Berhenti atau Tidak?


Ada kalanya seseorang memilih berhenti sebelum sampai di  tujuan (yang telah ditentukan).

Pertama, bisa karena lelah.
Kedua, karena terlalu jauh dan menghabiskan waktu.
Ketiga, karena ada persinggahan yang dilalui dan ternyata sudah cukup memberikan kepuasan, merasa tidak usah lah berjalan lebih jauh.
Keempat, karena berita yang mengumumkan bahwa tujuan itu sudah terlalu penuh.
Kelima, karena menyadari kalau tujuannya ternyata salah.
Keenam, ada titik lain yang rasanya lebih tepat untuk jadi tujuan.
Ketujuh, karena mengikuti kata batinnya saja.

Aku sedang berada di fase sebelum berhenti dimana aku harus membuat keputusan, untuk berhenti atau tidak.
Karena alasan-alasan untuk berhenti sebelum sampai tujuan itu masih belum begitu kuat.

Cah Monkey


Seorang teman memperkenalkanku kepada seekor tokoh monyet yang ia beri nama Cah Monkey lewat dunia maya.

Tidak lama setelah itu, aku dan sekelompok teman sudah tiba di sebuah tempat semacam hutan tempat dimana Cah Monkey dan kawanannya berada.

Awalnya semua berjalan baik-baik saja. Sampai seketika, seekor monyet menghampiriku, menyerangku, dan berusaha menggigit tanganku. Aku tidak tahu apakah itu Cah Monkey atau temannya, atau musuhnya. Tapi aww! Rasanya sakit sekali. Aku tidak mengerti apa yang membuatnya marah sehingga kemudian menerkam. Aku bermaksud memberi sinyal bantuan kepada teman-temanku.

Kemudian, sebagai permintaan maaf dan bentuk ajakan damai, salah seorang temanku berinisiatif untuk mengumpulkan semua orang. Di sana ada sebuah rumah yang cukup besar dan berlantaikan kayu. Kami mencoba membuat sambaran api dari rumah tersebut, membakarnya dari dalam. Umpannya adalah sebuah benda yang merupakan rumah si monyet yang menyerangku tadi. Monyet itu dibiarkan berada di dalam rumah besar dan dipastikan aman di dalam sana, tidak akan terbakar atau terkena api sedikit pun.

Sembari si monyet menyaksikan dari dalam kejadian di luar, setiap orang akan memegang sebatang kayu dan berdiri, bersiap persis di depan rumah kayu itu. Ketika apinya sudah mulai merembet keluar, kami menyalakan batang kayu kami dengan percikan api tersebut. Kemudian kami akan lari sekencangnya sampai di sebuah tujuan, yaitu tempat dimana kami akan menaruh batang kayu berapi yang kami bawa dan menjadikannya satu. Tujuannya adalah agar si monyet tadi melihat kalau kami berani berjuang untuk selamat dari kobaran api demi berdamai dengan dia.

Aku sesungguhnya amat sangat deg-degan dan sama sekali gagal paham. Aku selalu berpikir, apakah rumahnya nanti jadi tidak hangus? Bagaimana caranya monyet tadi tidak akan terkena percikan api setitik pun? Apakah kita akan selamat? Bukankah ini sangat berbahaya karena api akan merambat cepat dan memakan semuanya? Aku tidak habis pikir. Apa hubungannya dengan semuanya? Tapi ini semua karena salahku, salah karena aku yang jadi korban si monyet. Aku tidak punya solusi. Jadi aku menurut saja.

Permainan pun dimulai. Aku takut! Aku takut api. Menyalakan korek api saja aku waswas. Aku berdiri agak jauh. Aku ingin memerhatikan orang-orang dulu, baru kemudian menirunya. Api pun mulai dinyalakan. Setelah ia merambat keluar, aku bingung harus berbuat apa. Aku melihat ada yang langsung lari saja padahal belum menyalakan batang kayu yang dibawanya. Ya sudah aku ikuti saja, aku juga langsung lari. Lari secepat-cepatnya. Sekitar dua meter sebelum tiba di titik akhir, aku lagi-lagi mengikut cara seseorang yang mentransfer api dari batang kayu orang lain sehingga punyanya kini menyala. Aku. Melakukan hal yang sama.

Ternyata seharusnya itu tidak diperbolehkan. Aku curang. Tapi aku diam saja. Aku pun menyebutkan namaku ketika sampai di titik tujuan. Dua orang di sana memegang sebuah kain panjang yang dan menuliskan nama-nama yang telah berhasil membawa batang kayu berapi ke sana.

