Komunikasi


Pernah nggak, lu mengabaikan atau mengundur-undur atau menunda atau tidak memprioritaskan atau (mungkin) tidak sempat atau belum sempat mengerjakan beberapa hal yang telah jadi tanggung jawab karena (ternyata) ada hal lain yang menyita waktu dan tenaga?
Kemudian lu terlalu lelah atau terlalu takut atau terlalu malu atau terlalu malas atau “nanti saja” untuk menghubungi orang-orang yang berangkutan?

Itu gue belakangan ini. Rasanya? Perasaan bersalah terus menghantui :’
Gue biasanya cenderung akan mengkomunikasikan setelah gue menyelesaikan masing-masing urusan sambil menjelaskan alasan dibalik itu. Gue sering nanti aja balesnya kalau udah ada kepastian.

I know it was wrong.

And today, gue berusaha belajar mengkomunikasikan secara baik-baik. Menceritakan apa masalahnya. Apa kendalanya. Membuang jauh-jauh kemageran komunikasi via sms, chat, dan sejenisnya.

I did it. Barusan banget. I’m sure and also understand if they were dissapointed of me. You can imagine this. Lu udah percaya sama gue. Memberikan kesempatan ke gue untuk membantu menyelesaikan atau mengerjakan suatu hal yang penting buat lu. Gue sudah mengiyakan. Lu menunggu kabar bahagia dari gue. Gue nggak kunjung ngabarin. Mungkin lu mau nagih juga ngga enak karena lu udah percaya. Atau bahkan lu udah terlalu males sama gue karena kelamaan. Kesel ga?

Hari ini gue berusaha buat (mau) belajar dan praktekin kalau, at least, kalau ada masalah, kalau ada kendala, kalau ada sesuatu, just tell. Ceritakan. Apalagi dampaknya akan merugikan orang-orang yang (sudah terlanjur) punya kepentingan.

Hari ini gue komunikasikan semua. Takut? iya. Gue takut sama respon mereka. Tapi ya itu resiko. I should face it up. What was amazed me is… respon mereka. Tetap baik. Tetap menyenangkan. Tetap memberi kesan kalau gue bisa diandalkan. Tetap mau menunggu.

Jadi mau nangis *lebay*

Dari situ juga ada perasaan lebih lega. What I have to learn after that, gue mesti bisa mengukur diri. Gue harus rasional. Terutama masalah waktu. Bukankah semua orang benci menunggu? Apalagi kalau terlalu lama. Ketika gue sudah menyampaikan, setidaknya orang lain nggak menebak-nebak ada apa. Mencegah prasangka buruk. Menghindari kesalahpahaman.

Sekarang komunikasi amat sangat mudah. Banyak cara. Komunikasikan. Apapun itu. Baik-baik.

Sakit


Siapa sih yang mau sakit? Ga ada.

Sakit yang paling bikin khawatir buat gue adalah sakitnya bokap beberapa waktu lalu. Sakit yang nggak abal-abal. Sakit yang bikin ade gue pulang dari bandung dini hari dan ade gue yang satunya lagi terbang dari medan pagi-pagi.

Sialnya ketakutan gue didukung oleh sebuah mimpi yang beberapa minggu/bulan (gue lupa) sebelum itu. Tentang bokap. Bukan mimpi yang bagus. Gue ga usah ceritain ya.

Gue mikirnya udah macem-macem. Serius gue takut. Gue ga siap. Gue masih butuh bokap. Gue masih harus ngasih banyak hal. Gue masih harus ngebuktiin banyak hal. Gue masi harus ini. Harus itu.

Sesakit-sakitnya bokap, separah-parahnya, beliau masih bisa bilang “gapapa”
Masih mikirin orang lain di ruang ICU ketika sadar. Mikirin hak (materi) orang lain yang harusnya dikasih lewat bokap dan minta ponselnya saat itu.

Bahkan di saat-saat kritisnya, Ayah masih nunjukin pelajaran-pelajaran berharga buat gue.

Sejak beberapa hari yang lalu gue sakit. Kalo mau dibandingin sakit gue ngga ada apa-apanya dibanding sakit bokap kemaren. Tapi kaya gini aja udah ngga masuk kerja. Kalo mau bandingin lagi, pekerjaan gue juga masih ngga ada apa-apanya dibanding kerjaan bokap. Tanggungan gue masih cuma buat diri sendiri (dan belum sepenuhnya), bukan buat sekeluarga dan segala embel-embelnya. Gue cuma pulang pergi Jakarta-Bogor. Bukan bolak-balik terjun lapang ke luar kota. Gue duduk nyaman di kantor. Bukan ke daerah-daerah terpencil. Gue suka sama pekerjaan gue. Mungkin di situ persamaannya.

Tapi dibalik sakit pasti selalu ada kebaikan yang bisa diambil bukan?
Ya Allah, berikan kami kesehatan jasmani dan rohani. Selama-lamanya.

Pencapaian #2


They said, love your job so you will never have to work a day in your life.
Merci beaucoup. I ought to be grateful to have what they called ‘jobs’ today.

First, I have a flexible place and working hours kind of job and this job suits my hobby.
Secondly, I have a chance to join an internship in a big company and my job is…….. what I had dreamed.
Last precious thing is the job I created by myself, sorry, I mean with my friend. If we built this job, it means we made it based on our passion.

You know, this life could never be perfect like you wish to be.
Sometimes, I get so bored. I have to do the same kind of thing each day. It gets more complicated when I lost my mood.
Despite of nothing-to-be-complained in the office, I hate the fact that the fastest (with good price) way to go home is  using public train which is always overcapacity.
Build a startup bussiness needs much effort. You’ll find so many problems. You have to strong enough to (at least) keep survive. You have to be creative and think big and think wise. When you and (also) your partner are having so many activities by their own, it’s dangerous.

However, I do love my jobs.

How? Some people asked me how can I got those job?
Because I seek for it. As simply as it was.
When I couldn’t find what I want, I was trying to made it.
When I failed passing a job test, God was giving me (which I realize later) what I need for that time.
When I sincerely accept what He gave (actually I did never really stop looking for my dream job oppportunity – but I am not in an ambition), He showed me a (rarely) chance, which made my eyes sparkling, but felt hesitate then.

At the end, it’s my choice. I have to decide. I am 21. Okay, towards 22. I use to know what I need, what I like, what I love, even what I dislike and also to understand why.

But, one thing, don’t impose anything you shouldn’t. You may keep going for your dreams. The end of story maybe suits your dream, maybe not. Somehow, you’ll wonder that you can’t agree more with His choice.