Doodle Time!


Setelah sekian lama terpikir untuk ngadain workshop, akhirnya jadi juga kelas perdana gue dan @hasdevidradjat! :D

Awalnya rada ngga pede dan harap-harap cemas: ada ga yaa yang mau ikutan. Muter otak gimana caranya budget yang dikeluarkan peserta bakal sebanding sama apa yang mereka dapet. Dengan waktu yang cukup mepet dan berbagai kendala seperti jumlah peserta yang kurang dari target, lokasi harus pindah, beberapa calon peserta yang tiba-tiba ngga bisa hadir, sampai sakit di hari-H, so far hasilnya cukup memuaskan. Gue sama depong bertekad apapun yang terjadi dan berapapun pesertanya, pokonya harus jadi! Kami tau pasti banyak kekurangan, tapi alhamdulillah feedback dari teman-teman peserta sangat positif.

Gue juga bersyukur karena dengan segala keterbatasan saat itu, ada bala bantuan dari keluarga, dencong, dan irfan yang dengan sukarela ikut ngangkat-ngangkatin meja, kursi-kursi, pindahin papan tulis, foto-foto, dan ikutan ngasih contoh doodle versi mereka. Pesertanya juga baik bangeet, naro piring abis makan ke dapur sendiri, ambil minum sendiri, dll 😂

Bahkan ninis, cims, dan kims yang berkunjung sore & malam ke rumah ikutan repot kebagian beresin sisa barang.

Maaf yaa hari itu gue banyak bikin repot dan jadi segala self service (pasti dimaafin). Terimakasih banyak! Untuk semua dukungan, apresiasi, waktu yang berkualitas, dan banyak hal menyenangkan lainnya. I am nothing without you all! 😘

Tentang Penolakan


Gue yakin kalau setiap orang di dunia ini pernah mengalami penolakan. Dalam bentuk beraneka ragam. Dari mulai ditolak sama sekolah atau universitas buat belajar disana, ditolak saat ngelamar kerja, ditolak saat minta orang lain nemenin kita jalan, ditolak nyokap pas minta beliin mainan atau baju baru, ditolak pas kita ngajuin sponsor buat ngadain suatu acara, ditolak buat daftar jadi panitia acara atau relawan (mau jadi relawan aja ditolak!), ditolak ade atau kakak pas kita minta masakin mie instan atau cuma ambilin minum, ga dikasih izin sama bokap pas bilang mau ikutan naik gunung, atau mungkin sampai ditolak cintanya 😜💔

Gue bahkan pernah ditolak oleh seorang lelaki tua (mungkin kalau beliau saudara gue, bisa gue panggil kakek) yang kelihatannya (maaf) kumuh dan sangat membutuhkan uluran tangan. Gue cuma mau kasih uang sedikiiit aja buat apa gitu, beli makan. Eh gue ditolak…. Ternyata doi jualan, malah nawarin dagangannya ke gue sedangkan gue ngga paham beliau jualan apa. Tapi satu yang gue pahami di hari itu adalah, sang kakek punya harga diri yang sangat tinggi. Berhasil bikin gue ngerasa kalau gue nggak boleh meremehkan atau merendahkan orang lain, meskipun di mata gue orang itu kasian. Nyatanya orang itu gamau dikasihanin.

Penolakan itu hal biasa. Ditolak dan menolak itu wajar. 24 tahun gue hidup, gue udah makin terbiasa. Udah nggak baperan lagi kalau ditolak buat ikutan sesuatu, pengen sesuatu, atau minta tolong sesuatu.

Pasti ada rasa kesel atau sedih pas ditolak, tapi yaudah. Yaa jalanin aja, hadapin aja semuanya. Toh gue juga bukan orang yang bisa menerima semua permintaan orang lain. Setiap penolakan selalu punya alasan bukan? Atau yaa minimal sebagian besar punya alasan. Alasan yang harusnya bisa kita jadikan pelajaran.

Makin kesini gue makin yakin aja kalau semuanya memang udah diatur. Dari mulai dimana gue tinggal, sekolah, kerja, siapa aja yang bakal ada di lingkaran gue, siapa jodoh gue, makan apa gue hari ini, sampai apa dan siapa aja yang bakal sengaja atau nggak sengaja gue temuin besok.

Well, gue sedang menata kembali target, mimpi-mimpi, doa, dan pengajuan-pengajuan lainnya, yang mungkin peluang penerimaannya hanya 1 dari 100. Gue siap dengan segala bentuk penolakan, tapi gue jauh lebih siap untuk menjemput penerimaan-penerimaan yang baik.

