1 Pixel yang hilang :’)


A: Gue paling gabisa nih di mata kuliah ini
D: Emang kenapa?
A: Iya soalnya kalo Ibunya ngejelasin gue suka ngga ngerti
D: Loh kan bisa nanya

Percakapan singkat dan ringan di tengah-tengah suasana kelas ketika dosen sedang menerangkan. Mungkin biasa banget buat banyak orang. Tapi sampe sekarang gue masih inget jelas. Bagi gue maknanya dalam. Ketika ada sesuatu yang nggak jelas atau kurang bisa dipahami, jangan salahkan orang lain kalau kita tidak berusaha untuk mencari tahu atau minimal bertanya.

Sampe malem ini bener-bener masih nggak nyangka. Bareng-bareng 3 tahun di Ilkom. Ga pernah lupa suasana kuliah yang rame dan bikin ketawa-ketawa. Masih inget suasana belajar bareng di sc. Lu yg suka ngeluarin celetukan konyol, nyanyi-nyanyi, dan nge-beatbox. Lu yg pernah nanya: Atana, tas domonya mana ko ga dipake lagi. Sesekali ada perbincangan sedikit serius tentang cita-cita dan masa depan. Komunikasi via chat dari mulai jaman Facebook chat sampe LINE buat nanya tugas, sharing ilmu, dan kabar-kabar. Lu yang katanya batal ke hongkong karena ikut kelas semester pendek. Karena batal keliling dunia jadinya keliling bara aja. Haha.

Masih inget jelas pas lu minta bantuin gue buat bikin poster tugas akhir. Lu bilang bakal seneng kalo dibantunya sama yang jadi juara poster pas mini conference. Hahaha bisa banget. Terus ngerjain poster sampe malem di sc. Trip bareng satu Pixels. Sampe akhirnya wisuda bareng. Terus sempet main bareng ke Dufan rame-rame setelah lulus. Lama ngga ketemu lagi karena udah pada mencar-mencar, kerja dan kuliah lagi. Udah susah untuk ngumpul. Sekalinya denger kabar terbaru, pagi-pagi banget. Lu udah ngga ada..

Gue nge-scroll isi chat grup kelas baca berulang buat mastiin gue ga salah baca. Tapi ternyata emang nggak salah. Kaget. Langsung mandi pengen ngelayat. Tapi aksesnya sulit ke Bandung dan ga ada temen. Maafin ya dhir.. Cuma bisa sholat dan doain lu dari rumah.

Kita semua di sini masih susah percaya. Ternyata ikhlas itu memang sulit ya. Tapi kita berusaha untuk ikhlas lepasin lu secepatnya biar lu tenang. Gue rasa selama lu hidup lu udah berjuang banget buat ngelawan penyakit yang lu alamin. I know it is not that easy. Tapi sekarang itu udah selesai ya dhir. Semoga lu terbebas dari semua jenis rasa sakit sekarang. Amin.

Kita selalu doain lu. Kita bakal adain acara doa bareng. Semoga doa kita dan semua orang yang mendoakan lu bermanfaat dan bisa nolong lu buat diterima di sisi Allah ya.

Sampaikan juga rasa terimakasih kita ke Allah karena udah ngirim lu ke hidup kita ya dhir. Sebagai teman yang baik dan bisa ngasih banyak pelajaran berharga buat kita. Makasih banyak buat semua kebaikan lu. Makasih juga udah ngingetin kita lagi kalau kematian itu dekat. Mencambuk kita, terutama temen-temen lu ini yang sedang ada di siklus quarter life (yang umumnya galau kerjaan, nikah, cari uang) biar nggak terlalu berorientasi dunia.

Semuanya milik Allah dan pasti akan kembali ke Allah. Nggak bisa diprediksi kapan. Nggak boleh protes kalau Allah mau mengambil kembali apa yang memang milik-Nya.

