cerita tentang goodnote #1


Usaha yang udah gue rintis selama (hampir) setahun bersama salah satu sahabat gue (sintya) ini berawal dari kebutuhan. Kebutuhan akan sebuah benda yang bernama buku catatan, kebutuhan untuk hidup mandiri dengan menghasilkan, kebutuhan untuk berbagi dengan hasil yang diperoleh dari usaha sendiri, kebutuhan untuk menyalurkan kesukaan dan passion.

Pemilihan nama GoodNote melewati proses yang cukup panjang. Good – Note. Catatan yang baik. Catatlah segala hal-hal baik, atau yang akan menciptakan kebaikan, dan membuat kita (dan orang lain) menjadi lebih baik. Warna biru dan oranye memadukan kecerdasan dan kreativitas dengan kebebasan tanpa batas. Slogannya yang berbunyi write more, think more mengajak untuk berpikir lebih (lebih baik, lebih kreatif, lebih cerdas) dan menuangkan hasil pemikiran tersebut ke dalam bentuk tulisan atau catatan, atau bisa juga gambar.

goodnote

Logo GoodNote Indonesia

Selain menentukan produk seperti apa yang kami jual, siapa sasarannya, dimana saja cakupan penjualannya, mengapa orang ingin membelinya, dan bagaimana hal-hal lainnya, kami juga melakukan survei. Survei mengenai produk sejenis. Ternyata bisinis buku catatan custom sudah ada pendahulunya. Bahkan tidak hanya satu. Namun, selain belum ada yang base-nya di Bogor, buku catatan yang kami tawarkan memiliki beberapa poin lebih dan pembeda dibandingkan produk serupa lainnya yang kami ketahui. Kelebihan kami ada pada sisi keramahan harga, variasi ukuran buku, dan variasi warna kertas. Tetapi beberapa produk sejenis harus kami akui memiliki nilai positif yang membuat kami kagum, misalnya dari sisi kualitas foto produk, pilihan desain buku yang disediakan, dan profesionalitas dalam mengelola akun media sosial serta cara berhubungan dengan pelanggan.

Kami bisa dibilang awam untuk mengelola dunia wirausaha sehingga kami membaca beberapa artikel dari internet dan buku-buku yang berhubungan dengan wirausaha. Salah satu yang sangat melekat pada diri kami adalah bahwa sebuah usaha yang baik tidaklah terfokus pada materi, tetapi mengedepankan value. Jalankan saja, lakukan dan berikan yang terbaik, puaskan pelanggan, bahagiakan pelanggan dan (tentu saja) diri kita sendiri, ciptakan value yang setinggi-tingginya. Yang harus dipikirkan baik-baik adalah mengapa orang-orang membutuhkan produk kami dan memilih produk kami. Jika hal-hal (yang telah disebutkan) tersebut berjalan dengan mantap, keuntungan (dalam bentuk materi) akan mengikuti dengan sendirinya.

Hidup ini tidak akan terasa lengkap jika hanya dijalani sendirian. Untuk itu, kami memikirkan cara bagaimana agar hasil usaha kami tidak hanya dirasakan oleh kami sendiri, tetapi juga orang lain, terutama mereka yang memang sangat membutuhkan. Singkat cerita, gue punya sebuah impian untuk membangun sebuah perpustakaan, rumah baca, atau sebuah tempat yang dapat bermanfaat untuk menyalurkan kreativitas, terutama bagi anak-anak jalanan, yang secara materi kurang mampu, namun secara kemampuan (pasti) sama berpotensinya dengan orang-orang seperti kami yang lebih beruntung secara finansial. Untuk itu, terciptalah ide untuk menyisihkan seribu rupiah dari setiap pembelian satu buku GoodNote untuk ditabung. Tabungan jangka panjang untuk membangun sebuah perpustakaan impian. Oke, memang rasanya jangkauannya masih jauh. Tapi kami optimis bahwa niat baik akan berbuah baik. Selalu ada jalan.

Sampai saat ini, banyak yang telah kami dapatkan. Banyak rasa syukur yang sudah terucap lewat usaha GoodNote. Memang kalau dari segi profit belum bisa dikatakan luar biasa. Tapi dari segi pengalaman, banyak sekali yang kami dapatkan. Bagaimana mengatur keuangan, mengatur waktu, berkomunikasi dengan pelanggan, bekerja sama dengan orang lain, membuat pelanggan senang, mengakui kekurangan, menerima saran, kritik, bertemu dan kenal dengan orang-orang baru, dan bagaimana bekerja secara profesional.