Karena gue selalu percaya, bahwa sesuatu yang baik untuk kita pasti akan diberikan dan dimudahkan jalannya (cepat atau lambat) dan sesuatu yang memang bukan untuk kita, pasti akan diajuhi dari kita, bagaimanapun cara-Nya.

Manusia bermanfaat?


Pernah ngga lo tengah malem ngerasa galau gimana caranya buat diri lo jadi orang yang bermanfaat buat (banyak) orang lain?  Pasti sering.

Malem ini, otak gue flashback ke apa yang gue lakuin seharian dari pagi. Men! Banyakan useless nya. Target apa yang harus gue selesain hari ini kontras banget sama kenyataannya. Gue ngerasa jadi orang paling males dan nggak guna. Seakan-akan yakin hidup gue masih panjang. Banyak waktu kebuang cuma buat bermager-mager ria dan scrolling instagram, dikit-dikit mainan layar kaca 5 inci.

Padahal, ada banyaaaaak banget yang mau gue capai. Malam ini, gue nyari trigger buat bikin gue “hidup” lagi. Mau tau apa salah satu trigger yang berhasil bikin gue sadar lagi?

Ngaji! Serius.

Habis ngaji otak gue kayak dilurusin, hati gue dibuat lebih tenang, gue jadi inget sama dosa-dosa gue. Habis itu, gue dipacu buat jadi orang baik yang bertakwa dan bermanfaat buat banyak orang. Gue ditembak lagi pertanyaan tentang buat apa gue hidup di dunia.

Kegalauan gue bertambah ketika sadar kondisi finansial gue lagi jelek. Minus coy! Gue ngutang, ke GoodNote. Untung ke GoodNote, jadi yang nagih gue sendiri hahaha. Terus gimana caranya gue bisa kasih sesuatu ke orang lain kalau gue sendiri aja kondisinya masih kaya gini?

Di sebuah blog, gue baca tentang kisahnya Bilal, dia miskin, tetapi Rasulullah selalu menganjurkannya untuk nggak lupa bersedekah.

Lalu gue disadarin lagi, kayanya belakangan ini gue agak jarang sedekah. Gue seakan lupa, kalau memberi manfaat nggak harus berupa uang atau materi.

Gue bisa kasih barang yang di gue ga kepake tapi mungkin dibutuhin orang lain. Gue bisa aja nulis atau posting sesuatu yang baik, menginspirasi, atau membantu orang lain untuk mendapat rezeki atau kebahagiaan. Gue bisa kan sumbangin waktu atau tenaga gue buat bantu siapa aja gitu? Gue punya otak, punya ilmu, punya kemampuan dan keterampilan yang bisa gue optimalin potensinya buat ngasih dampak positif ke lingkungan gue. Sekadar bikin orang seneng juga sedekah bukan?

Ada banyak cara, tan. Menjadi bermanfaat tidak serumit itu.

Tapi, mau sehebat dan setajir apapun, lo ga bakal bisa jadi orang yang bermanfaat tanpa pamrih kalau di diri lo ngga ada satu hal ini: kepedulian.

28


fam2

Kita tak pernah tahu
Berapa lama kita diberi waktu
Jika aku pergi lebih dulu
Jangan lupakan aku
Ini lagu untukmu
Ungkapan terima kasihku

Lambang monokrom hitam putih
Aku coba ingat warna demi warna di hidupku
Tak akan ku mengenal cinta
Bila bukan karna hati baikmu

(Monokrom, Tulus)

Be kind to one another


 

Belakangan ini gue lebih memilih nonton YouTube daripada baca. Kecenderungan visual gue lagi di level yang tinggi. Awalnya gara-gara mau tes IELTS dan nemu channel yang pas banget buat latihan listening. Mencoba untuk membiasakan diri denger ocehan orang-orang berbahasa ‘asing’. Gue suka nonton TED, tapi terus-terusan agak bosen juga. Pernah ada yang rekomendasiin Jimmy Fallon. Yaa, cukup menghibur. Terus ada rekomendasi dari YouTube ke channelnya The Ellen Show. Udah lama nangkring di recommended videos tapi ga pernah gue tengok. Sampai sekitar seminggu lalu gue mulai tonton dan malah keterusan.

Keseluruhan isinya cukup menginspirasi, di luar sesi ngobrol bareng artis dan orang-orang terkenal lainnya, dia sering menjadikan  anak-anak dan “orang asing” sebagai bintang tamunya. Anak-anak yang diundang spesial. Bayangin anak-anak kecil ini lucu banget! Di usia sekitar tiga sampai belasan tahun, ada yang udah hafal tabel periodik, ada yang jadi surfer profesional, ada yang paham banget segala hal tentang kepresidenan (khususnya di US), yang punya perusahaan recycling, nyiptain tangan superhero, main piano level dewa, nari robot, expert di bidang geografi, dan lain-lain.

