New Chapter


Terlalu banyak cerita di 2016. Terlalu banyak hal yang terjadi tanpa rencana, di luar dugaan, dan berlawanan dengan ekspektasi atau pun keinginan.

Maafkan hamba karena masih sering lalai dan mengeluh.

Capek, Ya Allah :”)

Tapi terimakasih karena pada akhirnya selalu ada rasa syukur dan bahagia dibalik segala kelelahan. 

Setelah dijalani, dirunut, dan dipikirkan, aku mulai paham perlahan-lahan kenapa Allah menempatkan aku di sana, di sini, mempertemukan aku dengan siapa-siapa, memperkenalkanku dengan hal-hal baru, mengarahkanku untuk melakukan ini dan itu. 

Ketika dijalani, seringkali segala hal tersebut belum aku ketahui apa gunanya, apa tujuannya, dan kenapa harus aku hadapi. Namun secara perlahan, lagi-lagi Allah berhasil membuat aku terharu. Apa-apa yang diberikan dan dikirimkan kepadaku nilainya tak terhingga. Memang beginilah jalan yang harus aku tempuh. Skenario-Nya selalu sulit ditebak dan terasa indah pada waktunya. 

Terimakasih Allah. Terimakasih banyak. Untuk lindungan-Mu, rezeki-Mu, orang-orang yang Kau pertemukan denganku, beragam masalah dan tantangan hidup, dan segalanya yang tidak akan bisa diuraikan satu per satu. 

Ya Allah, ada kejutan apalagi setelah ini? :)

Tuntun aku Ya Allah, untuk tetap menjadikanMu sebagai alasan dan tujuan untuk memutuskan dan melakukan segala sesuatu. 

GNID Planner 2017


Ya, Allah. Ketika pertama kali pegang buku yang udah jadi ini, di percetakan, rasanya kaya mau nangis. Makasih Ya Allah, masih diberikan kesempatan buat merasakan nikmatnya melihat hasil karya dari jerih payah diri sendiri. Senengnya bukan main ketika bukunya belum jadi aja udah banyak yang nanyain. Terharu sama respon orang-orang. Tapi juga agak sedih karena ngga bisa tepat waktu.

Semoga bermanfaat bagi mereka, pelanggan-pelanggan baik yang inshaa Allah terbantu mewujudkan apa-apa yang ingin dicapai lewat buku ini. 

2017 udah deket banget ya. Nggak kerasa :”

Liburan


Orang-orang ini obrolannya ngebahas tiap weekend mau ngapain. Rencana jalan-jalan mulu tapi seringnya jadi wacana. Udah rapat buat bikin projek tapi sampe sekarang belum dikerjain. Pada sok kurang kerjaan deh. Wkwk. Akhirnya kesampean juga yah kita liburan sebelum tahun baru. Meskipun cuma ke PIK yang di Jakarta tapi aku bahagia kok 😁

Cuma ke kamu, ya.


“Gue cuma cerita ini ke lo aja, ya.”

Ketika mendengar kalimat seperti itu, berterimakasihlah. Dari sekian banyak orang, kamu yang dipilih. Kamu yang paling dipercaya. Jaga kepercayaan itu sebaik-baiknya. Sekali saja kamu membeberkan apa yang seharusnya disimpan rapat, orang itu mungkin tidak akan datang lagi.

Terimakasih atas kepercayaannya. 

Seperempat


Mereka menyebutnya quarter life. Masa-masa transisi dari remaja menuju dewasa. Masa-masa luar biasa yang penuh pertimbangan dengan segala macam resiko. Masa-masa menyiapkan dan mematangkan diri untuk bisa mandiri dan membangun kehidupan baru.

Iya, saya pun sedang mengalaminya. Masa-masa dimana Ibu saya mulai ‘rewel’ membahas jodoh. Masa-masa dimana mulai banyak permintaan desain untuk undangan atau souvenir pernikahan teman. (Sst bonusnya, saya jadi lebih tahu duluan tanggal nikah teman-teman :p). Masa-masa dimana isi obrolan dengan teman juga nggak jauh-jauh dari pasangan hidup.

Hal yang normal. Sekaligus menjadi tekanan tersendiri bagi sebagian orang yang jadi nggak sabar untuk dipertemukan dengan jodohnya karena terus-terusan mendapat kabar bahagia dari lingkungan pertemanannya. Siapa pun pasti mengalaminya.

Tidak bisa dipungkiri kalau saya juga pernah merasa khawatir dan penasaran. Mengingat kualitas dan kapasitas diri yang sangat jauh untuk dibilang bagus. 

Namun saya selalu percaya dengan segala rencana dan ketetapan Yang Maha Kuasa. Semua ada waktunya bukan? Cerita hidup kita sudah tertulis semua.

Saya setuju manusia boleh berkeinginan, boleh berharap, boleh berimajinasi, boleh menyukai siapapun, boleh mengusahakan apa pun yang diinginkan, dengan cara yanh baik-baik. Tapi saya tidak pernah sepakat dengan kata memaksa. Memaksakan apa yang memang bukan untuk kita menjadi harus bersama kita itu… doesn’t make sense. 

Dalam ajaran Islam kita diberitahukan kalau jodoh itu adalah cerminan diri. Yang baik untuk yang baik, dan sebaliknya.

Jadi, apa yang bisa saya lakukan sekarang, jika ingin mendapatkan yang baik, ya saya belajar dan berusaha untuk menjadi baik. Dalam hal apapun. Saya pernah membaca kalimat yang isinya:

Berperilakulah seperti bagaimana kamu mengharapkan orang lain memperlakukanmu. 

Jadilah seseorang yang kamu sangat ingin bertemu dengannya.

Saya setuju dengan pernyataan tersebut. Apa yang kita tanam, itu yang kita tuai.

Allah tidak pernah salah bukan?

Termasuk dalam urusan memasangkan hamba-hamba-Nya.