Sakit


Siapa sih yang mau sakit? Ga ada.

Sakit yang paling bikin khawatir buat gue adalah sakitnya bokap beberapa waktu lalu. Sakit yang nggak abal-abal. Sakit yang bikin ade gue pulang dari bandung dini hari dan ade gue yang satunya lagi terbang dari medan pagi-pagi.

Sialnya ketakutan gue didukung oleh sebuah mimpi yang beberapa minggu/bulan (gue lupa) sebelum itu. Tentang bokap. Bukan mimpi yang bagus. Gue ga usah ceritain ya.

Gue mikirnya udah macem-macem. Serius gue takut. Gue ga siap. Gue masih butuh bokap. Gue masih harus ngasih banyak hal. Gue masih harus ngebuktiin banyak hal. Gue masi harus ini. Harus itu.

Sesakit-sakitnya bokap, separah-parahnya, beliau masih bisa bilang “gapapa”
Masih mikirin orang lain di ruang ICU ketika sadar. Mikirin hak (materi) orang lain yang harusnya dikasih lewat bokap dan minta ponselnya saat itu.

Bahkan di saat-saat kritisnya, Ayah masih nunjukin pelajaran-pelajaran berharga buat gue.

Sejak beberapa hari yang lalu gue sakit. Kalo mau dibandingin sakit gue ngga ada apa-apanya dibanding sakit bokap kemaren. Tapi kaya gini aja udah ngga masuk kerja. Kalo mau bandingin lagi, pekerjaan gue juga masih ngga ada apa-apanya dibanding kerjaan bokap. Tanggungan gue masih cuma buat diri sendiri (dan belum sepenuhnya), bukan buat sekeluarga dan segala embel-embelnya. Gue cuma pulang pergi Jakarta-Bogor. Bukan bolak-balik terjun lapang ke luar kota. Gue duduk nyaman di kantor. Bukan ke daerah-daerah terpencil. Gue suka sama pekerjaan gue. Mungkin di situ persamaannya.

Tap dibalik sakit pasti selalu ada kebaikan yang bisa diambil bukan?
Ya Allah, berikan kami kesehatan jasmani dan rohani. Selama-lamanya.

Pencapaian #2


They said, love your job so you will never have to work a day in your life.
Merci beaucoup. I ought to be grateful to have what they called ‘jobs’ today.

First, I have a flexible place and working hours kind of job and this job suits my hobby.
Secondly, I have a chance to join an internship in a big company and my job is…….. what I had dreamed.
Last precious thing is the job I created by myself, sorry, I mean with my friend. If we built this job, it means we made it based on our passion.

You know, this life could never be perfect like you wish to be.
Sometimes, I get so bored. I have to do the same kind of thing each day. It gets more complicated when I lost my mood.
Despite of nothing-to-be-complained in the office, I hate the fact that the fastest (with good price) way to go home is  using public train which is always overcapacity.
Build a startup bussiness needs much effort. You’ll find so many problems. You have to strong enough to (at least) keep survive. You have to be creative and think big and think wise. When you and (also) your partner are having so many activities by their own, it’s dangerous.

However, I do love my jobs.

How? Some people asked me how can I got those job?
Because I seek for it. As simply as it was.
When I couldn’t find what I want, I was trying to made it.
When I failed passing a job test, God was giving me (which I realize later) what I need for that time.
When I sincerely accept what He gave (actually I did never really stop looking for my dream job oppportunity – but I am not in an ambition), He showed me a (rarely) chance, which made my eyes sparkling, but felt hesitate then.

At the end, it’s my choice. I have to decide. I am 21. Okay, towards 22. I use to know what I need, what I like, what I love, even what I dislike and also to understand why.

But, one thing, don’t impose anything you shouldn’t. You may keep going for your dreams. The end of story maybe suits your dream, maybe not. Somehow, you’ll wonder that you can’t agree more with His choice.

Distractions vs Opportunities


Belakangan ini cukup banyak hal yang datang, baik yang direncanakan ataupun di luar dugaan. Semuanya cukup menggoda. Meski akhirnya berhasil menahan diri, di sisi lain gue nggak bisa bohong kalau semuanya punya ketertarikan masing-masing.
Beberapa bulan ini gue harus banyak-banyak minta maaf karena nggak bisa maksimal dalam membantu orang lain, khususnya orang-orang di sekeliling gue. Di satu sisi ada rasa senang penuh syukur ketika memang masih ada orang-orang yang mempercayakan sesuatu (apapun itu) ke gue. Di sisi lain ada kesedihan karena nggak semua kepercayaan itu bisa disanggupi. Bahkan untuk beberapa hal yang keliatannya sepele.

That isn’t easy, for me, to get focus on whatever it is.