Dhira

Selamat jalan Muhammad Dhira.
Semoga kita ketemu lagi di Jannah-Nya :)

Pixels Graduation 2.0


image

image

image

image

19 November 2014
Terbanyak. Kami semua bahagia. Kami yang (sangat ingin hadir) berhalangan hadir juga ikut bahagia.
Selamat berjuang di tempat baru. Sampai ketemu lagi. Dengan kebahagiaan baru dari cerita-cerita baru. Cerita perjalanan menggapai kesuksesan. Terimakasih, pixel-pixel  penyempurna gambar. Gambar kesuksesan akan masa depan :)

28 Ramadhan


Sejak lahir sampai kelas 3 di sekolah menengah atas, nggak pernah terpikirkan kalau gue akan jadi mahasiswi Ilmu Komputer. Apa itu ilkom dan apa saja yang dipelajari pun gue nggak paham. Pernah waktu SMA kami dikenalkan dengan proses pembuatan flowchart dan pemrograman Visual Basic untuk membangun program-program sederhana seperti kalkulator. Pelajaran yang satu itu menurut gue susah. Memang gue nggak pernah nyoba latihan sendiri juga sih di rumah. Pernah juga kami mendapatkan tugas akhir mata pelajaran TIK untuk membuat website dengan Dreamweaver dan mempublikasikannya menggunakan hosting gratisan. Kemudian, kami juga ditugasi untuk membuat website menggunakan Joomla.  Gue cukup mendapat ketertarikan di sana. Tapi, ketertarikan gue adalah ketika membuat desain web, layouting, dan memadukan warna. Iya, gue punya minat di dunia desain.

Sampai akhirnya gue resmi jadi anak Ilkom. Belajar mengenai algoritma, basis data, berbagai macam bahasa pemrograman. Kami dikenalkan dengan software, gimana cara kerjanya, apa yang ada di baliknya, gimana proses merancang sebuah software, hingga implementasinya. Kami juga diberikan mata kuliah yang berhubungan dengan hardware dan jaringan. Membuat grafis lewat kodingan pun kami diajari. Selain itu, kami juga harus melahap ilmu-ilmu statistika untuk mendukung logika, perhitungan, dan cara berpikir kami dalam membangun sistem. Lingkupnya sangat luas, sangat banyak yang dipelajari hingga akhirnya gue pusing sendiri.

Memainkan kode-kode kolaborasi antara huruf angka dan simbol dengan menatap layar hitam dengan tulisan putih (atau sebaliknya) itu sejujurnya ngga baik buat kesehatan mata. Memang ada kepuasan tersendiri saat berhasil menjalankan (minimal) satu buah fungsi pada sebuah sistem yang dirancang. Stres sampai nangis mungkin biasa bagi para programmer saat deadline semakin mendekat tapi masih banyak bug atau fungsi-fungsi yang belum bisa berjalan sebagaimana mestinya. Kadang air mata kami esoknya dibalas dengan cacian dan hujatan pada saat presentasi. Tapi selalu ada apresiasi atas jerih payah kami, lewat sebuah nilai (kalo yang ngasih nilai baik :”) yang akan jadi penyumbang IP dan lewat tepukan tangan atau pukpuk gratis yang diberikan teman-teman.

Karena gue orang yang cepat bosen, ga suka dengan sesuatu yang monoton, gue lebih memilih untuk memainkan kodingan untuk mengatur tampilan sistem daripada mengatur fungsi-fungsi di dalamnya agar dapat berjalan. Setidaknya di balik kode-kode hitam-putih yang gue mainkan, gue bisa melihat keluaran yang warna-warni. Ya, karena (misalnya) untuk menentukan warna tulisan atau kolom yang akan tampil di website kita pun menggunakan barisan-barisan kodingan.

Satu-satunya mata kuliah yang bikin gue super excited adalah Interaksi Manusia dan Komputer (IMK). Percaya atau nggak, buat gue yang satu ini beda banget sama mata kuliah lain. Hidup gue lebih berwarna. Kuliah ketawa-ketawa seperti menonton sebuah standup comedy show dan nggak perlu mencatat. Tapi kami mengerti apa yang disampaikan. Kami diajari bagaimana merancang interaksi antara manusia (sebagai pengguna) dan sistem yang akan digunakannya. Bagaimana agar sistem mudah digunakan dan mudah dipahami. Dibalik itu pun ternyata tata letak dan warna-warna yang digunakan memiliki pengaruhnya masing-masing. Sayangnya, mata kuliah seperti ini hanya ada satu dan satu-satunya di Ilkom IPB.

