu tertarik dengan kegiatan-kegiatan dan komunitas-komunitas seperti itu. Menyaksikan dan merasakan semangat (terutama) anak-anak muda Indonesia untuk memajukan bangsanya dan membantu sesamanya.

Ada satu hal yang membuat gue tertahan setiap kali memutuskan untuk bergabung atau terikat dengan salah satu komunitas tersebut. Gue seringkali dihampiri pertanyaan (dari diri sendiri)
“Hey, tan, bagaimana dengan sekelilingmu?”
Sudahkah mereka terjangkau?”
Ada rasa bersalah yang muncul. Selain itu, komunitas-komunitas di luar sana, yang dengan gencar mengajak kami untuk bergabung, gue rasa sudah banyak peminatnya. Jadi, untuk apa gue ikut berebut untuk masuk ke dalam sebuah kotak sedangkan di luar sana masih banyak kotak lain?

Saat ini belum banyak waktu, materi, tenaga, atau ilmu yang bisa gue sumbangkan. Gue pikir untuk saat ini mungkin gue jalani saja dulu usaha yang sedang gue rintis, pekerjaan-pekerjaan lain yang (seringkali) datang tak disangka. Setiap orang memiliki cara ‘berbagi’-nya masing-masing. Sambil terus melakukan cara berbagi sederhana ala gue, gue berusaha meraih kotak terdekat. Karena memulai dari awal butuh modal yang besar. Gue masih berusaha mengumpulkannya sedikit demi sedikit.