Langka


Bangun dini hari

Sholat malam

Ngadu ini itu sama Yang Maha Kuasa

Mandi sebelum sholat Subuh

Segelas lemon hangat

Semangkuk buah dan sayuran

Nonton TV sebentar

Berpakaian rapi

Keluar rumah

Makan di warung nasi uduk

Naik angkutan umum

Tanpa tujuan

Akhirnya berhenti di sebuah taman

Sambil baca novel

Udara masih sejuk

Suasana masih tenang

Asik dengan pikiran sendiri

Mencoba melupakan segala hal sejenak

Pekerjaan, ambisi-ambisi duniawi

Hhh

Sudah langka dalam setahun belakangan

Kondisi yang sulit digambarkan

Kondisi dimana setiap malam gabisa tidur sampai nyaris Subuh dan waktu tidur bergeser ke pagi hari

Kondisi dimana mau keluar ribet mikirin pake baju apa dan nanti makan apa

dan masih banyak lagi

Meskipun belum benar-benar berakhir

Setidaknya semakin membaik

Dan mencoba berlaku seakan semua keadaan sudah kembali normal

Sudah baik-baik saja

adalah bagian kecil dari berdamai dengan diri sendiri

meyakinkan diri bahwa semuanya akan segera baik-baik saja

mengingatkan diri

bahwa fase kehidupan akan selalu berjalan dan berbelok-kelok

dan pasti akan ada pelangi sehabis hujan reda :)

Advertisements

:)


Adalah ibumu yang rela melakukan apa saja untuk kebaikanmu.

Total


Ketika kamu mencurahkan seluruh energimu untuk meraih sesuatu, alam semesta seakan ikut mendukungmu.

Bukan menjadi mudah jalannya, tetapi justru biasanya ada saja rintangannya. Namun ketika kamu memutuskan untuk tidak menyerah, tiba-tiba ada saja hal-hal yang tidak kamu sangka akan terjadi. Hal-hal yang akan membawamu sampai tujuan.

Saat itu terjadi, bibirmu kemudian hatimu seolah tidak akan bisa berhenti mengucap syukur.

Untuk apa-apa yang kamu inginkan, kerahkan energimu secara total. Jangan setengah-setengah.

Sudah bersyukur?


Kalau ada orang(-orang) yang tahu jelek-jeleknya kamu, kekurangan-kekuranganmu, keburukanmu, sisi-sisi negatifmu..

tapi masih tetap ada di lingkaranmu dan memperlakukanmu dengan sangat baik.

Berusahalah untuk setidaknya bersikap dua kali lebih baik darinya.

Itu salah satu rezeki yang perlu disyukuri bukan?

Recovery


Sudah hampir 2 minggu gue cuma di dalem rumah aja. Buat gue yang anaknya nggak bisa diem, sejujurnya, meskipun tidak terlihat, ini cukup berat, membuat gue mudah bosan, bad mood, dan kehilangan energi positif.

Ada kondisi dimana gue harus seperti ini, anteng ga kemana-mana.

Tau nggak apa yang beberapa bulan kemaren gue inginkan?

Kerja kantoran.

Apalagi setelah tahu bahwa gue gagal lolos seleksi beasiswa yang pernah gue ajukan untuk lanjut studi.

Kalau masalah tipe kaya itu sih, udah nggak begitu ‘lebay’ lagi but gue untuk bisa nerima.

Yang jadi pikiran adalah, selain sambil usaha cari jalan lain untuk lanjut kuliah, lalu gue mau ngapain?

Dan memang gue sangat ingin kerja kantoran.

Gue pun coba melamar kerja dan sampai akhirnya gue diterima! Gue adalah orang yang cukup selektif untuk memilih dimana gue mau bekerja dan akan jadi apa gue. Sebelumnya gue riset dulu tentang perusahaan tempat gue melamar kerja, kepoin foundernya, nonton talks dia di YouTube, dan sebagainya yang bikin gue ngerasa… Gila! Gue mau banget perusahaan ini tumbuh dan berkembang jadi makin bagus.

Makanya gue senang saat tahu gue diterima.

Namun, atas beberapa hal yang nggak bisa gue jabarkan disini, bokap gue nggak sepenuhnya setuju dan akhirnya gue cancel tawaran pekerjaan itu. Sesungguhnya amat sangat ngga enak ketika gue menolak padahal gue sendiri yang ngelamar.

Satu dua bulan kemudian, gue berpikir lagi untuk melamar kerja.

Kan ada GoodNote tan?

I know! Dan itu juga selalu jadi pertimbangan gue ketika ingin melamar kerja.