Semuanya berakhir di sebuah gedung sekolah, sekolah menengah pertamaku. Aku dan teman-teman perempuanku  mencari tempat untuk sholat. Namun ternyata para laki-laki sedang sholat Jumat. Akhirnya kami memutuskan keluar, cari tempat lain. Lewat depan sebuah masjid, ada yang memanggil. Ternyata sekelompok teman laki-laki kami. Mereka sedang isitirahat makan siang.

A: Makan apa?
B: Ketan Bakar
A: Ih ketan bakar kayanya enak ya pul!
C: Yuk beli yuk!

Iya. Ini mimpiku. Amat. Sangat. Absurd.
Terlalu absurd tapi aku masih lumayan ingat ceritanya.
Terlalu absurd hingga aku tidak tahan untuk tidak menuliskannya.

Take me, please!


atanasarah-240116

Mountain climbing and fly with air balloon had to become my dreams since about the last five years. Those are still unreachable. What should I do to make my dad believes on me and gives me (at least) a chance to go up there, standing on that mountain peak?

Is that really worth if I save my money, a lot of money, just to have an experience once in my lifetime to feel that sensation, touch the sky and clouds with the big, veeeeeryyy big, air balloon?

Take me, take me take me! Take me pleaseeee!

Please, God.

Rumah


image

Hampir seluruh hidup saya, saya habiskan di sini. Saya tidak lahir di kota ini. Namun, hanya selang beberapa hari saya lahir, saya sudah berada di sini. Saya tidak pernah keluar dari sini untuk jangka waktu yang lama.

Saya merasakan perubahan yang perlahan namun terus menerus di sini. Saya merasakan nikmatnya semangkuk bakso dengan harga tiga ribu lima ratus rupiah yang menjadi empat ribu rupiah, kemudian empat ribu lima ratus rupiah, sampai tiga belas ribu rupiah dari warung makan bakso yang sama di tempat yang sama. Saat masih sekolah dasar, saya pernah bayar dua ratus rupiah untuk angkot yang saya tumpangi dan saat ini saya harus merogoh kocek sebesar tiga ribu lima ratus rupiah untuk jarak tempuh yang sama.

Lingkungan rumah saya yang dulu sepi dan tenang saat ini dipenuhi bangunan, kios-kios, dan terutama warung kuliner di sepanjang jalan. Bisnis disini merambat cepat. Lahannya sudah hampir habis. Saya selalu merasa paling aman menyeberang jalan di jalan keluar rumah saya karena sangat mudah, karena (dahulu) sepi. Saat ini, meskipun bagi saya masih tergolong aman, saya harus lebih sabar dan berhati-hati karena jumlah kendaraan yang melaju mulai ramai.

Saya sempat trauma masuk ke dalam sebuah mini market dekat rumah saya karena pernah dituduh mencuri sebatang cokelat padahal saya tidak melakukannya, berpikir untuk mencuri pun tidak. Saat itu saya sangat kecewa dan tidak mau belanja ke sana lagi. Sekarang saya hampir setiap hari ke mini market tersebut. Pegawai yang waktu itu mencurigai saya pun sepertinya juga sudah lama tidak bekerja di sana.

Semakin tinggi jenjang pendidikan saya, perjalanan yang saya tempuh untuk ke sekolah semakin jauh. Namun semuanya masih belum keluar dari sini. Perkembangannya hanya dari jalan kaki, naik angkutan umum sekali, dan naik angkutan umum dua kali.
Saya sempat merasakan “ini seperti bukan rumah saya” ketika jalan rumah saya yang sangat khas dengan batu-batu berbentuk persegi kemudian berubah jadi aspal semua.
Saya pelanggan setia abang tukang kue ape, cakue, permen gulali, bakso tusuk, dan mainan bp-bpan yang sekarang tidak pernah lewat lagi depan rumah.

Itu hanya sebagian kecil. Banyak sekali perubahan.

Tapi ada beberapa hal yang tidak pernah berubah sampai saat ini. Salah satunya adalah hujan. Satu lagi adalah semuanya. Semuanya yang membuat saya merasa ada di rumah, tempat paling nyaman sedunia.

Pernah beberapa kali terlintas keinginan untuk pergi jauh, merasakan lingkungan baru, suasana baru, bertemu orang-orang baru. Untuk sekolah atau bekerja misalnya. Tidak hanya sekali saya merasa bosan dengan kota ini. Ide untuk mencoba tinggal di kota lain sudah cukup sering singgah di dalam kepala. Kenyataannya, sampai saat ini, saya selalu ditakdirkan untuk bersahabat dengan si kota hujan ini.

