28


fam2

Kita tak pernah tahu
Berapa lama kita diberi waktu
Jika aku pergi lebih dulu
Jangan lupakan aku
Ini lagu untukmu
Ungkapan terima kasihku

Lambang monokrom hitam putih
Aku coba ingat warna demi warna di hidupku
Tak akan ku mengenal cinta
Bila bukan karna hati baikmu

(Monokrom, Tulus)

Be kind to one another


 

Belakangan ini gue lebih memilih nonton YouTube daripada baca. Kecenderungan visual gue lagi di level yang tinggi. Awalnya gara-gara mau tes IELTS dan nemu channel yang pas banget buat latihan listening. Mencoba untuk membiasakan diri denger ocehan orang-orang berbahasa ‘asing’. Gue suka nonton TED, tapi terus-terusan agak bosen juga. Pernah ada yang rekomendasiin Jimmy Fallon. Yaa, cukup menghibur. Terus ada rekomendasi dari YouTube ke channelnya The Ellen Show. Udah lama nangkring di recommended videos tapi ga pernah gue tengok. Sampai sekitar seminggu lalu gue mulai tonton dan malah keterusan.

Keseluruhan isinya cukup menginspirasi, di luar sesi ngobrol bareng artis dan orang-orang terkenal lainnya, dia sering menjadikan  anak-anak dan “orang asing” sebagai bintang tamunya. Anak-anak yang diundang spesial. Bayangin anak-anak kecil ini lucu banget! Di usia sekitar tiga sampai belasan tahun, ada yang udah hafal tabel periodik, ada yang jadi surfer profesional, ada yang paham banget segala hal tentang kepresidenan (khususnya di US), yang punya perusahaan recycling, nyiptain tangan superhero, main piano level dewa, nari robot, expert di bidang geografi, dan lain-lain.

Orang-orang baik yang diundang literally emang mereka yang baik. Sekecil apapun kebaikannya. Anak kecil sampai orang dewasa, guru, tentara/anggota militer, nanny, pak pos, dan lain-lain dari mulai yang nyelamatin orang saat kebakaran, donorin organ tubuhnya, anak autis yang bisa dapet pekerjaan sebagai barista, guru yang nabung dan pake uang pribadi buat kebutuhan murid-muridnya, pejuang kanker yang jadi beauty blogger, ibu single fighter yang punya anak asuh lalu kehilangan pekerjaan, anak kecil yang nemu uang terus dikasih ke keluarga tentara + surat yang ditulis sebagai ungkapan terimakasih kepada tentara, segelintir orang di satu sekolah yang berjuang keras buat membasmi bully (fyi sempat ada kejadian seorang anak yang meninggal karena kasus bullying) sampai seorang perempuan yang melakukan kebaikan kecil-kecil tapi konsisten setiap hari.

Orang-orang itu biasanya diketahui dari media sosial atau surat yang dikirim orang lain ke Ellen. Penulis suratnya yang menjelaskan kondisi mereka dan kenapa mereka pantas diapresiasi. Selain itu, penulis merasa bahwa dunia perlu tahu tentang cerita mereka. Dunia butuh contoh, contoh yang baik. Di penghujung acara, biasanya bintang tamunya dikasih hadiah dalam bentuk uang, barang, atau tiket perjalanan ke tempat impian mereka. Ellen DeGeneres menginisiasi campaign #beKindtoOneAnother dengan harapan semua orang saling bersikap baik satu sama lain dan menyebar kebaikan tersebut.

Meskipun gue ngga setuju atas pilihan pribadi Ellen yang mendukung LGBT (ya, dia juga gay dan sudah resmi menikah), tapi gue bisa ambil beberapa pelajaran bagus dari acara talk shownya:

  • Teknologi udah sangat maju dan ngasih dampak yang besar. Lewat hashtag #beKindtoOneAnother, tercipta semacam snowball effect yang mengingatkan dan menginspirasi banyak orang untuk berbuat baik. Kita tinggal posting sesuatu di sosial media, atau kirim email tentang satu kebaikan, lalu seluruh dunia tau. Dari sana juga lah Ellen menemukan banyak orang baik yang akhirnya menjadi bintang tamunya dan berbagi cerita inspiratifnya kepada jutaan penonton. Pihak sponsor juga kemudian menemukan saluran untuk memberikan donasi kepada mereka yang berhak dibantu atau pantas diapresiasi.
  • Kita nggak harus melakukan sesuatu yang besar untuk membuat dunia jadi lebih baik. Kita ngga wajib kaya raya, ngga harus bikin perusahaan, ngga harus sekolah tinggi hanya demi alasan ingin bermanfaat buat orang lain dan mengubah dunia. Kita cuma perlu peduli dan nggak egois.
  • Mengapresiasi itu penting. Gue setuju kalau kita ngga boleh berharap untuk dipuji, dikasih hadiah, atau bentuk apresiatif lainnya. Tapi, menunjukkan penghargaan atau memberikan apresiasi (apapun bentuknya) kepada mereka yang memang pantas, itu sesuatu yang mudah untuk dilakukan dan memberi dampak positif bagi si penerima maupun pemberi. Jadi, kenapa tidak?
  • Semua orang punya hak yang sama atas kehidupan yang layak, pendidikan, perut yang tidak lapar, keamanan, dan pengakuan masyarakat. Jangan meremehkan siapapun. Kita nggak bakal tahu ke depannya siapa bakal jadi apa dan kita nggak akan pernah tahu secara pasti hidup orang lain dan apa aja usaha yang dia lakukan untuk menciptakan kebaikan.
  • Kita boleh tidak setuju atau tidak suka dengan apa yang dilakukan orang lain. Tapi tidak perlu membenci orangnya. Dan bersikap sportif lah, jangan sampai ketika orang itu berbuat kesalahan/ sesuatu yang menurut kita salah, kita berkoar-koar dan menyebarkan keburukannya. Namun ketika ia berbuat sesuatu yang positif, malah diam saja.

 

So, let’s be kind to one another! Everyday, everytime :)

Januari #1


happy-girls

Y: Kenapa ya orang suka nyamain bunga Raflessia sama bunga bangkai? Padahal kan itu beda. Raflessia itu bukan bunga bangkai, meskipun dia baunya juga mirip bangkai. Kalo bunga bangkai itu disebutnya ‘Padma’.

A: Ooh beda ya. Padma-wati? *krik*
Kalau ini bunga apa yun? Itu taneman apa yun? Kalau yang ini?

Salah satu kebahagiaan Januari di 2017 ini adalah dikirimkannya seorang teman yang menyumbangkan pengaruh positif buat gue. Orang yang bikin gue (setelah berbulan-bulan lamanya) akhirnya termotivasi lagi buat olahraga.

Partner lari pagi dan makan di (warkop) tampomas ini akhirnya berhasil merealisasikan keinginan gue buat ke kebun raya cibodas, dan dikasih bonus naik mobil siluman :p

Setiap lari atau jalan bareng, dia ga bosen ngebagi ilmu lanskapnya tentang jenis-jenis bunga, pohon, dan tanaman lainnya, tentang desain taman, jalan setapak, desain trek lari, juga soal mana yang lebih bagus antara tanaman yang didesain mengikuti kontur lereng atau dibuat secara horizontal untuk diterapkan di bukit dan pegunungan.

Kontur lereng! Gue (sok) yakin.

Meskipun begitu, gue cuma inget bunga bakung yang jenisnya banyak dan bougenville (karena emang udah tau). Yang lain namanya susah sih wkwk.

Makasih Yuni!
Meskipun sedih bulan depan ga bisa jogging bareng lagi, tetep sempetin olahraga ya hahaha semoga pekerjaan barunya mengasyikkan dan kita bisa nge-trip bareng lagi :D

Kepadamu, orang baik.


capture

Sebaliknya. Jadilah orang baik agar (kalau ada) orang yang pernah jatuh cinta kepadamu, tidak menyesal pernah merasakan hal itu meski akhirnya tidak bersatu. Karena dari orang baik sepertimu, ia belajar banyak hal tentang kebaikan dan mendapat energi-energi positif yang pernah sengaja atau tidak sengaja kau tularkan. Salah satu proses hidupnya yang membuat ia tumbuh menjadi orang yang semakin baik.

Pun sama halnya bila pernah ada orang(-orang) baik yang menaruh hati kepadamu. Meski mungkin karena beberapa hal dan (memang) sudah takdirnya bukan jodohmu, bersyukurlah. Kamu beruntung karena yang pernah datang kepadamu adalah mereka yang baik. Salah satu tanda bahwa kamu, di mata mereka, cukup baik. Jadi, tetaplah berperilaku baik kepada mereka.

Definisi “baik” mungkin bisa berbeda-beda bagi setiap orang tapi.. Ya! Dalam hal apa pun, menjadi orang baik tidak pernah salah. Bahkan kalaupun baru pada tahap berusaha menjadi baik.

