Kesenjangan


Malam ini gue menerima sebuah pesan dari seorang Ibu hebat yang punya sekitar 20an anak asuh. 

Rasanya. Jleb.

Barusan banget gue ngeluh gamau makan malem pake telor balado yang udah dimasakin nyokap hari ini. Alasannya karena tadi siang gue udah makan itu dan gue bosen. Akhirnya tadi gue beli sate padang.

Seringkali juga gue menggerutu karena ngerasa baju gue tuh itu-itu aja. Kayanya ga oke aja kalau tiap event pake bajunya itu lagi itu lagi. Lalu gue memutuskan buat beli baju baru.

Padahal nggak penting-penting amat juga kan selama baju gue masih match sama tema atau jenis acaranya. Siapa juga yang peduli. Atau bahkan siapa juga yang merhatiin baju gue baru apa engga.

Sekarang, gue mendengar kabar dari anak-anak SMP yang ke sekolah tapi masih pake seragam anak SD. Terus mereka pulang karena malu.

Ini wajar. Sangat wajar. Kalau gue jadi mereka bahkan gue bukan pulang ke rumah, tapi gue nggak akan mau berangkat sekolah. Iya lah malu. Mereka nggak salah. Yang salah adalah gue dan orang-orang mampu lainnya yang kurang peduli dengan sekitarnya.

Iya mungkin gue mesti sering-sering diginiin biar sadar. Biar matanya kebuka. Biar bisa nahan diri. Nahan hawa nafsu. Biar gue bisa sadar kalau instead of  belanja barang-barang yang gue suka padahal sebenernya nggak butuh-butuh amat, gue mending sedekah. Kecuali kalau di muka bumi ini semua orang udah kaya raya. Amin.

Interests vs Needs


Kalau bisa milih, gue sbenernya lebih suka banyak beraktivitas di luar yang bikin gue gerak ketimbang duduk depan layar. Sejujurnya gue lebih menikmati saat-saat gue jalan sambil hunting foto atau video (meskipun nggak pro). Atau pas gue lagi user research yang berinteraksi lansung dengan orang secara tatap muka, nggak yang lewat telfon atau virtual media lainnya. Gimana yah, kayak lebih ada energinya aja gitu. Atau ketika gue lagi gambar-gambar, ngelukis, ngewarnain. Yang ini ga terlalu banyak gerak sih haha. Tapi yaa lebih semangat gitu deh. Mungkin gue lebih kaya ke kombinasi kinestetik sama visual gitu kali ya.

Tapi kenyataan  sekarang, kemampuan yang gue mililki lumayan banyak yang berhubungan dengan dunia digital dan ditambah kebutuhan orang-orang yang melek teknologi dan punya skill di bidang ini pun lagi banyak-banyaknya.

Gimana sih rasanya kalau orang-orang di lingkaran lu, keluarga, temen, dan yang lainnya mengharapkan lu bisa ikut menyalurkan kemampuan lu buat ikut bantu kesuksesan mereka?

Gimana sih rasanya ketika lu tau tentang adanya berbagai masalah dari skala kecil sampe besar kaya yang udah menyangkut negara lalu pengetahuan dan kemampuan yang lu punya bisa sedikit-sedikit bantu mecahin masalahnya itu dan juga bisa ikut andil untuk implementasiin solusinya?

Gimana sih rasanya ketika lu udah punya modal untuk berbuat sesuatu yang bisa bermanfaat untuk banyak orang tapi malah nggak lu salurkan?

Sederhananya semacam ga mungkin kan kita nggak gatel buat bantu ketika orang sebelah kita nggak tau caranya pake tapping-card untuk masuk stasiun?

Ga mungkin kan gue diem aja dan mengedepankan ego gue yang bilang gue punya kegiatan lain yang lebih menarik dan asik buat gue sendiri?

Ga mungkin kan gue se-egois itu.

Sebaik-baiknya orang adalah yang memberi banyak manfaat buat banyak orang bukan?

Apresiasi


Seperti membaca komentar yang ditinggalkan anonim di postingan blog untuk berterimakasih atas tulisannya yang katanya berguna, minta alamat email untuk bertanya, minta dikirimkan file e-book tertentu, atau membagi source code suatu program.

Seperti membaca pesan pribadi di LinkedIn dari seorang yang tidak dikenal yang ternyata pembaca tulisan saya tentang topik tertentu dan mengajukan beberapa pertanyaan untuk didiskusikan.

Seperti ada orang tak dikenal  yang menambahkan saya sebagai teman Facebook nya, mengirim pesan yang behubungan dengan pekerjaan atau hal-hal yang saya minati. Memiliki ketertarikan yang sama dan menilai baik pekerjaan saya.

Seperti membaca direct message di Instagram dari entah siapa itu yang ternyata menyukai beberapa hasil karya saya. Ingin seperti saya katanya. Konsultasi mengenai desain, bikin bisnis, sampai motivasi.

Ada rasa heran, kaget, bingung sekaligus terharu ketika membaca pesan-pesan tersebut. Padahal saya tidak merasa lebih baik dari mereka. Apalagi kami be saling kenal, jadi tidak bisa menilai. 

Namun, poin utamanya adalah saya merasa bersyukur karena masih ada di antara hal-hal yang saya lakukan atau kerjakan, memiliki nilai positif di mata sebagian orang. Orang-orang yang menunjukkan apresiasinya secara santun dan memotivasi saya untuk terus berkarya dan menjadi lebih baik.

Terimakasih :)

Menilai orang lain


Lewat cerita dari teman, dari temannya teman, dari isu yang menyebar, dari sosial media, dan dari cuma dengar-dengar, saya tidak jarang menilai atau memberi kesan terhadap orang yang saya tidak kenal atau bertemu saja belum. Bisa positif, bisa juga negatif.

Namun, saat ini saya agaknya cukup menyesal.
Saya merasa harus lebih berhati-hati.
Apa yang saya dengar, belum tentu benar. Belum tentu juga salah.

Saya harusnya baru boleh menilai orang (yah, setidaknya untuk kesan pertama) ketika saya menyaksikan atau berinteraksi langsung.

Saya bisa saja berasumsi negatif kepada seseorang. Tapi, jika saya bertemu langsung dengan orang itu dan sikap serta perlakuannya terhadap saya begitu baiknya… apa saya masih bisa memberi penilaian tidak baik bagi orang tersebut? Ga mungkin. Saya anaknya gampang luluh. Wkwk.

Di sisi lain, ada kalanya saya berasumsi sangat oke terhadap seseorang kemudian orang itu memperlihatkan sesuatu yang di mata saya tidak baik. Apa yang harus saya lakukan? Jika berpikir positif itu sebuah keharusan, saya mestinya ingat kalau setiap manusia punya kekuatan dan kelemahan. Mungkin saat itu dia sedang ada di titik lemahnya dan tidak menunjukkan kelebihannya.

Baiklah, mungkin ini makna dibalik kalimat jangan suka bergunjing dan hindarilah gosip.