Pada akhirnya, saya merasa bahwa sudah seharusnya saya bersyukur. Bisa (hampir) setiap hari pulang ke rumah, tempat paling nyaman di dunia adalah suatu anugerah.
Jika pada suatu hari saya diberi kesempatan dan ditakdirkan untuk tinggal dalam waktu yang cukup lama di tempat lain.. saya pasti senang dan bersyukur. Tapi saya juga sangat yakin kalau pada saat itu saya akan merindukan Bogor.

Hidupmu untuk siapa?


Hidup ini bukan untuk orang tua, bukan untuk keluarga, bukan untuk orang lain. Hidup ini pasti dan selalu untuk Allah yang (semoga) atas kehendak-Nya mengalirkan kebaikan untuk Ayah, Ibu, kakak, adik, sahabat, mereka yang kita cintai, serta orang-orang baik lainnya yang pernah ada dalam hidup kita.

Topik pembicaraan yang berkualitas pada suatu siang di sebuah kedai kopi dengan seorang adik, mengingatkan kembali tentang makna hidup dan dekatnya kematian. Pertukaran pemikiran dan pemahaman yang kemudian menantang saya agar terus memperbaiki diri, meluruskan niat, melakukan semuanya karena Allah.

Untuk Digapai di 2016


Jika menulis impian bisa membuat saya untuk terus ingat, untuk selalu berusaha menggapainya, untuk selalu berdoa agar dikabulkan, maka saya akan menulisnya. Jika menuliskannya secara detail juga mampu membuat orang-orang yang membaca atau mengetahuinya ikut mendoakan, ikut mendukung, atau bahkan ikut membantu menyampaikan informasi yang saya butuhkan, maka saya tidak akan menjadi ragu untuk menulisnya.

Pencapaian yang (Insya Allah) akan dicapai oleh Atana Sarah Dinda Nadhirah di tahun 2016 Masehi

  1. Memperoleh skor IELTS resmi dengan angka minimal 7.0 dan nilai untuk masing-masing (Listening, Reading, Writing, Speaking) minimal 6.5
  2. Mendapatkan beasiswa penuh (mencakup biaya sekolah, fasilitas tempat tinggal, dan biaya hidup) untuk melanjutkan studi S2 di Australia atau London untuk jurusan studi Interaction Design atau User Experience Design
  3. Mendapatkan Letter of Acceptance dari University of Queensland (untuk studi Master Interaction of Design), University of New South Wales (untuk studi Master of Design), atau dari Kingston University London (untuk studi Master of User Experience Design)
  4. Bisa nyetir mobil
  5. Membaca minimal 24 buku
  6. Mengeksplor minimal satu kota atau negara yang belum pernah dikunjungi
  7. Berhasil menjual buku produksi GoodNote lebih dari 300 buah
  8. Olahraga rutin minimal 15 menit dalam sehari (mulai 16 Januari 2016)
  9. Hunting foto di taman-tamannya Bandung
  10. Menghabiskan minimal satu buku catatan untuk belajar tentang Interaction Design dan User Experience
  11. Menyelesaikan desain untuk GNID Planner 2017 paling lambat 1 Oktober 2016, membuat sample-nya sampai fix paling lambat 15 Oktober 2016, dan mulai membuka pre-order paling lambat 22 Oktober 2016, kemudian sampai 31 November 2016 jumlah pemesan sudah mencapai minimal 100 orang
  12.  Sembuh total dari dermatitis atopik.

 

Kalau membacanya kembali satu per satu, saya masih sulit percaya kalau masing-masing impian itu akan bisa saya capai. Saya masih meragukan kemampuan saya, pun saya masih merasa intensitas berdoa saya masih sangat minim. Tapi selama 22 tahun ke belakang, saya selalu dibuat percaya bahwa Tuhan saya selalu mendengar doa saya. Dia memberikan apa yang saya butuhkan, sebagian adalah yang saya inginkan, namun sebagian lainnya adalah yang saya tidak merasa pernah atau bahkan terpikir sedikit pun untuk menginginkannya. Tapi pada akhirnya saya selalu setuju bahwa hal-hal tersebut memang baik buat saya. Dan hampir selalu, iya, hampir selalu, usaha dan doa saya sebanding dengan hasilnya. Tuhan saya memang yang terbaik. Tuhan saya tidak pernah ingkar.