Keputusan di Masa Lalu, Pembelajaran Seumur Hidup, dan Ujian


Saya sudah hampir 24 tahun hidup di bumi. Sudah melewati cukup banyak kejadian dan membuat banyak keputusan. Apa yang dialami di masa-masa kemaren tidak semuanya bagus dan menyenangkan. Ada waktu-waktu dimana saya bisa merasa kesal, sedih, marah, bertingkah tidak jelas, sombong, tidak peduli, dan banyak mengeluh. Namun, hal tersebut tidak menjadikan alasan untuk menyesali apa-apa yang telah menjadi keputusan saya di hari kemaren.

Misalnya, saya (dengan melalui berbagai dilema dan proses yang cukup panjang) memutuskan untuk mendaftarkan diri sebagai mahasiswi Ilmu Komputer. Saat itu, saya tidak terlalu tahu apa saja yang akan saya pelajari di jurusan tersebut. Saya lemah di fisika dan pas-pasan di kalkulus. Tapi kalau cepet-cepetan hitung angka pakai sempoa bayangan, sini kita tanding :p

Ternyata, saat saya menjalani kehidupan sebenarnya sebagai anak Ilkom…. banyak mata kulilah yang tidak saya sukai. Saya (awalnya) tertarik dengan kodingan karena terlihat keren dan canggih. Namun lama kelamaan saya stres kalau harus mengisi hari-hari dengan ngoding di layar hitam dengan teks putih, atau sebaliknya. Nilai-nilai saya pun juga jarang bisa bagus. Banyak mata kuliah yang saat ini dengan mudahnya saya lupakan dan merasa itu hanya berguna untuk dapat nilai.

Bertolak dari segala pikiran dan hal-hal negatif, saya merasa beruntung mendapat kesempatan untuk (dipaksa) mengikuti kelas-kelas jurusan Ilkom. Karena kalau tidak, saya tidak akan begitu tanggap dengan teknologi. Saya mungkin tidak akan tahu betapa rumit dan kompleksnya membuat suatu sistem, website, atau aplikasi mobile. Atau bahkan tidak peduli, yang penting saya bisa pakai. Saya mungkin tidak akan megerti apa itu interaction design, dan tidak akan mengenal user experience. Rugi rasanya jika tidak (sedikit saja) menguasai dunia teknologi dan komputer yang semakin hari perannya semakin besar untuk kehidupan manusia.

Contoh lain yang lebih sederhana. Saya pernah bekerja di bidang desain grafis. Setelah beberapa bulan, saya mulai merasa bosan dan agak tertekan. Kemudian saya menyadari bahwa desain adalah salah sau hal yang jadi hobi saya. Ketika sesuatu yang saya sukai dan dikerjakan dengan penuh kebebasan dan keleluasaan tanpa batasan waktu atau perintah, diubah menjadi sebuah pekerjaan yang harus cepat selesai dan harus sesuai permintaan, rasanya berbeda 180 derajat. Saya tidak melakukannya dengan sepenuh hati. Namun, dari situ saya mendapat pemahaman baru bahwa tidak selalu hobi yang dijadikan pekerjaan itu adalah pekerjaan yang terbaik.

Masa lalu tidak selalu indah, tapi tidak juga buruk. Saya tidak pernah menyesali keputusan-keputusan penting yang telah saya buat. Setiap pilihan memang punya resiko. Namun, bukan seberapa besar resikonya yang penting, tapi bagaimana kemudian kita menyikapinya.

Hidup ini selalu tentang berproses. Belajar, belajar, dan belajar. Apa yang terjadi di masa lalu adalah pembelajaran untuk hari ini dan di masa yang akan datang. Tidak ada kata selesai untuk belajar. Saya belajar Kalkulus waktu kuliah tingkat satu rasanya hanya untuk lulus ujian. Tapi.. bukankah polanya sama? Kita menghadapi banyak hal di dunia, yang mudah, rumit, dan rumit sekali. Dunia itu ujian juga bukan? Jadi, konteksnya adalah bagaimana kita bisa lulus ujian dunia untuk bisa mendapatkan akhirat. Dia yang rajin belajar, berdoa, bersungguh-sungguh, dan mengamalkan apa yang telah dipelajarinya biasanya punya peluang lebih besar untuk mendapatkan nilai yang bagus, dan akhirnya lulus. Semoga kita termasuk golongan pembelajar yang baik dan akan berkumpul ke dalam kelompok yang lulus ujian kehidupan ya! :)