#BantuIbuEka


Ini cerita tentang Ibu Eka.

Ibu Eka, adalah seorang ibu 1 anak yang tinggal di daerah Ciawi, Kabupaten Bogor.
Sudah lama ditinggal suaminya dan anak satu-satunya mengadu nasib di Jakarta, Bu Eka menyibukkan hari-harinya dengan menjadi ibu asuh bagi anak-anak di sekitar rumahnya. Sebagian anak-anak ini merupakan anak yatim, ada juga yang masih memiliki orangtua namun hidup dalam kondisi penuh keterbatasan. 

Bu Eka selalu merangkul mereka semua yang datang ke rumahnya dengan menyediakan makanan, menyediakan alat-alat tulis, alat gambar untuk anak-anak bermain, dan juga mengajarkan mereka sholat dan mengaji. Sifat bu Eka yang penuh kasih membuat anak-anak terus berdatangan ke rumahnya selepas mereka sekolah atau membantu orangtuanya masing-masing bekerja.

Ibu Eka sendiri sudahlah tidak muda, dan tidak memiliki penghasilan tetap. Berbagai cara dilakukan Bu Eka untuk menyokong hidup, salah satunya dengan berjualan bunga yang dibuat dari kain-kain sisa.

22154638_10214192989889574_4459569210786961457_n
Saya, dan teman-teman alumni Ilmu Komputer 47 IPB, ingin bergerak membantu bu Eka. Untuk itu, kami menawarkan teman-teman yang ingin membeli bunga-bunga di atas, atau yang ingin memberikan sarannya dalam rangka membantu Bu Eka, agar jangan segan menghubungi kami 🙂

Klik di sini yuk buat bantu Ibu Eka! :)

Advertisements
Gallery

Sesungguhnya mereka menangis


Tanzania, awal tahun 1980-an

Dua puluh anak berumur satu dan dua tahun, semuanya di satu tempat, terpisah dari orang tua mereka dan sakit akibat kekurangan gizi: normalnya, banyak anak akan menangis keras. Tapi di klinik ini, anak-anak tak punya cukup tenaga untuk menangis.

Di samping air mata, mata anak-anak itu juga ditutupi lalat. Lalat juga hinggap di mulut para bayi, berusaha mengisap nutrisi dari air mata, hidung, dan mulut mereka yang kecil.

Aku tak sanggup melihat lalat-lalat itu dan terus berusaha mengusir mereka dengan tanganku. Anak-anak itu bahkan tak punya kekuatan untuk melakukannya dan membiarkan serangga merangkak di wajah mereka.

Saat mengnjungi berbagai jenis tempat di Tanzania, sebagian besar pemandangan yang kulihat begitu memilukan, tapi aku tidak pernah mengizinkan diriku menangis.

Salah satu alasannya, kupikir itu tindakan yang tidak sopan, dan, yang terpenting, tidak ada waktu untuk air mata.

Totto Chan’s Children – Tetsuko Kuroyanagi

Gallery

080813


Hari ini ditunggu banyak orang. Iya terutama umat Islam di seluruh dunia. Hari ini (harusnya) semua orang merasakan kebahagiaan.
Gue nonton berita. Dari mulai kunjungan Pak Jokowi ke rumah-rumah penduduk yang diperbaiki. Ikut makan bareng mereka di sana. Iya, sangat merakyat.

Kemudian kita memasuki sebuah masjid terkenal di Indonesia. Banyaknya jumlah jamaah solat ied membuat sebagian harus solat di luar beralaskan koran. Masalahnya adalah kertas-kertas koran tersebut dibiarkan tergeletak sehabis solat. Memang itu menjadi rezeki tersendiri bagi mereka yang membutuhkan (seperti pemulung). Namun di sisi lain banyaknya jumlah kertas koran tersebut mengganggu aktivitas di jalanan karena banyak yang terbang berhamburan kesana kemari. Apa salahnya setiap orang merapikan kembali koran tersebut dan langsung memberikannya kepada pemulung2 di sana. Cukup efisien bukan?

Lain lagi cerita di makassar, tepatnya di kediaman mantan wakil presiden negara Indonesia. Di sana diadakan pembagian sedekah kepada orang-orang yang kekurangan. Maksud yang baik. Namun situasinya menjadi tidak terkendali. Masa membludak. Mereka mengantri berhimpit-himpitan. Sampai ada yang pingsan. Demi selembar uang lima puluh ribu rupiah. Kalau berpikir sedikit lebih kreatif, rasanya nggak mustahil deh mengubah konsep atau cara melaksanakan ‘aksi peduli sesama’ tersebut menjadi lebih tenang dan menyenangkan.

Ada lagi sebuah daerah di Jakarta. Mereka berlebaran dengan genangan air setinggi dada orang dewasa. Yang gue denger katanya mereka pernah ditawari untuk pindah tempat tinggal dengan kondisi yang sebenarnya akan sedikit lebih baik. Karena di daerah situ memang rawan banjir. Namun mereka menolak. Entah apa alasannya.

Lalu berita tentang Bapak Presiden kita dengan keluarganya. Beliau mengadakan open house di istana. Nggak ada yamg begitu spesial kalo menurut gue. Semua berjalan normal.

Masuk ke berita yang sepertinya sudah hangat dibicarakan. Tentang seorang wanita yang tiba-tiba ditarik orang asing saat hendak masuk kosan. Rambutnya. Iya rambutnya yang ditarik. Diseret. Dianiaya. Katanya sempat dibacok. Akhirnya, fransisca yofie, gadis tersebut meninggal dunia.

Terakhir sebuah acara reality show. Menayangkan kisah seorang bocah 10 tahun yang harus bekerja keras untuk hidup. Sebelum masuk sekolah, ia berjualan makanan ringan di sebuah taman kanak-kanak. Setelah itu dia harus bergegas menuju sekolahnya yang jaraknya lumayan jauh. Kadang ia telat. Tau hukumannya apa?
Membersihkan toilet.

Saat jam pelajaran ia suka kepikiran dagangannya yang terkadang jumlah uang yang terkumpul tidak sesuai dengan seharusnya.
Pulang sekolah dia balik lagi berlari menuju tk tadi pagi. Berjualan lagi.
Pulangnya ia ‘nyetor’ hasil jualannya. Biasanya dia dapet upah sekitar 2000 atau 3000 rupiah.
Ibunya bekerja sebagai ojek batu. Iya gue juga baru denger. Jadi nanti berapa batu pipih berbentuk seperti persegi ditumpuk di punggung, diberi alas dulu, diikat dan dipindahkan ke tempat tujuan. Penghasilannya ya nggak seberapa.

Kalo lagi musim panen jagung, iis si bocah tadi bersama neneknya pergi ke ladang jagung. Bukan mengambil hasil panen. Tapi memunguti sisa hasil panen. Jadi jagung yang kecil-kecil yang tidak dibutuhkan oleh pemiliknya, mereka kumpulkan untum makan, pengganti beras.
Ayahnya mengadu nasib ke ibukota. Namun hingga kini ngga ada kabarnya. Bahkan saat ibunya iis melahirkan anak keduanya, Bapaknya masih ngga ada kabar.

Iis termasuk anak yang cerdas di sekolahnya. Ranking 2. Cita-citanya simple. Mau jadi guru. Biar bisa berbagi ilmu.

Cerita seperti itu bukan cuma satu kan? Dan itu nyata.
Kemana kita selama ini?
Apa yang sudah kita lakukan?

Minimal di lingkungan sekitar kita, sudahkah (setidaknya) berusaha untuk bermanfaat?