Overall meski gue nggak cukup semangat untuk mendalami sebagian besar topik yang dipelajari, gue nggak bisa nggak berterimakasih karena sudah dikenalkan dengan ilmu-ilmu tersebut. Dengan menjadi bagian dari keluarga Illkomers gue jadi lebih terpacu untuk update teknologi yang menurut gue penting banget mengingat perkembangannya amat sangat pesat dan cepat. Setidaknya gue cukup punya pengetahuan untuk memutuskan gadget mana yang baiknya gue beli dengan budget yang ada. Itu bisa memeperkecil kemungkinan juga kan kalo-kalo kita (terutama para wanita) ditipu sama penjualnya. Gue jadi cukup paham bagaimana aplikasi-aplikasi yang sering gue gunakan dapat berjalan. Gue sedikit-sedikit jadi tahu kenapa Google bisa sangat pintar, bisa mencarikan apa yang kita butuhkan, menebak apa yang sebenarnya ingin kita cari ketika salah mengetikkan sebuah keyword pada mesin pencarian.

Dengan label anak ilkom, gue jadi bisa melakukan hal-hal yang dituntut bisa oleh kebanyakan orang di luar Ilkom. Seperti install ulang, masang WiFi, ngatasin virus shortcut, benerin koneksi internet yang bermasalah, dan hal-hal teknis lainnya yang sebenernya gue cari caranya dengan bantuan mbah gugel–dan nggak selalu 100% berhasil.

Tiba di tingkat akhir, gue harus menyusun skripsi. Seorang dosen pun memberikan beberapa pilihan topik penelitian. Dari sana lah gue berkenalan dengan yang namanya User Experience (UX). Bidang kajian sebenarnya ada kaitannya dengan IMK, namun tidak dipelajari saat di perkuliahan. Gue pun mengambil topik tersebut untuk tugas akhir. Setelah membaca beberapa referensi, gue ga bisa berhenti. Kayanya gue udah disihir buat masuk ke dunia UX. UX itu intinya bagaimana kita dapat merancang sebuah sistem/produk yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan penggunanya, kemudian bagaimana caranya agar pengguna mendapatkan pengalaman terbaik ketika berinteraksi dengan sistem. Ketika skripsi berakhir, gue nggak ikutan selesai kok buat mendalami bidang ini. Sepertinya gue menemukan bagian dari passion gue di sini.
Sialnya, gue baru mempelajari ini justru ketika dunia perkuliahan gue di Ilkom IPB akan berakhir. But they said it’s never too late.

Kalau gue nggak masuk Ilkom, mungkin gue nggak bakal kenal sama UX.

Allah emang udah nyediain jalan ya buat masing-masing dari kita. Seperti sekarang ini di saat gue dan sebagian temen udah lulus, sebagian sedang menuju kelulusan, bahkan sebagian lainnya udah dapet kerja. Alhamdulillah :)

Nggak bisa bohong kalau gue bangga sama kalian yang akhirnya bisa ngelewatin perjuangan 3 tahun buat bisa bertahan di Ilkom. Mungkin sebagian kita iri dengan keberhasilan teman-teman yang selangkah dua langkah lebih maju, seperti misalnya udah dapet kerja duluan. Keep calm hey, guys. Rencana-Nya mengatakan kalau memang itu sudah jalannya dan waktunya mereka. Kita juga pasti punya gilirannya kok. Santai saja tapi jangan berhenti berikhtiar. Pada akhirnya gue yakin kalo kita akan sukses dengan cara masing-masing.
So, keep stand on your passions, hold on your dreams, and go through this big big world to make them true! :)

One who proud of being a pixel,

Atana

 

20 Ramadhan


anigifMakin ngerasain yang namanya ‘yaudah sih’

Ga perlu jaim lagi sama kalian. Ga usah lagi lah peduli yang namanya bete kesel gasuka sama orang-orang ini.  Kita udah sama-sama tau kekurangan dan kelebihan masing-masing. Bukan waktunya lagi kaya anak kecil yang musuh-musuhan slek-selekan atau saling dendam. Toh kapan lagi sih kita ketemu. Bakal semakin jarang bukan?

Selagi masih dipertemukan, berbuat baik ke kalian itu sepertinya jadi keharusan. Membayar segala tingkah, sikap, dan kelakuan buruk gue di hari-hari kemaren ke kalian. Selagi masih ada waktu, setidaknya di antara tumpukan catatan hitam ada putih yang terselip, atau putih itu menjadi catatan terakhir di memori kalian sebagai penutup yang baik.

Kalau kata sahabat gue si penulis gaul, we were born to please everyone :)