Sekarang gue mau coba fokus perlahan-lahan. Sudah saatnya mengerucutkan jalan ke setiap tujuan. Memang, persimpangannya semakin banyak dan beragam. Lalu semuanya seakan menyenangkan. Setidaknya untuk dikunjungi sesaat.

Takut itu ketika rasa senang dan nyaman di sebuah persimpangan terus tumbuh sehingga lupa akan tujuan sebenarnya.

Ini posisi gue sekarang. Sedang di persimpangan. Tapi persimpangan ini sudah diperhitungkan. Kiranya akan jadi tambahan modal untuk mencapai tujuan awal.

Apakah setiap kesempatan yang datang malah akan jadi pendistraksi sesuatu yang sudah dimulai lebih dulu (tapi belum tuntas)? I thought of this sometimes.

Then I thought more. Gue kira ngga ada yang salah dengan pilihan yang gue ambil. Karena gue nggak pernah merasa menyesal atas itu. But remember to set the time, tans. Back to the priorities. Gue pikir sebaiknya sudahi sementara bila dirasa cukup. Selanjutnya berikan waktu khusus untuk fokus. Benar-benar fokus. Mengejar apa yang selama ini cuma bisa diomongkan.

25 02 15


Besok hari penting. Besok pagi menjelang siang. Gue harus pake laptop buat besok. Di rumah ada 3 laptop. Mereka baik-baik saja tadi siang. Hawa-hawa negatif muncul menjelang sore. Tiap laptop punya masalah masing-masing. Sampai malam ini masalahnya nggak kunjung usai. Malah nambah masalah lain. Fisik gue harus istirahat buat besok. Tapi gue ngga tenang.

Entah kenapa mereka semua lagi kompak banget. Semesta juga kaya ikut ngedukung. Gue sampe mau nangis. Oke ini lebay. Tapi ini fakta.

Ya Allah. Ada aja ya bentuk-bentuk ujiannya. Manusia emang gampang ngeluh. Gampang khawatir. Gampang takut. Gampang sedih. Padahal mungkin Allah cuma mau liat seberapa besar usaha gue, seberapa baik sikap gue dalam menghadapi ujian (yang keliatannya) sepele ini.

Selamat tidur. Menjelang subuh akan gue hadapi lagi mereka. Mungkin mereka lelah.

Bismillah. Wish me luck :”

Friends vs Intensive Interaction


Setiap orang (hampir) pasti punya orang-orang terdekat. Kami menyebutnya teman. Lebih dalam lagi sahabat. Kebutuhan akan tempat yang mau mendengarkan semua ocehan, semua keluhan, untuk bertanya, meminta pendapat, bahkan untuk sekadar (saling) pamer dan mengejek. Pun halnya dengan gue.

Definisi? Lupakan. Gue lebih butuh praktek daripada teori untuk hal ini.
Gue juga punya orang-orang seperti itu. Gue nggak akan rutin, atau selalu, atau minimal sehari sekali, atau sering berinteraksi dengan mereka entah itu via sms, chatting, media sosial. Bahkan untuk cerita-cerita yang (menurut gue) penting atau seru, gue hanya kadang-kadang berbagi. Begitu juga dengan mereka, entah itu karena menyeimbangkan gue yang seperti ini, entah sama-sama seperti ini, atau apapun alasannya. Tapi untuk kabar atau hal-hal penting dan utama bagi masing-masing mereka, gue (insya Allah) selalu mengusahakan untuk update. Gue juga terkadang jadi yang memulai ngespam kok bahkan untuk hal-hal ngga penting yang nggak harus dibales.

Pertemuan. Buat gue itu penting. Ketika gue bertemu mereka, semuanya dikeluarkan. Semuanya diceritakan. Ada kepuasan dan kebahagiaan tersendiri ketika gue menceritakan, membicarakan, mendiskusikan, dan menertawakan banyak hal secara langsung dibanding harus mengetik panjang lebar lewat media elektronik yang terkadang apa yang disampaikan tidak sama dengan yang ditangkap penerima. Makanya buat gue, sesibuk apapun, menyempatkan ketemuan itu penting. Selain mengetahui kabar dan semua yang diceritakan, gue juga bisa melihat secara langsung dan memastikan kalau mereka baik-baik saja.

Semakin bertambahnya umur, friendship ini jadi sesuatu yang semakin priceless.
Terimakasih buat kalian yang mau dan bisa tetap ada di lingkaran gue. Kalian yang nggak marah kalo gue kadang bales chat singkat atau di-read doang. Kalian yang ngerti kalo itu bukan karena gue marah males atau kesel. Kenapa? Kalo kalian udah kenal gue pasti ngga perlu nanya. Yaa tapi kalo buat yang penting gue selalu bales kan :p Kalian yang nggak menuntut banyak. Gue yang nggak bisa dituntut untuk selalu intens menghubungi kalian. But it doesn’t mean you can’t contact me anytime. I’ll always available for your story, even if there’s only a ‘garbage’ stuff.