Tapi, selain untuk alasan dapet penghasilan tetap, gue sedang membutuhkan lingkungan yang mentrigger gue buat jadi versi terbaik gue. Belakangan gue merasa kekurangan hal-hal seperti itu, orang-orang yang bisa “memotivasi” gue dari apa yang mereka lakukan dan mereka dekat dengan gue. Semacam yaaa lo itu gambaran dari 5 orang yang paling sering bareng sama lo.

Dan gue merasa akan menemukan itu di tempat kerja “incaran” gue.

Tapi memang ya. Apa yang kita inginkan dan kita rasa kita butuhkan belum tentu apa yang memang sebenarnya kita butuhkan.

2 minggu ini kondisi gue mengharuskan gue untuk nggak keluar kemana-mana. Oke, ada masalah kesehatan. Dan… kalau aja gue sebulan 2 bulan lalu beneran ngantor. Mungkin kondisi ya sekarang akan lebih parah.

Dan masalah penghasilan, hey, rezeki itu emang ngga akan kurang atau lebih.

Kesimpulannya, sekarang gue seperti ditunjukkan oleh Allah alasan-alasan dibalik kenapa beberapa keinginan gue sangat sulit dijangkau atau tidak terjadi dengan cepat atau bukan saat ini. Contohnya, seperti keinginan gue untuk lanjut sekolah di luar negeri.

Hari ini diri gue, fisik gue, mental gue, seolah ngomong ke gue sendiri kalau lo tuh belum siap tan! Ada beberapa hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Sederhananya, kalau belum lulus SD, lo gabisa masuk SMP.

Namun di perjalanannya, ada banyak hal yang amat sangat gue syukuri. Gue banyak belajar. Tentang hubungan dengan keluarga, teman, dunia kerja, ambisi, tanggung jawab, sabar, rezeki, bersyukur, dan lain-lain sampai keikhlasan.

Pada akhirnya, gue sadar kalau selama ini gue kurang bersyukur. Dengan kondisi gue yang seperti ini, ternyata gue masih bisa beraktivitas dengan baik. Gue bisa tetap bekerja walaupun nggak ngantor, bisa tuh bolak-balik Bogor-Jakarta dan berkesempatan jadi peserta inkubasi 1000 startup digital. Gue mengerti kenapa Allah bantu gue untuk punya skill yang memungkinkan gue untuk bisa kerja dari rumah, bahkan menghasilkan uang dari situ.

Sabar. Sabar itu katanya nggak mudah tapi ya memang begitu. Sabar itu bukan diam saja tapi sambil berusaha sebisanya. Gue anaknya emang suka nggak sabar dan keras kepala, terutama kalau udah ada maunua dan keukeuh pengen ngewujudin apa yang gue mau.

Sabar, tan. Suatu saat akan datang waktu dimana lo bisa ada di titik yang selama ini lo bayangkan. Kalaupun tidak, lo bakal ada di posisi lain yang pasti lebih baik dari apa yang lo pikirkan. Akan datang kondisi dimana lo bisa bebas mau ngapain aja, mau kemana aja, dan mau makan apa aja. Tapi ya sabar. Kata ayah juga kan, sabar itu pasti ada hasilnya.

Ah ya! Gue juga hampir kehilangan rasa optimis dan percaya diri.

Untung cuma hampir.

#BantuIbuEka


Ini cerita tentang Ibu Eka.

Ibu Eka, adalah seorang ibu 1 anak yang tinggal di daerah Ciawi, Kabupaten Bogor.
Sudah lama ditinggal suaminya dan anak satu-satunya mengadu nasib di Jakarta, Bu Eka menyibukkan hari-harinya dengan menjadi ibu asuh bagi anak-anak di sekitar rumahnya. Sebagian anak-anak ini merupakan anak yatim, ada juga yang masih memiliki orangtua namun hidup dalam kondisi penuh keterbatasan. 

Bu Eka selalu merangkul mereka semua yang datang ke rumahnya dengan menyediakan makanan, menyediakan alat-alat tulis, alat gambar untuk anak-anak bermain, dan juga mengajarkan mereka sholat dan mengaji. Sifat bu Eka yang penuh kasih membuat anak-anak terus berdatangan ke rumahnya selepas mereka sekolah atau membantu orangtuanya masing-masing bekerja.

Ibu Eka sendiri sudahlah tidak muda, dan tidak memiliki penghasilan tetap. Berbagai cara dilakukan Bu Eka untuk menyokong hidup, salah satunya dengan berjualan bunga yang dibuat dari kain-kain sisa.

22154638_10214192989889574_4459569210786961457_n
Saya, dan teman-teman alumni Ilmu Komputer 47 IPB, ingin bergerak membantu bu Eka. Untuk itu, kami menawarkan teman-teman yang ingin membeli bunga-bunga di atas, atau yang ingin memberikan sarannya dalam rangka membantu Bu Eka, agar jangan segan menghubungi kami 🙂

Klik di sini yuk buat bantu Ibu Eka! :)