Orang-orang baik yang diundang literally emang mereka yang baik. Sekecil apapun kebaikannya. Anak kecil sampai orang dewasa, guru, tentara/anggota militer, nanny, pak pos, dan lain-lain dari mulai yang nyelamatin orang saat kebakaran, donorin organ tubuhnya, anak autis yang bisa dapet pekerjaan sebagai barista, guru yang nabung dan pake uang pribadi buat kebutuhan murid-muridnya, pejuang kanker yang jadi beauty blogger, ibu single fighter yang punya anak asuh lalu kehilangan pekerjaan, anak kecil yang nemu uang terus dikasih ke keluarga tentara + surat yang ditulis sebagai ungkapan terimakasih kepada tentara, segelintir orang di satu sekolah yang berjuang keras buat membasmi bully (fyi sempat ada kejadian seorang anak yang meninggal karena kasus bullying) sampai seorang perempuan yang melakukan kebaikan kecil-kecil tapi konsisten setiap hari.

Orang-orang itu biasanya diketahui dari media sosial atau surat yang dikirim orang lain ke Ellen. Penulis suratnya yang menjelaskan kondisi mereka dan kenapa mereka pantas diapresiasi. Selain itu, penulis merasa bahwa dunia perlu tahu tentang cerita mereka. Dunia butuh contoh, contoh yang baik. Di penghujung acara, biasanya bintang tamunya dikasih hadiah dalam bentuk uang, barang, atau tiket perjalanan ke tempat impian mereka. Ellen DeGeneres menginisiasi campaign #beKindtoOneAnother dengan harapan semua orang saling bersikap baik satu sama lain dan menyebar kebaikan tersebut.

Meskipun gue ngga setuju atas pilihan pribadi Ellen yang mendukung LGBT (ya, dia juga gay dan sudah resmi menikah), tapi gue bisa ambil beberapa pelajaran bagus dari acara talk shownya:

  • Teknologi udah sangat maju dan ngasih dampak yang besar. Lewat hashtag #beKindtoOneAnother, tercipta semacam snowball effect yang mengingatkan dan menginspirasi banyak orang untuk berbuat baik. Kita tinggal posting sesuatu di sosial media, atau kirim email tentang satu kebaikan, lalu seluruh dunia tau. Dari sana juga lah Ellen menemukan banyak orang baik yang akhirnya menjadi bintang tamunya dan berbagi cerita inspiratifnya kepada jutaan penonton. Pihak sponsor juga kemudian menemukan saluran untuk memberikan donasi kepada mereka yang berhak dibantu atau pantas diapresiasi.
  • Kita nggak harus melakukan sesuatu yang besar untuk membuat dunia jadi lebih baik. Kita ngga wajib kaya raya, ngga harus bikin perusahaan, ngga harus sekolah tinggi hanya demi alasan ingin bermanfaat buat orang lain dan mengubah dunia. Kita cuma perlu peduli dan nggak egois.
  • Mengapresiasi itu penting. Gue setuju kalau kita ngga boleh berharap untuk dipuji, dikasih hadiah, atau bentuk apresiatif lainnya. Tapi, menunjukkan penghargaan atau memberikan apresiasi (apapun bentuknya) kepada mereka yang memang pantas, itu sesuatu yang mudah untuk dilakukan dan memberi dampak positif bagi si penerima maupun pemberi. Jadi, kenapa tidak?
  • Semua orang punya hak yang sama atas kehidupan yang layak, pendidikan, perut yang tidak lapar, keamanan, dan pengakuan masyarakat. Jangan meremehkan siapapun. Kita nggak bakal tahu ke depannya siapa bakal jadi apa dan kita nggak akan pernah tahu secara pasti hidup orang lain dan apa aja usaha yang dia lakukan untuk menciptakan kebaikan.
  • Kita boleh tidak setuju atau tidak suka dengan apa yang dilakukan orang lain. Tapi tidak perlu membenci orangnya. Dan bersikap sportif lah, jangan sampai ketika orang itu berbuat kesalahan/ sesuatu yang menurut kita salah, kita berkoar-koar dan menyebarkan keburukannya. Namun ketika ia berbuat sesuatu yang positif, malah diam saja.

 

So, let’s be kind to one another! Everyday, everytime :)