Mulailah dengan yang baik


Mulailah sesuatu yang baik dengan hal-hal yang baik.

Beberapa hari ini gue mencoba melakukan rutinitas-rutinitas kecil. Menginstall aplikasi alarm baru yang noisy banget untuk bisa bangun jam 4 setiap hari, memilih untuk turun angkot di depan balai kota dan berjalan kaki ke stasiun, melakukan sholat dhuha setiap sampai kantor, dan melakukan cara yang sama dengan berangkat ketika pulang dari stasiun.

Oke, hal-hal sederhana itu bukan sesuatu yang luar biasa. Itu biasa. Sangat biasa untuk sebagian orang. Pernah juga biasa bagi gue sendiri. Tapi sejak entah berapa tahun lamanya, itu bukan sesuatu yang biasa buat gue. Terakhir kali gue rajin banget sholat dhuha seinget gue adalah ketika gue kelas 3 sma, yang lagi berjuang untuk kelulusan dan kelanjutan kuliah.

Kalau boleh jujur, sebenarnya salah satu pemicunya memang dari kegelisahan gue tentang banyak hal, terutama masa depan dan pekerjaan, yang nggak berhenti-berhenti menuhin isi kepala. Bukan tentang seberapa banyak yang harus dikerjakan, seberapa jauh, atau seberapa besar gajinya. Tapi dalam sudut pandang yang lebih luas dan untuk jangka waktu yang lebih panjang. Banyak hal.

Di awal hanya untuk melepaskan semua beban, membuat pertemuan-pertemuan rahasia dengan Sang Pencipta selalu bisa menenangkan. Selalu bisa menumbuhkan energi positif.

Saat ini yang gue butuhkan hanya ketenangan, dalam berpikir maupun bersikap. Tidak terburu-buru. Gue belum tahu ke arah mana setelah ini gue harus melangkah. Gue mau mencoba membuat semuanya jadi sederhana. Sesederhana melakukan hal-hal kecil yang baik secara konsisten untuk mendapatkan apa yang memang paling baik.

Pintar


Semakin merasa gue jauh dari pintar. Pintar dalam hal akademik, pengetahuan, menjadi anak yang baik, kakak yang baik, adik yang baik, teman yang baik, pekerja yang baik, mengatur waktu, mengatur keuangan, berkomunikasi, bergaul, mengelola emosi, menjaga dan meningkatkan kualitas diri.

Ya Allah, aku mau jadi anak pintar.

kapan selesainya?


Saat itu sekitar jam 9 pagi, aku sedang membaca sebuah novel

ibu: “mandi sana, desain pesenan ibu kapan dibuat?”
aku: “iya, sebentar.”

Sekitar jam 10 pagi
abang: “mau ikut nggaaaa? tapi jam 11 harus udah berangkat.”
aku: “kemana?”
abang: “nonton avengers.”
aku: “mandi ah.”

ibu: “nonton aja langsung mandi. pesenan ibu kapan selesainya?”
aku: “iya tenang aja.”

Sekitar jam 8 malam.
Aku lupa. Software desain yang aku gunakan masih versi trial.
Masa trialnya sudah habis.

Sekitar jam 8.30 malam, di dapur.
ibu: “ngapain?”
aku: “lagi bikin cupcake .”
ibu: “punya ibu kapan dibuatnya?”
aku: “software yang dipake abis trial-nya, masih install ulang.”

Sekitar jam 11 malam.
Aku sedang menyiapkan rancangan dasar website yang akan ditunjukkan besok siangnya.

Punya ibu kapan selesainya ya?

Oke. Janji. Aku usahakan secepatnya.
Maafin aku, bu.

Hehe.