25 02 15


Besok hari penting. Besok pagi menjelang siang. Gue harus pake laptop buat besok. Di rumah ada 3 laptop. Mereka baik-baik saja tadi siang. Hawa-hawa negatif muncul menjelang sore. Tiap laptop punya masalah masing-masing. Sampai malam ini masalahnya nggak kunjung usai. Malah nambah masalah lain. Fisik gue harus istirahat buat besok. Tapi gue ngga tenang.

Entah kenapa mereka semua lagi kompak banget. Semesta juga kaya ikut ngedukung. Gue sampe mau nangis. Oke ini lebay. Tapi ini fakta.

Ya Allah. Ada aja ya bentuk-bentuk ujiannya. Manusia emang gampang ngeluh. Gampang khawatir. Gampang takut. Gampang sedih. Padahal mungkin Allah cuma mau liat seberapa besar usaha gue, seberapa baik sikap gue dalam menghadapi ujian (yang keliatannya) sepele ini.

Selamat tidur. Menjelang subuh akan gue hadapi lagi mereka. Mungkin mereka lelah.

Bismillah. Wish me luck :”

Friends vs Intensive Interaction


Setiap orang (hampir) pasti punya orang-orang terdekat. Kami menyebutnya teman. Lebih dalam lagi sahabat. Kebutuhan akan tempat yang mau mendengarkan semua ocehan, semua keluhan, untuk bertanya, meminta pendapat, bahkan untuk sekadar (saling) pamer dan mengejek. Pun halnya dengan gue.

Definisi? Lupakan. Gue lebih butuh praktek daripada teori untuk hal ini.
Gue juga punya orang-orang seperti itu. Gue nggak akan rutin, atau selalu, atau minimal sehari sekali, atau sering berinteraksi dengan mereka entah itu via sms, chatting, media sosial. Bahkan untuk cerita-cerita yang (menurut gue) penting atau seru, gue hanya kadang-kadang berbagi. Begitu juga dengan mereka, entah itu karena menyeimbangkan gue yang seperti ini, entah sama-sama seperti ini, atau apapun alasannya. Tapi untuk kabar atau hal-hal penting dan utama bagi masing-masing mereka, gue (insya Allah) selalu mengusahakan untuk update. Gue juga terkadang jadi yang memulai ngespam kok bahkan untuk hal-hal ngga penting yang nggak harus dibales.

Pertemuan. Buat gue itu penting. Ketika gue bertemu mereka, semuanya dikeluarkan. Semuanya diceritakan. Ada kepuasan dan kebahagiaan tersendiri ketika gue menceritakan, membicarakan, mendiskusikan, dan menertawakan banyak hal secara langsung dibanding harus mengetik panjang lebar lewat media elektronik yang terkadang apa yang disampaikan tidak sama dengan yang ditangkap penerima. Makanya buat gue, sesibuk apapun, menyempatkan ketemuan itu penting. Selain mengetahui kabar dan semua yang diceritakan, gue juga bisa melihat secara langsung dan memastikan kalau mereka baik-baik saja.

Semakin bertambahnya umur, friendship ini jadi sesuatu yang semakin priceless.
Terimakasih buat kalian yang mau dan bisa tetap ada di lingkaran gue. Kalian yang nggak marah kalo gue kadang bales chat singkat atau di-read doang. Kalian yang ngerti kalo itu bukan karena gue marah males atau kesel. Kenapa? Kalo kalian udah kenal gue pasti ngga perlu nanya. Yaa tapi kalo buat yang penting gue selalu bales kan :p Kalian yang nggak menuntut banyak. Gue yang nggak bisa dituntut untuk selalu intens menghubungi kalian. But it doesn’t mean you can’t contact me anytime. I’ll always available for your story, even if there’s only a ‘garbage’ stuff.

You still have dreams. Do you?


Hai. Apa kabar? Sibuk apa sekarang? Hari-harimu padat kah?
Bagaimana dengan daftar panjang impianmu? Masih ingat kah?
Apakah kamu masih menyisihkan waktumu untuk berjalan menujunya? Ataukah kiranya sekarang butuh berlari?
Masih menyala kah tekadmu?
Masih antusias kah membicarakannya?
Atau sudah kau lupakan semuanya?
Apa kamu rasa hidupmu sudah cukup dengan begini?

Aku rasa ini cara-Nya. Semua yang terjadi di luar rencanaku. Terimakasih Tuhan, telah mengingatkanku akan tujuan-tujuan besar dalam hidupku. Bukan sekadar mengingatkan aku punya tujuan. Tapi menegaskan bahwa aku harus bergerak menujunya. Aku sempat lupa atau bahkan pura-pura tidak ingat kalau ‘simsalabimabrakadabra’ nggak akan terjadi kepadaku. Terimakasih telah membuatku (mau tak mau) menyempatkan beberapa hal (yang mungkin tidak urgent saat ini tapi akan sangat berpengaruh di masa yang akan datang) untuk (setidaknya) tidak berhenti.

Aku belajar tentang perjuangan lagi lewat orang-orang yang Engkau kirimkan belakangan hari ini. Ternyata peribahasa berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian nggak lekang oleh waktu ya :)