Satu lagi, yang paling penting adalah menjaga hubungan baik dengan partner. Merintis sebuah usaha dari titik nol perlu (minimal) seorang teman yang dengannya kita saling mengerti, satu tujuan, tidak ingin terlihat siapa yang lebih hebat dan berlari saling mendahului, tapi berjalan bersama-sama, berlari bersama, sama-sama berkeringat, sampai menikmati hasilnya bersama-sama.
Teman juga berfungsi sebagai peyemangat ketika suatu hari kita lelah, mengingatkan kembali tujuan kita. Makanya, ketika gue dan cims bermaksud mencari anggota tambahan untuk memperkuat tim, kami sangat selektif. Sampai akhirnya, kami sekarang bertiga dengan pristy. Butuh kepercayaan yang penuh satu sama lain untuk terus berlanjut. Gue pribadi sangat percaya dengan kedua teman satu tim gue.

Menjelang satu tahun, sebagai rasa syukur, kami bermaksud membuat sesuatu yang spesial saat ulang tahun GoodNote nanti. Akan ada promo spesial, giveaway, dan penyaluran hasil tabungan seribu rupiah dari para pelanggan GoodNote. Mau tau seperti apa? Tunggu saja yaa, bisa update akun twitter atau instagram GoodNote buat lebih detilnya! :)

So, terimakasih Allah, Sintya Rosdwianty, Pristy Sukmasetya, orang-orang yang banyak membantu dalam proses pencetakan GoodNote, keluarga dan teman-teman buat semangat dan dukungannya, serta pelanggan-pelanggan GoodNote yang banyak berperan dalam mengingatkan kami untuk terus bersyukur :)

Garis start


Belum lama ini, gue bergabung dengan tim panitia UXID Conference. It still feels like a dream for me. Sangat mudah karena tanpa seleksi. Sebelumnya gue emang berminat ikut acara conference-nya. Memahami UX Lebih dalam. Belajar langsung dari ahli-ahlinya. Memperluas jaringan. Bertemu langsung dengan tokoh-tokoh UX dunia. Tapi harga tiketnya telalu tinggi buat gue (saat ini), di atas 1 juta teman-teman :’3
Ketika ada pengumuman open volunteer, gue otomatis daftar. Esoknya, gue dapet email balesan buat hadir rapat malam itu juga, di daerah Sudirman, Jakarta Selatan. I was truly excited, tapi khawatir bisa dapet izin orang tua untuk keluar malam hari dan (pasti) pulang larut.

Setelah menjelaskan acara apa itu, betapa gue pengen gabung tapi ga mampu beli tiketnya, dan sebuah kesempatan langka ini datang, kepada sang ayah. Setelah beliau tanya naik apa kesana, perginya pulangnya, sama siapa, jam berapa, dan memastikan ada kendaraan untuk pulang, gue… diizinkan. Gue diizinkan. Wow. I really had a full tank of excitement that time.

Bermodalkan pengalaman secuil pas skripsian, google search, google maps, kebiasaan disorientasi jalan, mulut untuk bertanya, dan kepercayaan ayah, akhirnya gue berangkat. Oke, ada sedikit salah-salah belok, tapi overall lancar dan gue sampai di tkp.

Malam itu gue melihat sebuah tempat kerja, sebuah ruangan luas di sebuah kantor, yang gue suka. Gue bertemu dengan orang-orang yang menurut gue mereka sangat kece dan profesional. Gue merasa sangat ‘kecil’. Gue (setahu gue) adalah satu-satunya yang berstatus pengangguran (eh, engga deng kan gue wirausaha :p). Tapi serius gue cukup minder. Gue ketemu dan setim, iya satu tim kerja! dengan orang-orang yang selama ini gue tahu (belum kenal) lewat media sosial, orang-orang yang expert di bidang UX. Orang-orang yang selama ini (dari jarak jauh) gue kagumi. Satu lagi, konsep rapat malam itu adalah favorit gue. Kata temen gue sih itu namanya metode agile. Kaya proses contextual inquiry buat nentuin user needs sih kalo di metode UX-nya Hartson-Pyla.

uxid meetup

Kami menyusun apa-apa saja yang menjadi kebutuhan dari H-3minggu, H-2minggu, H-1minggu, H-3hari, H-2hari, H-1hari, dan saat hari H untuk para pembicara, peserta, sponsor, dan partners. Kami beridiri di depan space putih penuh sticky notes ini, berbicara, memberi saran, berdiskusi. Gue akui ini cara yang efisien untuk brainstorming dibandingkan dengan cara ‘kaku’ yang biasanya.

Satu lagi, tapi ini rahasia ya. Belakangan ini gue berhasil memperkenalkan goodnote ke orang-orang hebat ini dan insya Allah bakal dapet peran di konferensi UX 6 November nanti :”)

Such an awesome plan, God. Thank you. Thanks. So much. Alhamdulillah.